← Cerita
Diary·Australia·25 Agustus 2025·2 menit baca

Dari Kemah di Hutan ke Ulladulla: Bunga, Sahabat, dan Awal yang Baru

Pagi di Tengah Hutan

Aku terbangun pukul 7 pagi di hutan Termeil. Suara burung dan cahaya lembut yang menembus dedaunan membuat pagi itu terasa tenang dan lembut, seolah aku sedang didekap oleh pelukan alam. Tujuanku hari itu adalah Ulladulla, jarak yang tidak terlalu jauh dan menurut peta tanpa tanjakan besar. Aku berangkat dengan hati ringan, dan turunan panjang yang tak terduga dengan cepat membawaku melaju ke depan.

Singgah di Tepi Danau

Perhentian pertamaku adalah Lake Tabourie. Ada sebuah toko kelontong kecil di tepi danau, dan yang melegakan, di sana juga tersedia tempat untuk mengisi daya perangkatku. Dalam perjalanan berkemah liar seperti ini, pertanyaan "kapan lagi aku akan menemukan listrik?" selalu ada di benakku. Bisa mengisi daya di sini memberikan rasa aman yang mendalam.

Ride South Coast dan Tawaran Baik Hati

Memasuki Ulladulla, aku disambut oleh serangkaian tanjakan curam. Setiap tikungan menyingkap tanjakan atau turunan baru, dan aku tertawa sendiri, "Jadi ini ujian hari ini."

Salah satu tujuanku di kota ini adalah mengunjungi Ride South Coast, toko sepeda yang direkomendasikan kepadaku sejak di Melbourne. Di dalam, sang pemilik, Mick, menyambutku dengan hangat, dan kami pun segera terlibat percakapan. Tak lama kemudian, ia mencondongkan badan dan berkata, "Wombat bisa menampungmu malam ini." Dengan ramalan hujan yang akan turun, kabar ini terasa seperti berkah sejati.

Pai Terkenal dan Berjalan Menyusuri Kota

Mick mengantarku ke toko pai lokal yang terkenal di seluruh wilayah ini. Di balik etalase tersusun hampir tiga puluh jenis pai, masing-masing tampak lebih menggoda dari yang lain. Aku memilih pai labu—rasa manisnya yang menenangkan adalah yang paling kubutuhkan setelah bersepeda.

Setelah itu, aku berjalan-jalan menyusuri Ulladulla. Kota ini adalah kota pelabuhan nelayan sekaligus tujuan wisata di South Coast, ditandai dengan perbukitan yang dramatis dan pemandangan laut yang tak berujung. Di sebuah kafe, aku melihat sebuah sepeda yang dimuati barang bawaan seperti sepedaku sendiri. Yang mengejutkan, sepeda itu bukan milik seorang pelancong, melainkan milik seorang pria yang hidup tanpa rumah. Cara kreatifnya menata dan membawa barang-barangnya mengingatkanku bahwa kebijaksanaan untuk bertahan hidup sering kali bertumpang tindih dengan pelajaran dari perjalanan.

Memutuskan untuk Membawa Bunga

Sambil berjalan, sebuah pikiran baru semakin kuat dalam diriku: aku ingin bepergian bersama bunga lagi. Di Woolworths, aku membeli sebuah tanaman pot kecil. Tantangannya, tentu saja, adalah bagaimana cara membawanya. Sepeda selalu dalam gerakan, tanah dan air berisiko tumpah. Meski begitu, pembelian itu menandai awal dari sebuah tantangan baru—melanjutkan perjalanan sambil merawat bunga yang hidup.

Rumah Sahabat Baru

Menjelang malam, Wombat datang menjemputku. Dalam perjalanan, kami singgah di sebuah restoran, di mana ia dengan baik hati mentraktirku makan hangat—sebuah hadiah yang tak ternilai setelah hari-hari makan seadanya. Ketika kami tiba di rumahnya, ia menawarkanku sebuah kamar yang luas dan berkata, "Pakai saja sesukamu." Kelegaan memiliki ruang yang aman dan hangat semacam itu di tengah perjalanan panjang ini terasa begitu besar.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan