Pagi di Tempat Berkemah

Aku bangun sekitar pukul 7 pagi di tempat berkemah dan mulai mengemas barang-barangku. Tujuanku hari itu adalah Campbelltown, sekitar 30 kilometer jauhnya. Namun yang membuat hari ini istimewa adalah aku sudah berjanji untuk bertemu seseorang yang kutemui sembilan bulan sebelumnya di Georgetown, Malaysia. Namanya Tony, dan kami pernah menginap di guesthouse yang sama waktu itu. Awalnya, aku tidak yakin apakah dia masih mengingatku—atau bahkan apakah aku memiliki kontaknya yang benar.
Untuk sesaat aku panik karena tidak bisa menemukan nomornya. Kupikir aku sudah kehilangan kesempatan untuk terhubung kembali dengannya. Lalu, hampir seperti sebuah keajaiban kecil, aku menemukan informasinya di sebuah folder tempat aku menyimpan nama-nama orang yang kutemui di sepanjang jalan. Berkatnya, aku bisa menghubunginya, dan leganya, dia membalas.
Jalan Menuju Campbelltown

Bersepeda menuju Campbelltown tidak terlalu berat dari segi jarak, tetapi semakin dekat aku dengan Sydney, jalanan semakin padat. Mobil-mobil melaju kencang di sampingku, jalur menyempit, dan kadang jalur sepeda tiba-tiba menghilang begitu saja. Setiap saat menuntut konsentrasi penuh. Semuanya masih bisa kuatasi, tapi membuatku tetap waspada sepanjang perjalanan.
Akhirnya, aku tiba di rumah tempat Tony dan adiknya, Daniel, menunggu. Sambutan hangat dari keluarga itu menyentuh hatiku dalam-dalam. Mereka bahkan menawarkan diri membantu menyimpan sepedaku dengan aman. Itu mengingatkanku sekali lagi bahwa jalan bukan hanya soal pemandangan, tetapi tentang orang-orang yang membuat perjalanan terasa lebih ringan.
Perjalanan Kereta Pertama di Australia
Sambil mengobrol mengejar ketinggalan cerita, Tony mengusulkan, "Bagaimana kalau kita pergi ke Sydney bersama-sama?" Aku belum pernah masuk ke pusat kota, jadi aku setuju. Itu berarti satu hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya di Australia: naik kereta.
Membeli tiket, mencari peron yang tepat—semuanya terasa baru. Keretanya sendiri membuatku terkejut, dengan struktur dua tingkat dan tempat duduk yang nyaman, hampir seperti Shinkansen di Jepang. Perjalanan singkat 30 menit itu dipenuhi rasa antusias. Yang pertama hanya datang sekali, dan aku bersyukur bisa mengalami "yang pertama" yang kecil namun berkesan ini dalam perjalananku.
Menjelajahi Sydney

Setibanya di Sydney, kami berjalan-jalan mengelilingi tempat-tempat terkenal seperti Opera House dan Harbour Bridge. Kami bahkan naik perahu, dan untuk makan siang Tony mentraktirku ramen. Itu adalah semangkuk ramen pertama yang kumakan sejak Melbourne, dan rasanya membawa kenyamanan tersendiri.
Menjelang malam, Tony mengantarku ke sebuah hostel tempat aku akan menginap. Awalnya aku khawatir hostel di Sydney akan berharga lebih dari 100 AUD per malam, tetapi setelah kucek, aku menemukan tempat seharga sekitar 30 AUD. Penemuan itu meredakan kecemasanku—aku bisa tinggal lebih lama kalau mau.
Kemudian, aku keluar lagi untuk melihat Opera House di malam hari. Suasananya benar-benar berbeda dari siang hari. Lampu-lampu memantul di permukaan pelabuhan, udara terasa lebih sejuk, dan segalanya terasa tenang sekaligus penuh kekuatan. Itu momen yang layak untuk dikenang.
Bersiap untuk Langkah Berikutnya
Kembali di hostel, aku bersiap untuk hari berikutnya. Rencanaku jelas: aku akan mengikuti kursus White Card, sertifikasi keselamatan wajib untuk bekerja di bidang konstruksi di Australia.
Awalnya aku berencana bekerja di bidang pertanian, tetapi aku menyadari hanya sedikit pelancong asal Jepang yang mencoba pekerjaan konstruksi. Kupikir akan berharga untuk mempelajari sisi lain dari Australia ini. Untuk itu, aku memerlukan White Card. Kursusnya bisa diselesaikan dalam satu hari, jadi aku membuat rencana untuk mengikuti kelasnya keesokan paginya.
Hari itu berakhir dengan rasa syukur—terhubung kembali dengan teman lama, merasakan kereta pertama di Australia, menjelajahi Sydney, dan bersiap untuk langkah berikutnya dalam perjalanan ini.
