Perpisahan yang Hangat

4 Februari, Malang. Aku meninggalkan rumah Adi setelah menginap lima malam. Biasanya aku menetapkan aturan tidak lebih dari tiga malam di satu tempat, tetapi di sini, aku benar-benar melupakan aturan itu. Hari-hari di sana begitu nyaman, begitu penuh kebaikan, sehingga kepergianku terasa berat di hati.
Adi telah keluar sejak pagi-pagi buta untuk membuat pancake, jadi aku pun bangun pagi untuk mengucapkan selamat tinggal. Malang sebenarnya tidak ada dalam rencana awalku, tetapi datang ke sini karena insting ternyata menjadi salah satu pilihan terbaik.
Saat aku berjabat tangan dengan Anan untuk terakhir kalinya, itu terasa penuh makna. Setiap hari, ia membuatkanku sarapan dan menuangkan kopi manis untukku. Baik Adi maupun Anan terasa seperti orang-orang yang lahir dari kebaikan itu sendiri.
Singgah Tak Terduga

Saat aku bersiap pergi, Anan mengajakku singgah ke rumahnya sendiri yang hanya berjarak seratus meter. Di dalamnya, aku terkejut menemukan kumpulan barang-barang berharga yang bercerita tentang masa lalu.
Ada sandal tradisional yang mengingatkanku pada geta Jepang, serta alat musik yang menghasilkan suara-suara riang. Melihatnya membangkitkan imajinasiku. Aku membayangkan sebuah ruangan masa depan milikku sendiri, dihiasi dengan barang-barang seperti itu—ruang yang penuh sejarah dan karakter.
Setelah kunjungan itu, akhirnya aku berangkat menuju tujuan berikutnya.
Bersiap untuk Perjalanan yang Akan Datang

Aku pergi ke toko outdoor bernama Oasa. Karena aku akan segera pergi ke Australia, aku ingin mempersiapkan beberapa perlengkapan berkemah. Toko itu bahkan lebih baik dari yang kuharapkan.
Aku membeli empat barang: sebuah lampu, pisau survival, beberapa klip, dan lembaran tahan air. Semuanya hanya menghabiskan sekitar 2.000 yen. Terjangkau dan praktis.
Tapi begitu aku keluar, hari itu berubah menjadi sangat panas. Matahari menguras energiku saat aku bersepeda melewati jalan-jalan berkelok. Aku berhenti di sebuah kios jus buah dan memesan jus nanas segar hanya seharga 5.000 rupiah. Dingin, manis, dan tepat seperti yang kubutuhkan.
Setelah mengisi ulang botol air, aku melanjutkan perjalanan.
Perjalanan yang Berat

Jalan melalui pegunungan curam dengan tanjakan dan turunan yang terus-menerus. Ini adalah salah satu perjalanan tersulit sejauh ini. Menjelang akhir, aku berhenti di sebuah warung kecil untuk membeli sebotol Oronamin C dan minuman jeli rasa jeruk—energi cepat untuk dorongan terakhir.
Pemilik warung, sepasang suami istri yang baik hati, menyemangatiku dengan suara yang penuh kekuatan hingga aku merasa segar kembali. Dukungan mereka membawaku terus maju.
Lalu, saat aku mengayuh, Gunung Semeru mulai terlihat. Bentuknya mengingatkanku pada Gunung Fuji di Jepang, dan pemandangan itu mengangkat semangatku meski lelah.
Sambutan Istimewa
Hanya satu kilometer dari tujuan, tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil, "Hiro-san!" Ternyata, tuan rumahku malam itu telah keluar dengan sepedanya untuk menyambutku. Gestur itu saja sudah memenuhiku dengan rasa syukur.
Setibanya di sana, mereka menawariku buah bernama plakan, yang tampilannya agak mirip dengan kastanye. Manis dan bikin ketagihan, meskipun duri-duri kecil di kulitnya bisa dengan mudah melukai jari jika tidak berhati-hati.
Untuk makan malam, aku disajikan telur dan tempe. Sekali lagi aku menyadari bahwa tempe benar-benar menjadi bagian dari setiap makanan rumah tangga Indonesia.
Setelah makan malam, sang ayah mengusulkan agar kami pergi minum kopi. Kami berjalan ke sebuah kafe terdekat, dan meskipun sudah sekitar jam 8 malam, aku memesan kopi hitam. Duduk di sana setelah hari yang panjang, rasa pahitnya terasa pas.
Malam itu, saat aku merenung, aku menyadari: di daerah berbukit seperti ini, tujuh puluh kilometer sehari mungkin adalah batasku.
