← Cerita
Diary·Indonesia·24 Agustus 2025·4 menit baca

🇮🇩 Menjelajahi Yogyakarta dengan Sepeda: Candi, Pertemuan Penuh Kebaikan, dan Kehidupan Sehari-hari

Pagi yang Diisi Urusan Praktis

Pada 15 Januari, aku bangun di hotelku di Yogyakarta, jantung budaya Indonesia. Hari itu dimulai dengan sesuatu yang penting—memperpanjang visa. Sebelum melakukan apa pun, aku mengayuh sepeda ke kantor imigrasi. Aku lega karena hotel mengizinkanku menyimpan sepeda di dalam, hal yang selalu membuatku senang sebagai pelancong.

Namun, di kantor imigrasi, semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Sebuah kesalahan sistem membuat perpanjangan tidak bisa diproses. Aku diminta kembali lain hari. Untungnya, aku sudah memberi diri sendiri kelonggaran waktu seminggu, tapi rasa tidak pasti tetap membayangi. Sampai visanya diperpanjang, selalu ada sedikit beban di benak. Namun untuk saat ini, aku memutuskan memanfaatkan hari itu sebaik mungkin dengan menjelajahi sekitar Yogyakarta.

Menemukan Candi Sambisari

Pemberhentian pertamaku adalah Candi Sambisari, tempat dengan kisah yang menarik. Pernah terkubur di bawah abu vulkanik dari Gunung Merapi yang tak jauh dari sana, candi ini ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang petani dan kemudian dipugar pada 1988. Mengingat betapa belum lamanya candi ini digali, rasanya seperti melangkah ke sesuatu yang sekaligus kuno dan baru.

Wisatawan asing membayar 20.000 rupiah—sedikit di bawah 200 yen—untuk masuk. Tata letaknya sederhana, sebuah candi utama kecil yang bisa dikelilingi hanya dalam beberapa menit. Pintu masuk ke bilik dalamnya memiliki suasana misterius, remang-remang dan menyimpan kehadiran yang sunyi.

Hampir tidak ada pengunjung lain, jadi aku bisa berjalan pelan-pelan dan memperhatikan detail-detail kecil—guratan pada batu, pola pada ukirannya—yang membuatku bertanya-tanya tentang kehidupan orang-orang yang membangunnya berabad-abad silam.

Berhenti Sejenak di Candi Plaosan

Dari sana, aku bersepeda menuju Candi Plaosan. Di tengah jalan, aku berhenti untuk minum es kelapa yang menyegarkan, istirahat yang pas di tengah panasnya cuaca tropis. Plaosan adalah candi Hindu, dengan ciri khas dua candi utama kembar, menjadikannya salah satu situs candi yang lebih besar di kawasan ini.

Tak jauh dari sana berdiri Candi Prambanan yang terkenal, tapi aku memilih Plaosan. Harganya lebih terjangkau, 50.000 rupiah (sekitar 477 yen), tidak terlalu ramai, dan memberi pengalaman yang lebih tenang.

Di dalam, area candinya luas dan tenang. Sambil berjalan, seorang pria yang sedang mencabuti rumput mendekatiku sambil tersenyum. Ia menawarkan untuk mengambilkan “foto spesial.” Tanpa banyak menjelaskan, ia membimbingku berjalan melintasi area candi. Baru setelahnya aku sadar—ia telah mengambil foto panorama yang mulus dengan ponselku. Aku sudah menduga ia akan meminta uang, seperti yang sering terjadi, tapi ia justru hanya berkata:

“Aku harap kamu menikmati masa tinggalmu di sini.”

Tindakan kebaikan kecil itu terus terngiang dalam benakku. Aku merasa bersyukur bukan hanya atas fotonya, tetapi juga atas kehangatan dari sikapnya itu.

Pertemuan dengan Para Pelajar

Sebelum pergi, aku berpapasan dengan sekelompok pelajar yang sedang karyawisata sekolah. Mereka bersemangat untuk berlatih bahasa Inggris, dan yang mengejutkanku, beberapa bahkan bisa sedikit bahasa Jepang. Semangat mereka mengingatkanku betapa populernya Jepang di sini. Dulu, seusia mereka, aku bahkan tidak bisa memperkenalkan diri dalam bahasa lain. Sungguh menginspirasi melihat betapa terbukanya wawasan global mereka sejak dini.

Kami mengakhiri pertemuan itu dengan foto bersama yang ceria. Yang membuat kunjungan ini berkesan bukan hanya candi-candinya, tetapi juga pertemuan-pertemuan spontan seperti ini yang mengisi hari itu dengan kebahagiaan.

Saat aku terus bersepeda, anak-anak melambai dari dalam bus, tersenyum penuh semangat. Gestur kecil mereka menambah kesan bahwa Yogyakarta adalah tempat di mana keramahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kehidupan Sehari-hari di Yogyakarta

Dalam perjalanan pulang, aku melihat beberapa tempat yang menjual tanaman. Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki keragaman yang luar biasa, dan aku berpikir mungkin suatu hari akan menyenangkan untuk tinggal lebih lama dan menjelajahi sisi budaya lokal itu.

Di suatu titik, aku melihat papan bertuliskan “RAMEN.” Bersemangat, aku berhenti—hanya untuk mendapati bahwa tidak ada ramen yang dijual di sana sama sekali. Pemiliknya tertawa dan mengakui ia hanya membeli papan itu karena terlihat bagus. Tipuan kecil yang tidak berbahaya, tapi berhasil membuatku tersenyum.

Aku tetap makan siang di sana, tidak ingin mencari lebih jauh lagi, dan setelahnya berangkat untuk urusan terpenting hari itu—membeli hard drive baru.

Perburuan Hard Drive

Antara merekam dan menyimpan video-video perjalanan, hard drive 5TB milikku pun sudah penuh. Jadi aku mengayuh sepeda ke mal terdekat. Masuk dengan membawa sepeda selalu merepotkan—sepertinya tidak ada aturan khusus untuk itu, tapi biasanya, jika aku bertanya, staf dengan baik hati mengizinkanku membawanya masuk.

Malnya sendiri besar dan mewah, dengan lampu-lampu terang dan bahkan pusat permainan yang ramai penuh energi. Setelah mencari-cari, aku menemukan hard drive yang kubutuhkan. Dengan ini, aku bisa terus merekam perjalananku tanpa khawatir soal ruang penyimpanan.

Saat aku bersiap pergi, aku bertemu seorang pesepeda lokal yang dengan baik hati mengantarku berkeliling Yogyakarta. Kami berakhir di pusat kota, tempat yang populer baik di kalangan warga lokal maupun wisatawan untuk berfoto dan berkumpul.

Sekali lagi, aku mendengar kata-kata akrab yang begitu sering kudengar selama di Indonesia:

“Kalau butuh apa-apa, bilang saja ke aku.”

Itu kalimat yang tidak akan pernah kulupakan, diucapkan berkali-kali selama aku tinggal di sini. Kemurahan hati dan keterbukaan orang-orang di sini membuat perjalanan ini jauh lebih lancar daripada yang pernah kubayangkan.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan