← Cerita
Diary·Indonesia·24 Agustus 2025·3 menit baca

🇮🇩 Menjelajahi Jember: Para Pesepeda, Camilan Singkong, dan Tawa Anak-Anak

Pagi di Rumah Pohon

10 Februari, Jember. Aku bangun di sebuah tempat yang terasa seperti mimpi. Rumah pohon tempatku menginap dibangun dengan begitu kreatif—dirancang sedemikian rupa sehingga pohon-pohon seolah menembus langsung struktur bangunannya. Rumah ini hidup berdampingan dengan alam, bukan melawannya.

Ketika aku melangkah keluar, beberapa pesepeda yang kutemui sehari sebelumnya sudah ada di sana. Sepeda-sepeda mereka, dihiasi warna-warna ceria—bahkan ungu sebagai warna utama—berjajar rapi seperti karya seni. Hanya dengan melihatnya di bawah cahaya pagi membuatku merasa bahagia.

Di atas meja, ada camilan pagi ringan yang dibuat dari singkong. Di Indonesia, singkong sepertinya ada di mana-mana. Digoreng, dikukus, diolah jadi keripik—rasanya seolah singkong menjadi fondasi kehidupan sehari-hari di sini.

Para pesepeda terus berdatangan. Pagi hari selalu menjadi waktu paling aktif bagi mereka.

Saat aku berjalan-jalan di taman yang luas, aku menemukan kandang ayam. Telur-telur segar sedang dikumpulkan pagi itu juga. Di dekatnya, aku melihat tanaman yang tak kuketahui namanya—daunnya sebesar tubuhku. Aku diberi tahu bahwa tanaman ini umum ditemukan di Malaysia, tapi melihat ukurannya secara langsung sungguh mengagumkan.

Sarapan yang Tak Terlupakan

Tak lama kemudian, sarapan disajikan. Aku tak akan pernah lupa rasa terkejut yang kurasakan. Malam sebelumnya, seseorang bertanya makanan Indonesia apa yang kusukai. Aku menjawab santai, "Capcay itu enak."

Pagi itu, Capcay sudah menungguku. Mereka ingat. Bersamanya ada makanan penutup yang dibuat dari ubi, kacang-kacangan, dan buah-buahan, kaya akan tekstur dan rasa. Terlalu berlebihan untuk sekadar disebut "sarapan"—ini adalah hadiah rasa dan kebaikan hati.

Kemudian, beberapa YouTuber bergabung bersama kami. Aku merasakan semacam keakraban yang aneh, mungkin karena kami menjalani gaya hidup yang serupa: merekam dan membagikan perjalanan kami.

Sepanjang hari mengalir dengan ritme yang santai. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ketegangan akibat perjalanan yang terus-menerus mulai mereda, dan begitu mereda, aku merasakan rasa lelah menyebar ke seluruh tubuhku. Kadang, istirahat bisa terasa sama melelahkannya dengan perjalanan itu sendiri.

Malam di Sekolah Gratis

Menjelang malam, sekitar pukul tujuh, anak-anak mulai berdatangan. Tempat ini bukan hanya sebuah rumah, tapi juga sekolah gratis. Setiap hari, kecuali hari libur, lebih dari lima puluh anak datang ke sini untuk belajar mata pelajaran seperti agama, matematika, dan bahasa.

Malam itu, ruang terbuka itu dipenuhi suara dan tawa.

Aku sangat tersentuh. Di Jepang, sekolah cenderung mengelompokkan murid berdasarkan usia yang sama. Tapi di sini, murid yang lebih tua dan lebih muda berkumpul bersama, bertukar gagasan dengan bebas. Ini bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat terjalinnya hubungan antarmanusia. Aku bersyukur bisa disambut ke dalam ruang yang begitu menginspirasi ini.

Sepeda yang Menyalakan Mimpi

Setelah sesi sekolah gratis berakhir, aku diajak ke rumah lain milik seorang teman Zul, orang yang memberiku kesempatan untuk menginap di rumah pohon. Di sana, aku ditunjukkan sebuah sepeda yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Sepeda itu buatan tangan, dilengkapi panel surya dan delapan baterai, dengan berat hampir 50 kilogram. Perjalanan jarak jauh dengan sepeda ini pasti sulit, tapi melihatnya saja membuatku bersemangat. Rasanya seolah seseorang telah mengambil imajinasiku sendiri—mimpiku untuk "suatu hari membangun sesuatu seperti ini"—dan mewujudkannya.

Di dekatnya, orang-orang dewasa memanjat pohon untuk memetik kelapa. Di sini, aku diberi tahu, "Kelapa-kelapa di sepanjang jalan biasanya bebas diambil dan dimakan."

Menyaksikannya, aku tak bisa menahan senyum. Tempat ini terasa seperti taman bermain untuk orang dewasa, penuh kreativitas, kebebasan, dan kegembiraan. Sepanjang hari itu, dari pagi di rumah pohon hingga malam yang dihabiskan bersama anak-anak dan para penemu, membuatku merasa antusias dan sangat bersyukur.

Ini bukan hari perjalanan di jalan, tapi tetap saja menjadi hari penuh penemuan.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan