← Cerita
Diary·Australia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇦🇺 Bersepeda ke Munglinup: Hari yang Panas, Minuman Dingin, dan Kehidupan Kemah yang Tenang

Berpamitan dan Melanjutkan Perjalanan

26 Maret. Aku berpamitan dengan pasangan asal Inggris yang dengan baik hati memasakkan spageti untukku malam sebelumnya. Mereka orang-orang yang luar biasa, dan aku sungguh berharap jalan kami akan bersilang lagi suatu hari nanti.

Tujuanku hari ini adalah Munglinup.

Suhu dengan cepat naik hingga sekitar 26–27 derajat, dan naik-turunnya jalanan yang terus-menerus menguras energiku lebih cepat dari perkiraanku. Setiap kayuhan terasa semakin berat di bawah panas yang kian menjadi.

Meski begitu, setelah sekitar lima jam, aku akhirnya tiba.

Kebahagiaan Kecil dari Seteguk Minuman Dingin

Tempat pertama yang kutuju adalah toko lokal.

Di dalam kulkas, aku melihat seorang teman lama: Solo.

Soda rasa lemon ini adalah minuman umum di Australia, dan sudah menjadi hadiah kecilku setiap kali aku menemukannya di perjalanan. Menenggak seteguk pertama, aku merasakan kesegaran manisnya meresap ke seluruh tubuh. Rasanya seperti berkata pada diriku sendiri, "Aku sudah sampai sejauh ini."

Kemah yang Tenang di Antara Para Pelancong

Munglinup punya beberapa area berkemah gratis, dan aku mendirikan tendaku di salah satunya.

Di sekitarku ada beberapa orang yang berkelana dengan karavan. Ada suasana yang tenang dan lembut, semacam ikatan yang sunyi di antara sesama pelancong—bahkan tanpa banyak kata yang dipertukarkan.

Tidak ada pemandangan laut atau langit yang dramatis, tapi semilir angin lembut dan kesunyian yang damai membuat tempat itu terasa nyaman. Kadang, itulah satu-satunya yang benar-benar kamu butuhkan.

Makan Malam, Sederhana tapi Cukup

Saat malam tiba, aku bertanya-tanya apa yang harus kumakan. Lalu aku teringat sesuatu yang pernah kupelajari dari pelancong lain: cara membuka kaleng tuna tanpa pull-tab.

Banyak kaleng yang lebih murah tidak dilengkapi pegangan pembuka, dan biasanya kamu memerlukan alat pembuka kaleng. Aku tidak membawanya, tapi aku pernah diajari sebuah trik: pegang pisau dengan posisi terbalik dan tekan perlahan sedikit demi sedikit.

Dan berhasil.

Itulah makan malamku malam itu—hanya satu kaleng tuna.

Ada hari-hari ketika kelelahan tidak menyisakan tenaga untuk memasak, dan di hari-hari seperti itu, sesuatu yang sederhana sudah cukup.

Menatap ke Arah Esperance

Esperance kini berjarak kurang dari 100 kilometer. Tujuannya sudah dekat, tapi aku mengingatkan diriku untuk tidak terburu-buru.

Setiap bagian dari perjalanan ini, bahkan hari-hari yang kecil dan tenang, layak untuk dinikmati.

Aku akan terus melaju perlahan, menikmati setiap langkah di sepanjang jalan.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan