Renungan Pagi dan Rasa Syukur

Aku bangun di sebuah kota kecil sekitar 20 kilometer dari Perth dan menyiapkan sarapan. Tersedianya sebuah ketel terasa seperti berkah tersendiri. Dengan musim kebakaran hutan yang masih berlangsung, aku merasa was-was menggunakan tabung gas untuk merebus air. Alat sederhana seperti ketel ini mengingatkanku betapa aku menghargai kemudahan-kemudahan kecil di jalan.
Sebelum berangkat, aku menulis sepucuk surat. Salah satu nilai yang kupegang teguh dalam perjalanan ini adalah ingin dikenang sebagai “pelancong yang benar-benar ingin ditemui lagi oleh orang-orang.” Banyak yang berkata “datang lagi kapan saja” hanya sebagai basa-basi sopan, tapi aku ingin menjalani hidup dengan cara yang membuat orang benar-benar bermaksud demikian. Menulis surat ucapan terima kasih telah menjadi salah satu caraku menghormati kebaikan yang kuterima.
Dengan pikiran itu, aku menyelesaikan persiapan sepedaku. Setiap hari aku khawatir apakah rak belakangku akan tetap utuh, tapi aku tetap melanjutkan perjalanan.
Di Jalan Menuju Baldivis

Tujuanku berikutnya adalah Baldivis, tempat yang aku diundang untuk kunjungi melalui media sosial sehari sebelumnya. Di sepanjang jalan, aku melihat banyak pohon yang hangus menghitam.
Saat aku bertanya kepada penduduk lokal, mereka bercerita bahwa itu adalah bekas luka dari kebakaran hutan. Sekilas, kerusakannya tampak hanya terbatas pada bagian-bagian kecil, tapi kenyataannya sangat menghancurkan. Selama kebakaran hutan 2019–2020, lebih dari 10,7 juta hektare lahan terbakar—luas yang jauh melampaui apa yang bisa dengan mudah dibayangkan mata. Melakukan perjalanan mengajarkanku bahwa memahami perjuangan nyata sebuah daratan sama pentingnya dengan menikmati keindahannya.
Istirahat Singkat dan Tiba di Tujuan

Semakin dekat dengan Baldivis, aku berhenti di sebuah McDonald’s untuk beristirahat. Aku tidak ingat persis harganya, tapi bahkan paket medium pun terasa mahal dibandingkan dengan yang biasa kualami.
Akhirnya, aku tiba di rumah tuan rumahku di Baldivis. Sambutan hangat langsung dimulai dengan Kirin Hyouketsu dingin dan sebotol bir Asahi. Setelah hari yang panjang di atas sepeda, rasa bir itu terasa seperti hadiah murni.
Aku juga berkesempatan bertemu kucing mereka. Di Australia, aku memperhatikan bahwa anjing tampaknya menjadi hewan peliharaan rumah tangga yang lebih umum, jadi menyenangkan bisa bertemu teman kucing di sini.
Santapan Bersama dan Tujuan yang Diperbarui

Malam itu, aku disuguhi makan malam yang sehat dan menggugah selera. Kebaikan dan kemurahan hati tuan rumahku membuatku amat bersyukur.
Sambil duduk di sana, menikmati santapan dan obrolan, aku teringat kembali pada keputusanku untuk mengubah rute—dari bersepeda ke utara menuju Darwin menjadi menuju selatan dari Perth. Itu adalah pilihan yang tepat. Jalan-jalan, orang-orang, dan pelajaran di sepanjang perjalanan menegaskan bahwa terkadang intuisi menuntun kita lebih baik daripada rencana.
