← Cerita
Diary·Australia·24 Agustus 2025·3 menit baca

🇦🇺 Bersepeda Melewati Jalan Tanah Menuju Menginap di Peternakan di Australia Barat

Pagi yang Dingin namun Menyegarkan

Pada tanggal 11 Maret, aku bangun di sebuah lokasi berkemah dekat Karridale. Udaranya sejuk, tapi menyegarkan. Tendaku hanya cukup besar untuk memuatku saat berbaring, jadi hanya barang-barang penting yang kusimpan di dalamnya. Semua yang lain tetap di luar, dengan pemikiran bahwa jika ada yang dicuri, aku akan menerimanya begitu saja.

Setelah mengemasi perlengkapanku, aku bersiap untuk hari yang panjang di depan. Tujuanku adalah bersepeda melewati Manjimup dan mencapai Middlesex, perjalanan lebih dari 100 kilometer. Mengetahui jaraknya, aku mempertimbangkan opsi berkemah di sepanjang jalan jika diperlukan.

Sebelum berangkat, aku makan sarapan ringan. Makanan kaleng telah menjadi hal penting dalam perjalanan bersepedaku. Sebagian besar dari pola makanku terdiri dari makanan kaleng dan oatmeal—sekitar 60%—sementara sisanya mencakup makanan seperti mi instan atau pasta yang memerlukan pemasakan. Memiliki makanan siap santap sangat penting ketika api tidak bisa digunakan, terutama di Australia Barat di mana air sangat langka. Ini adalah keseimbangan antara kepraktisan dan variasi.

Jalan Tanah Tanpa Ujung

Pukul 7 pagi, aku berangkat, hanya untuk langsung disambut oleh jalan tanah yang membentang tanpa ujung. Pemandangannya indah, tapi permukaan tanah yang tak rata membuat bersepeda jadi sulit.

Bahkan setelah satu jam, tanah itu masih berlanjut. Satu jam lagi berlalu, dan akhirnya, jalan tanah itu berakhir—hanya untuk digantikan oleh rumput lebat yang membuat mengayuh sama sulitnya.

Kemudian, jalan menyempit lebih jauh, dengan gulma merapat dari kedua sisi, membuat perjalanan lambat dan membuat frustrasi. Setelah hampir tiga jam seperti ini, aku akhirnya mencapai jalan terbuka. Kelegaan menyelimutiku, meski kelelahan sudah menumpuk. Saat itu sudah lewat pukul 4 sore, dan aku mulai memikirkan tempat untuk berkemah.

Undangan Tak Terduga

Tepat ketika aku sedang mencari, seorang pria yang sedang menggembalakan sapi melambaikan tangan dan mengundangku ke rumahnya. Tanpa ada tempat berkemah yang layak di dekat sana, kebaikannya terasa seperti berkah.

Ia kemudian mengajakku bergabung di tempat kerjanya. Aku naik ke truk peternakannya, dan bersama-sama kami berkeliling peternakan. Anjing-anjing penggembala itu kecil tapi bekerja tanpa lelah, berlari ke sana kemari. Traktornya berguncang hebat, membuat perjalanan terguncang-guncang tapi seru. Pria itu mengenakan masker, dan aku segera mengerti alasannya—debu dan asapnya pasti tak tertahankan tanpanya.

Memandang ke seberang ladang, aku melihat lebih dari 100 sapi. Di malam hari, ia dengan teliti menghitung setiap ekor berdasarkan sektornya. Menyaksikannya, aku terkesan dengan kesabaran dan dedikasi yang dibutuhkan untuk menghitung setiap satu ekor hewan.

Ada juga kuda-kuda di properti itu. Ketika aku bertanya mengapa, ia menjelaskan bahwa saat banjir, ketika truk tak bisa digunakan, kuda menjadi sangat penting untuk bergerak di sekitar peternakan. Itu sesuatu yang belum pernah kupikirkan sebelumnya—begitu berbeda dari kehidupan di Jepang.

Makan Malam Berisi Daging dan Rasa Syukur

Setelah sekitar satu jam berkeliling peternakan, kami kembali ke rumah. Sepedaku disimpan dengan aman di bawah atap, dan tak lama kemudian, makan malam pun tersaji: sosis dan burger. Daging bukanlah sesuatu yang sering bisa kunikmati selama perjalanan, jadi aku menikmati setiap gigitannya.

Larut malam itu, menjelang pukul 1 dini hari, aku duduk untuk menulis surat ucapan terima kasih. Perjalanan telah mengajarkanku bahwa rasa syukur harus diungkapkan segera, sebelum perasaan itu memudar. Bahasa Inggrisku mungkin tidak sempurna, tapi aku berharap ketulusanku bisa dipahami.

Itu adalah hari yang panjang dan melelahkan, tapi juga penuh dengan kebaikan, pembelajaran, dan kehangatan. Aku tertidur dengan rasa syukur atas keramahan, makan malam, dan kesempatan untuk bertemu pria sebaik itu.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan