← Cerita
Diary·28 Agustus 2025·3 menit baca

Masa Kecil hingga SMA: Perjumpaan Pertamaku dengan Kematian dan Cinta

### Hiro | World Bike Traveler | Twitter, Instagram, TikTok | LinktreeView hirotheworld’s Linktree to discover and stream music from top platforms like YouTube, Spotify here. Your next favorite track is just a click away!

Halo, aku Hiro, Sang Pengelana Dunia Bersepeda. Dalam tulisan ini, aku ingin berbagi beberapa pengalaman hidup dan titik balik dalam perjalananku. Kali ini, aku akan menengok kembali perjalanan dari taman kanak-kanak hingga kelulusan SMA.

Masa Taman Kanak-Kanak: Berhadapan dengan "Kematian"

Ingatan paling awal yang kumiliki adalah kematian ikan medaka peliharaanku. Setiap pagi, aku selalu buru-buru memeriksa keadaan mereka, tetapi suatu hari, mereka menghilang. Dengan hati hancur, aku menguburkan tubuh kecil itu di halaman.

Tak lama setelah itu, aku sedang menonton Yu-Gi-Oh! dan melihat kartu "Monster Reborn." Terinspirasi, aku mulai menggambar ikan medaka berulang-ulang—kadang lebih dari 200 gambar dalam sehari—sambil berbisik, "Hiduplah kembali." Jika dikenang sekarang, itu pasti terlihat seperti ritual aneh di mata guru taman kanak-kanakku.

Tentu saja, ikan itu tidak pernah kembali. Itulah perjumpaan pertamaku dengan kebenaran: ketika sesuatu mati, ia tidak akan kembali. Aku menyadari bahwa hal ini juga berlaku bagi manusia, dan pikiran itu menakutkanku. Orang tuaku saat itu baru berusia tiga puluhan, jadi aku meyakinkan diriku sendiri bahwa mereka akan aman setidaknya selama 25 tahun lagi. Meski begitu, bayangan kematian terasa sangat dekat.

Merangkul Kehidupan: Lakukan Apa yang Kau Cintai

Bagi anak-anak, kematian hanyalah sebuah gagasan, tetapi seiring bertambahnya usia, ia menjadi nyata—membawa kesedihan dan ketakutan. Melalui ketakutan itu, aku akhirnya bisa menerima kematian. Sejak saat itu, aku membuat sebuah janji: sebelum waktuku tiba, aku akan melakukan segala hal yang benar-benar ingin kulakukan.

Sekolah Dasar: Menemukan "Cinta"

Semasa sekolah dasar, aku adalah pengamat yang pendiam, tidak yakin apa yang sebenarnya kusukai. Aku mencoba berbagai hal—game BLEACH, petak umpet, apa pun yang disukai teman-temanku. Semuanya menyenangkan, tetapi bukan sesuatu yang benar-benar kucintai.

Kemudian aku menemukan sepak bola. Aku bergabung dengan tim lokal bersama teman-teman dan merasakan kegembiraan mengejar gol bersama-sama. Kerja sama tim, tantangannya, kemenangan-kemenangan kecil—itu adalah pertama kalinya aku berpikir, Ini mungkin sesuatu yang benar-benar kucintai.

Rasa Syukur untuk Gelar yang "Palsu"

Titik balik besar datang saat aku duduk di kelas empat atau lima, ketika aku bertemu seorang pelatih sepak bola yang lembut dan baik hati. Dalam sebuah turnamen, timku menang, dan ia memberiku bola MVP. Aku tertegun—padahal aku sama sekali bukan pemain terbaik.

Belakangan, aku mengetahui kebenarannya: ia memilihku bukan karena aku yang terkuat, melainkan karena ia melihat perkembanganku dan ingin aku terus mencintai sepak bola. Tindakan kecil itu membebaskanku dari keraguan. Sejak saat itu, aku ingin tumbuh menjadi seseorang yang benar-benar pantas menerima pengakuan itu.

SMP: Sebuah Keputusan di Dunia yang Tak Pasti

Ketika aku masuk SMP, tragedi terjadi—pelatih sepak bola yang kusayangi meninggal dunia. Berbeda dengan ikan medaka yang sempat hidup selama tiga tahun penuh, ia meninggal secara mendadak di usia 40-an atau 50-an.

Kematiannya memaksaku untuk menghadapi ketidakpastian hidup. Itu adalah pengingat yang menyakitkan bahwa hidup bisa berakhir kapan saja. Kesadaran itu kembali mendorongku pada janjiku: benamkan dirimu dalam apa yang kau cintai sebelum semuanya terlambat.

SMA: Rasa Syukur dan Perpisahan

SMA membawa satu pilihan besar lagi—apakah akan terus bermain sepak bola. Aku bergabung dengan tim, tetapi hatiku tidak sepenuhnya ada di sana. Setelah mengalami cedera, aku berhenti. Teman-teman satu timku menangis untukku, dan aku merasa sangat berterima kasih atas dukungan mereka.

Meninggalkan sepak bola terasa seperti menghapus sepuluh tahun kerja keras. Aku kemudian beralih ke bidang akademik, berusaha untuk unggul. Belajar memang menarik, tetapi tidak membakar gairahku.

Tahun-tahun itu dipenuhi dengan persahabatan dan rasa syukur, tetapi juga perjuangan atas mimpi-mimpi yang belum terwujud dan pencarian akan apa yang benar-benar kucintai. Menjelang kelulusan, aku berjanji pada diriku sendiri satu hal: ketika aku melangkah ke dunia universitas yang lebih luas, aku akan terus mencari sampai menemukannya.

### Hiro | World Bike Traveler | Twitter, Instagram, TikTok | LinktreeView hirotheworld’s Linktree to discover and stream music from top platforms like YouTube, Spotify here. Your next favorite track is just a click away!

Bagikan