Hampir Sampai: Jalan Menuju Siem Reap

11 September. Akhirnya, jarak menuju Siem Reap terasa mulai terjangkau. Sebelum berangkat, aku memeriksa setiap detail sepedaku. Di jalan-jalan panjang seperti ini, satu kesalahan ceroboh saja bisa berakhir dengan kerusakan. Ini rutinitas yang dulu terasa membosankan tapi kini terasa alami, bagian dari ritme perjalanan.
Di warung makan dekat guesthouse-ku, aku menyapa pemiliknya lagi. Dia membesarkan sepasang anak kembar laki-laki berusia dua tahun dengan kekuatan yang tenang. Kemarin, dia bercanda merasa malu dengan puting susunya yang gelap, tapi hari ini dia berdiri dengan bangga bertelanjang dada. Aku mengagumi keterbukaannya—itu menunjukkan jenis kepercayaan diri yang berbeda.
Pertemuan Tak Terduga dengan Sesama Pengelana

Hanya beberapa menit setelah berangkat, sesuatu yang tak terduga terjadi: aku bertemu pesepeda lain, seorang perempuan Jepang. Bertemu seseorang dari negaraku sendiri, yang juga menjalani perjalanan seperti ini, terasa hampir mustahil. Dia telah menjalani hidup seperti ini selama hampir sepuluh tahun. Ketahanan dan tekad untuk terus menjalani gaya hidup seperti itu pantas mendapat penghormatan yang dalam.
Energinya menular—cerah, kuat, dan penuh kehidupan. Dengan dorongan semangat itu, aku melaju lagi, merasa lebih ringan di jalan menuju Siem Reap.
Hidangan Misterius

Di sebuah warung pinggir jalan, seorang pria mengajakku bergabung makan bersamanya. Aku menerimanya dengan rasa syukur. Di atas meja: ikan dengan kedelai fermentasi, salah satu makanan favoritku. Hidangan lainnya adalah pepaya dan sayuran, hidangan yang sudah familiar dan menenangkan di Kamboja.
Lalu, ada sesuatu yang aneh. Sepiring kecil dengan lebih banyak tulang daripada daging. Awalnya, kukira itu katak, tapi tubuhnya tampak terlalu kurus.
"Ini apa?" tanyaku. "Tikus," jawabnya singkat.
Aku menggigitnya. Rasanya membenarkan jawaban itu. Tidak buruk, tidak juga enak. Sebuah pengalaman, ya, tapi bukan sesuatu yang ingin kucari lagi. Meski begitu, aku merasa bersyukur—bisa duduk semeja dengan orang asing, mencoba apa yang mereka tawarkan, tertawa bersama melihat reaksiku.
Senyum Sang Sopir dan Tempat Berkemah Rahasia

Di antara orang-orang di warung itu ada seorang sopir jarak jauh dengan senyum yang tak pernah pudar. Apa pun pertanyaannya, apa pun percakapannya, dia selalu menjawab dengan kebaikan terlebih dahulu. Senyuman memang benar-benar bahasa universal.
Sebelum berangkat, dia menunjukkan sebuah tempat di mana para sopir sering beristirahat. Luas, terbuka, sempurna untuk sebuah tenda. Rasanya aman, hampir seperti tempat berkemah tersembunyi yang disediakan khusus untuk para pengelana.
Kebahagiaan Sederhana dari Sebuah Mandi

Saat matahari mulai tenggelam, sang sopir bertanya, "Mau mandi?" Dia memegang seember air, jadi aku langsung tahu ini bukan jenis mandi yang biasanya dibayangkan orang.
Dari sebuah sumur, air ditimba dan dituangkan, membasahi kulitku yang terbakar matahari dengan segar dan sejuk. Setelah berjam-jam bermandi keringat dan debu, kelegaannya tak terlukiskan. Aku berdiri di bawah cahaya senja yang meredup, bersyukur atas anugerah air, atas kesegaran, atas kehidupan yang kujalani di jalan.
Malam itu, saat serangga bernyanyi dalam gelap dan aku berbaring di dalam tenda, aku berbisik pada diri sendiri: besok, akhirnya Siem Reap.
