← Cerita
Diary·Indonesia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇮🇩 Hotel Baru, Museum Seni, dan Ramen yang Mengejutkan di Yogyakarta

Awal yang Baru di Yogyakarta

16 Januari, Yogyakarta. Karena aku harus tinggal lebih lama akibat masalah sistem visa, aku memutuskan untuk mencoba hotel yang berbeda. Jaraknya hanya sekitar sepuluh menit, jadi aku berjalan santai ke sana dengan sepeda dan barang bawaanku.

Begitu aku masuk ke lobi, aku merasakan kenyamanan. Bahkan ada trolley bagasi klasik, yang memberi kesan hotel berkualitas baik. Di sana terpajang Batik, pakaian tradisional Indonesia, tertata dengan indah. Aku sempat tergoda untuk membelinya, tapi dengan harga sekitar 3.000 yen dan barang bawaanku yang sudah berat, aku memutuskan untuk menyimpan keinginan itu untuk lain waktu.

Di lantai atas, koridor terbuka terasa elegan. Di depan kamarku ada ruang kecil dengan kursi dan meja, sempurna untuk membaca atau sekadar bersantai. Kamarnya sendiri luas dan nyaman. Setelah menurunkan tasku, aku tak bisa menahan keinginan untuk menjelajahi lingkungan sekitar.

Rekomendasi dari Warga Lokal

Saat aku berjalan menyusuri jalan utama, seorang satpam menghampiriku. Dengan senyum ramah, ia mulai merekomendasikan tempat-tempat yang bisa dikunjungi, seolah pekerjaannya tak penting sama sekali. Salah satu sarannya menarik perhatianku, jadi aku mengikuti anjurannya.

Tak lama, aku sampai di tepi sungai, dengan pemandangan tenang rumah-rumah di sepanjang tepiannya. Hanya lima menit kemudian, aku tiba di Affandi Museum.

Sebelum datang ke Indonesia, seorang teman pernah berkata, “Yogyakarta adalah kota seni. Kalau ada kesempatan, kunjungilah sebuah museum.” Aku biasanya tidak singgah ke museum selama perjalanan, tapi aku teringat saran itu. Selain itu, aku penasaran karena Affandi tampak sedikit mirip kakekku.

Di Dalam Affandi Museum

Aku bukan ahli seni, tapi aku menyukai detail dalam sebuah karya. Banyak karya Affandi menunjukkan detail yang begitu halus, bahkan menyerupai tekstur sidik jari. Aku membayangkan bagaimana rasanya menyaksikannya melukis, merasakan intensitas dan gairahnya bahkan hanya dari balik punggungnya.

Berjalan menyusuri pameran, aku merasa puas dan terinspirasi.

Cita Rasa Ramen yang Mengejutkan

Setelah itu, rasa lapar mendorongku ke sebuah pusat perbelanjaan. Hal pertama yang menarik perhatianku adalah sebuah kedai ramen. Awalnya aku berpikir, “Aku kan bisa makan ramen di Jepang, kenapa harus di sini?” Tapi rasa penasaran menang.

Semangkuk ramen yang muncul tampak persis seperti ramen Jepang. Ketika aku mencicipinya, aku terkejut—rasanya lezat, hampir sama seperti ramen di kampung halamanku. Aku tidak berharap banyak, tapi rasanya dalam dan menghangatkan hati.

Aku pernah mencoba “ramen” sekali di Malaysia, tapi yang ini jauh lebih enak dan lebih murah. Sejujurnya aku bisa memakannya setiap hari.

Penutup Hari yang Manis

Dalam perjalanan kembali ke hotel, aku singgah di sebuah kedai jus buah tepat di luar. Buah-buahan lokal masih menjadi misteri bagiku, jadi aku senang melihat ada keterangan tertulis tentang nama, rasa, dan kandungan nutrisinya. Rasanya seperti menemukan harta karun tersembunyi.

Mungkin aku telah menemukan tempat favorit baruku di Yogyakarta.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan