← Cerita
Diary·Thailand·22 Agustus 2025·5 menit baca

🇹🇭 Menyambut Teman Perjalanan Baru di Bangkok: Dari Vaksin hingga Pertemuan di Bandara

Pagi di Bangkok

8 Oktober, pukul 06.00, salam sekali lagi dari Long Luck Guesthouse di Bangkok. Jadwal hari ini sangat padat, jadi aku bangun lebih pagi dari biasanya untuk memastikan waktu yang cukup.

Perhentian pertamaku adalah warung sarapan yang sudah kukenal. Pagi ini, aku memesan Pad Ka Prao seharga 50 baht (sekitar 220 yen). Karena menunya seluruhnya ditulis dalam bahasa Thai, aku tidak pernah bisa membacanya—ini sudah menjadi semacam lotre pagi hari. Setiap hari, aku memesan tanpa tahu pasti apa yang akan keluar. Aku bahkan membuat aturan pribadi: jika hidangannya ternyata enak, aku menyatakan bahwa seluruh hari itu akan berjalan luar biasa. Kenyataannya, semua yang pernah kumakan selalu enak, jadi setiap pagi dimulai dengan perasaan bahwa keberuntunganku sudah yang terbaik.

Setelah sarapan, tibalah waktunya menuju putaran kedua vaksinasiku.

Vaksinasi di Snake Farm

Karena waktu terbatas, aku naik Grab untuk perjalanan cepat. Meski begitu, ada bagian dari diriku yang merindukan udara terbuka tuk-tuk—sensasi angin pagi sementara matahari perlahan terbit sungguh tak tertandingi.

Dalam lima menit, aku tiba di Snake Farm yang terkenal itu. Satu minggu telah berlalu sejak suntikan pertamaku. Waktu berlalu begitu cepat, sungguh tak terpercaya. Kali ini, aku memperhatikan papan-papan tanda yang sebelumnya tidak kuperhatikan, yang mengingatkan pengunjung tentang tujuan pusat ini.

Prosesnya cepat, selesai dalam waktu kurang dari satu jam. Aku menerima tiga suntikan: rabies (dosis kedua), tifus, dan ensefalitis Jepang. Aku cukup percaya diri, mengingat betapa lancarnya sesi pertama. Tapi kali ini, vaksin ensefalitis Jepang membuatku merasakan nyeri tumpul yang perlahan menyebar di lenganku.

Secara fisik, aku baik-baik saja secara keseluruhan, tapi lengan kananku terasa aneh, berat. Entah bagaimana, rasa tidak nyaman itu justru menenangkanku—itu berarti vaksinnya benar-benar bekerja.

Perpisahan dengan Guesthouse

Dalam perjalanan pulang, aku singgah di 7-Eleven dan mempelajari sesuatu yang baru: penjualan alkohol di Thailand dibatasi hanya pada jam-jam tertentu. Penemuan kecil seperti ini mengingatkanku betapa banyak yang masih perlu dipelajari, bahkan tentang kehidupan sehari-hari di sini.

Hari ini juga hari aku harus check out dari guesthouse. Aku mulai membersihkan kamar, memutar Wake Me Up milik Avicii berulang-ulang untuk memberi diriku energi. Dengan musik yang mendorongku maju, aku merapikan barang-barangku.

Itu adalah momen yang manis sekaligus pahit—berpamitan dengan tempat yang sempat menjadi rumah sementaraku. Tapi ini bukan perpisahan yang sepenuhnya. Staf dengan baik hati mengizinkanku meninggalkan koper, sepeda, dan trailer-ku di sana. Aku berbisik dalam hati, "Tunggu aku sebentar lagi, teman-temanku."

Bekerja dari Sebuah Kafe

Karena vaksinasi selesai dengan cepat, aku punya waktu ekstra. Aku berjalan kaki ke kafe langgananku untuk fokus bekerja. Hanya membawa ransel terasa tidak biasa—sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali aku bepergian dengan cara ini. Kesederhanaan itu membangkitkan sedikit nostalgia, membuatku bertanya-tanya apakah suatu hari aku akan mencoba perjalanan backpacking lagi.

Di kafe, aku mengeluarkan MacBook-ku, yang dihiasi stiker-stiker anime. Ini selalu memicu percakapan dengan para pelancong Barat. Sekali lagi, seseorang bertanya tentang karakter-karakternya, dan aku diingatkan betapa populernya animasi Jepang secara global.

Aku pun tenggelam dalam enam jam kerja yang padat, benar-benar larut hingga malam tiba.

Perjalanan ke Bandara

Setelah pekerjaan selesai, aku berangkat menuju halte bus. Pertanyaan pun muncul dengan sendirinya: kenapa ke bandara? Apakah aku akan naik pesawat? Jawabannya tidak. Aku pergi ke sana untuk menyambut seorang teman perjalanan baru.

Melalui media sosial, aku terhubung dengan seorang pelancong dari luar negeri—seorang perempuan yang menyukai petualangan dan mengungkapkan keinginannya: "Aku ingin bepergian bersama." Kalimat sederhana itu sangat menyentuh. Hanya sebulan sebelumnya, aku pernah menempuh perjalanan bersama seorang mahasiswa Jepang dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh. Dan sekarang, teman perjalanan lain akan segera bergabung, tapi kali ini situasinya terasa berbeda.

Sebagai pelancong asing, ia akan menghadapi pemeriksaan imigrasi yang ketat. Sebagai perempuan, keselamatan dan perencanaan membawa bobot tambahan. Ini membuat perjalanan menjadi lebih rumit, tapi juga lebih bermakna. Kesempatan seperti ini tidak sering datang. Aku merasa bersyukur atas hubungan ini, dan bertekad untuk menjaganya baik-baik.

Perjuangan di Jalan

Namun, bus itu menguji kesabaranku. Sudah lama menunggu, tapi bus itu tak kunjung datang. Penerbangannya akan tiba larut malam, jadi tidak ada bahaya sebenarnya akan terlambat menjemputnya, tapi kebiasaan Jepang yang mendarah daging untuk "tepat waktu" membuatku gelisah. Menunggu itu mengingatkanku kuat-kuat pada tempat aku dibesarkan.

Akhirnya, aku pindah ke halte lain, dan akhirnya sebuah bus pun datang. Aku membayar ongkos, menerima tiket kecil, dan duduk. Namun kemacetan Bangkok tak kenal ampun. Pukul 5 sore, jalanan berada di puncak kemacetan. Setelah merangkak terlalu lama, aku memutuskan untuk turun dan berjalan kaki sebagian jalan. Yang mengejutkan, selisih waktu antara berjalan kaki dan naik bus hampir sama saja.

Di sepanjang jalan, rasa lapar menyerang. Aku membeli ayam bakar dengan nasi seharga 30 baht (sekitar 132 yen). Makanan jalanan yang sederhana selalu memberi kekuatan saat bepergian.

Setelah berganti kendaraan sekali lagi, aku kembali naik bus. Kali ini, semuanya berjalan lebih lancar, dan sekitar pukul 8 malam—tiga jam setelah keberangkatan—aku akhirnya tiba di dekat bandara. Jaraknya hanya sekitar 20 kilometer, tapi rasanya seperti perjalanan yang panjang.

Meski begitu, pemandangan malam cakrawala Bangkok yang berpendar membuat semua perjuangan itu sepadan.

Tiba di Bandara

Sebelum masuk ke bandara, aku check in di hotel terdekat dan mengambil makan malam: nasi dan sup dari warung pinggir jalan seharga 60 baht (sekitar 264 yen). Porsinya besar, membuktikan sekali lagi betapa terjangkaunya makanan lokal.

Akhirnya, aku sampai di pintu keluar kedatangan internasional. Bandara ini ternyata mudah dinavigasi dibandingkan bandara-bandara internasional besar lainnya, di mana bagian domestik dan internasional sering terpisah jauh.

Setelah menunggu sebentar, ia muncul. Kami akhirnya bertemu. Aku lupa mengambil foto, tapi momen itu sendiri tak terlupakan. Kelegaan dan kebahagiaan menyelimutiku—kami akan segera memulai perjalanan bersama.

Hari-hari ke depan akan sibuk. Kami perlu mencarikan sepeda untuknya, mengumpulkan perlengkapan berkemah, dan mempersiapkan perjalanan. Tapi untuk saat ini, aku hanya merasa bersyukur. Perpisahan dengan perjalanan solo, dan penyambutan bagi petualangan bersama.

Memories of the Road — Thailand

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Thailand

Bagikan