← Cerita
Diary·Malaysia·23 Agustus 2025·2 menit baca

🇲🇾 65.700 Kali Makan Tersisa: Menghargai Setiap Suapan dalam Perjalanan

Dua Hari Beristirahat

Dari tanggal 24 hingga 25 November, aku mengizinkan diriku untuk memperlambat langkah. Aku tinggal di hotel, bekerja, menulis bukuku, dan merencanakan cara membuat konten untuk YouTube dan Instagram. Memiliki lebih banyak waktu dari biasanya memberiku ruang untuk berpikir, bersiap, dan berkarya dengan penuh kesadaran.

Di sela-sela kesibukan, aku keluar ke sebuah restoran di dekat sana. Di sana, aku mencoba beberapa hidangan lokal: Lemang, ketan yang dikukus dalam bambu; Roti Canai, yang tampak mirip dengan naan India; dan sebuah hidangan ikan lokal yang namanya, sayangnya, aku lupa.

Aturan Tanpa Pengulangan

Dalam perjalanan ini, aku mengikuti satu aturan: aku tidak makan hidangan yang sama dua kali. Tentu saja, aku sering merasakan keinginan untuk makan sesuatu yang lezat lagi. Tapi jika aku menyerah pada keinginan itu, aku kehilangan kesempatan untuk menemukan sesuatu yang baru. Dengan memaksa diriku mencoba makanan-makanan baru, aku memberi ruang bagi kejutan dan penemuan.

Menghitung Sisa Kali Makan

Jika aku hidup 60 tahun lagi, aku memiliki sekitar 65.700 kali makan yang tersisa (60 tahun × 365 hari × 3 kali makan). Kedengarannya banyak, tapi ketika kuurai satu per satu, angka itu terasa lebih kecil.

Jika aku bepergian ke 100 negara dan tinggal satu bulan di masing-masing, itu hanya memberiku 90 kali makan per negara. Di seluruh 100 negara, itu berarti 9.000 kali makan—sekitar 13,7% dari sisa kali makanku. Dan itu pun hanya jika aku berhasil makan tiga kali sehari.

Pada kenyataannya, ada hari-hari aku mungkin hanya makan dua kali. Ada hari-hari sakit mungkin membuatku sama sekali tidak bisa makan. Akan ada pula makanan yang dimasak oleh orang-orang terkasih, makanan yang kusiapkan sendiri, makanan yang dibuat oleh keluarga. Mempertimbangkan semua ini, setiap kali makan—terutama saat bepergian—menjadi pengalaman yang tak tergantikan.

Beban dari Melupakan

Itulah mengapa aku berusaha untuk tidak pernah makan hidangan yang sama dua kali, dan mengapa melupakan nama sebuah hidangan terasa seperti menghapus sebuah momen. Makanan bukan sekadar bahan bakar; ia adalah kenangan, sepotong perjalanan, harta kecil.

Ketika mengejar tujuan-tujuan besar, mudah untuk mengabaikan hal-hal kecil di sekitar. Mereka tampak datar, transparan, tanpa bobot. Tapi sering kali, potongan-potongan kecil itu—rasa dari hidangan yang asing, kebaikan seorang juru masak, kehangatan sebuah santapan—adalah yang memberi kedalaman sejati pada hidup.

Melupakan nama ikan itu mengingatkanku: hargai setiap momen, setiap rasa, setiap kesempatan. Karena jumlah kali makan yang tersisa tidaklah tak terbatas, dan setiap satu darinya berarti.

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Bagikan