← Cerita
Diary·Thailand·22 Agustus 2025·3 menit baca

🇹🇭 Bertemu Sesama Pesepeda di Bangkok: Hari Mencuci Baju dan Persahabatan

Cucian, Makanan, dan Pertemuan Tak Terduga

16 Oktober. Pagi ini dimulai dengan pesan sederhana: "Ayo bertemu hari ini, karena kita sama-sama bersepeda keliling dunia!" Aku menantikannya, tapi sebelum itu, ada beberapa hal yang harus kuurus dulu di penginapan.

Tugas pertama adalah mencuci baju. Berhari-hari perjalanan membuat baju kotorku menumpuk seperti gunung, dan akhirnya aku memutuskan untuk mencuci semuanya sekaligus. Satu kali cuci berharga 30 baht (sekitar 136 yen), dan selagi mesin cuci berputar selama satu jam, aku keluar untuk sarapan.

Sarapan dan Kejutan Kecil

Hanya semenit jalan kaki dari guesthouse, aku menemukan warung makan lokal. Aku memesan seporsi nasi babi, dimasak dengan gaya mirip tumis kemangi Thailand, seharga 45 baht (sekitar 203 yen).

Yang paling membuatku takjub adalah kecepatannya. Sejak aku memesan, makanan sudah siap dalam waktu kurang dari semenit. Bukan hanya lezat—tapi juga cepat luar biasa. Sambil duduk makan, aku tersenyum memikirkan betapa efisien dan hidupnya kehidupan di Thailand.

Masalah Cucian

Setelah sarapan, aku kembali, siap menjemur pakaian. Tapi kemudian aku menghadapi masalah tak terduga: guesthouse ini tidak punya tempat untuk menjemur cucian. Sesaat aku merasa buntu. Apa yang bisa kulakukan dengan setumpuk baju basah?

Lalu aku berpikir, Kenapa tidak membuat sendiri saja?

Dengan sedikit coba-coba, aku memasang tali jemuran di balkon. Terlihat asal-asalan, tapi begitu aku mundur selangkah dan memandanginya, ternyata hasilnya berfungsi dengan sempurna. Saat itu aku merasa bangga. Manusia, ketika terdesak, selalu menemukan cara untuk beradaptasi. Itulah yang kusukai dari bepergian—belajar bahwa masalah bisa diselesaikan dengan kreativitas dan ketekunan.

Merencanakan Perjalanan Berikutnya

Setelah baju-baju tergantung di bawah sinar matahari, aku duduk dengan peta di tangan untuk merencanakan bagian perjalanan selanjutnya. Pada tanggal 19, aku akan mulai bersepeda ke selatan dari Bangkok, menuju Malaysia dan Singapura.

Tapi pertanyaannya masih ada: haruskah aku kembali dan menyeberang ke Indonesia lewat Dumai, atau langsung ke Pulau Batam lalu ke Pontianak di Kalimantan?

Rute kedua lebih menggodaku. Hanya sedikit pesepeda yang pernah menempuhnya, dan hal yang belum diketahui selalu membuatku bersemangat. Kadang jalan yang jarang dilalui adalah tempat lahirnya kisah-kisah terbesar.

Makan Siang dengan Rasa yang Akrab

Menjelang tengah hari, rasa lapar kembali datang, jadi aku kembali ke warung yang sama untuk makan siang. Kali ini aku memesan tumis sayur dengan telur seharga 50 baht (sekitar 226 yen). Rasanya mengingatkanku pada rumah di Jepang, dan perasaan hangat menyelimutiku.

Bepergian sering kali soal hal-hal baru, tapi kadang, menemukan sesuatu yang akrab bisa terasa sama berharganya.

Perjalanan ke Khao San Road

Sore harinya, akhirnya tiba waktunya untuk berangkat menemui sesama pelancong. Aku bersepeda menuju kawasan Khao San Road, menyelinap di antara lalu lintas dan jalanan yang ramai.

Di tengah perjalanan, aku melihat pemandangan indah dan tak tahan untuk berhenti mengambil foto. Tapi saat melirik jam tanganku, aku sadar sudah terlambat lima menit. Rasa terburu-buru itu, keinginan untuk tidak terlambat, mengingatkanku betapa budaya Jepang masih hidup dalam diriku, bahkan saat berada jauh dari negeri sendiri.

Aku mengambil satu foto lagi, kali ini menyertakan sepedaku. Bagaimanapun, sepeda itu sudah membawaku sejauh ini—ia layak menjadi bagian dari kenangan ini.

Bertemu Sesama Pesepeda Dunia

Dan kemudian, akhirnya, itu terjadi.

Aku bertemu Yuya, pesepeda Jepang lain yang juga berkeliling dunia. Begitu kami berjabat tangan, gelombang lega dan kegembiraan menyelimutiku. Bertemu seseorang yang benar-benar memahami kesulitan dan kebahagiaan perjalanan panjang—rasanya seperti bertemu keluarga.

Kami membicarakan banyak hal: kehidupannya di Kyushu, rencananya merenovasi rumah tua khas Jepang, dan bagaimana bersepeda telah membentuk caranya memandang dunia. Setiap kata terasa berbobot karena kami berdua telah melalui tantangan yang serupa.

Ketika tiba waktunya berpisah, kami mengucapkan frasa yang sama yang telah kukatakan kepada banyak orang lain sepanjang perjalanan ini: "Sampai bertemu lagi di suatu tempat di dunia."

Tapi kali ini, ada sesuatu yang lebih nyata. Pertemuan kami berikutnya kemungkinan besar akan terjadi di Jepang, di rumah pertanian hasil renovasinya. Pikiran itu memenuhiku dengan kebahagiaan.

Perjalanan menghubungkan orang-orang dengan cara yang tak terduga. Dan kadang, hubungan itu berubah menjadi persahabatan seumur hidup.

Memories of the Road — Thailand

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Thailand

Bagikan