Awal Tanpa Tidur dan Tanjakan yang Brutal

Pagi tanggal 6 Juni dimulai dengan alunan suara tanpa henti dari hampir 100 ekor ayam yang berkokok sejak tengah malam buta hingga fajar menyingsing. Aku nyaris tidak bisa memejamkan mata, tapi akhirnya berhasil memaksakan diri bangun dari tempat tidur. Tuan rumah yang luar biasa baik hati yang mengizinkanku menginap di tempatnya menyiapkan sarapan sederhana berupa biskuit dan kopi sebelum aku kembali melanjutkan perjalanan.

Hari itu diawali dengan sedikit turunan, tapi itu ternyata jebakan belaka. Setelahnya menyusul tanjakan yang curam dan menyiksa, melintasi batas dari Cebu City menuju distrik Balamban. Setelah entah bagaimana berhasil bertahan melewati tanjakan besar pertama itu, aku singgah untuk makan di sebuah kedai burger lokal. Langit terlihat mendung dan mengancam, jadi aku mampir sebentar untuk beristirahat di sebuah kedai kopi bernama DCC sebelum kembali menghadapi tanjakan tanpa akhir itu.

Hujan Deras dan Bencana

Setelah memaksakan diri melewati tanjakan tanpa akhir itu, akhirnya aku tiba di area puncak. Di sana, aku berpapasan dengan beberapa tokoh pertanian lokal, berbagi makanan dan mengobrol dengan seru.
Namun tepat saat aku mulai menuruni turunan yang curam dan berbahaya, langit tiba-tiba pecah seketika. Badai hujan yang dahsyat datang, membawa gelombang bencana yang benar-benar total. Router Wi-Fi-ku mati, dan power bank-ku benar-benar habis total. Terjebak, aku meringkuk di sebuah tempat berlindung bersama beberapa penduduk lokal, mengobrol ringan sambil menunggu hujan deras yang tak kunjung reda itu berlalu.


Tempat Berlindung yang Tak Terduga
Begitu badai reda, aku terus melangkah hingga tiba di sebuah area bernama Balamban District 3. Di dalam sebuah kapel setempat, aku menemukan beberapa anak sedang mengerjakan tugas bersih-bersih mereka. Aku mengajak mereka mengobrol dan bertanya apakah mereka tahu tempat di mana aku bisa menginap malam itu. Di luar dugaan, mereka justru mengundangku untuk menginap di rumah mereka.
Keramahan keluarga ini benar-benar luar biasa. Mereka tidak hanya menyuguhiku makanan hangat, tapi juga mencucikan pakaianku—bahkan sampai dua kali cucian terpisah!
Mengapa Kita Melakukan Perjalanan
Ada banyak momen hari ini ketika kendala bahasa terasa begitu besar, dan kata-kataku sama sekali tidak bisa tersampaikan. Namun, meski tidak fasih berbicara dalam bahasa yang sama, kami tetap berhasil terhubung pada level yang jauh lebih dalam. Ini membuatku bertanya-tanya: apa sebenarnya tujuan sejati dari perjalanan seperti ini? Hari ini aku menyadari bahwa semuanya bermuara pada momen-momen koneksi manusia yang murni dan tak terskenariokan ini. Dari hujan yang membawa bencana hingga kehangatan rumah seorang yang baru kukenal, ini adalah hari yang tidak akan pernah, pernah kulupakan.