Masih Berjuang Melawan Flu
11 Juli. Kondisiku? Yah, sudah sedikit membaik. Tapi benar-benar tipis sekali.
Aku jelas masih jauh dari 100%. Sepanjang hari ini—dari pagi sampai sore—aku hampir tidak beranjak dari tempat tidur.
Aku harus check out dari guesthouse ini dan pindah ke tempat berikutnya lusa, tanggal 13 Juli, jadi aku benar-benar harus segera pulih. Tapi ya ampun, badanku rasanya seperti timah.
Meski begitu, tidak mungkin melawan flu dengan perut kosong, kan? Tanpa sisa tenaga, akhirnya aku memaksakan diri keluar ke udara panas malam hanya untuk mencari makan.
Pesta Jalanan Malam Jumat yang Tak Terduga

Dalam perjalanan pulang setelah makan malam, saat melewati jalan yang biasa kulalui, aku melihat sekelompok bapak-bapak lokal sedang nongkrong.
Karena malam itu malam Jumat, mereka mengadakan pesta jalanan dadakan, membakar ikan langsung di trotoar. Mereka dengan santai mengajakku bergabung, dengan murah hati menawarkan hasil tangkapan mereka.
Dan kemudian, keluarlah Tanduay—rum legendaris khas Filipina.
"Terapi Kejut"
Sejujurnya, aku benar-benar bimbang. Minum minuman keras saat sedang flu parah? Sepertinya ini ide paling buruk yang pernah ada.
Tapi... ada sesuatu dalam diriku yang tidak bisa menolak keramahan warga lokal.
"Coba terapi kejut saja," pikirku.
Aku membayangkan ini bisa langsung menyembuhkanku atau justru membuatku benar-benar tumbang. Ini taruhan besar—kesehatanku bisa melonjak ke +100 atau anjlok ke -2. Dengan merangkul pola pikir kacau itu, aku menenggak rum tersebut.
Koneksi adalah Obat Terbaik
Mengejutkan, mengambil risiko itu ternyata justru menjadi hal yang paling kubutuhkan.
Aku sudah terkurung di kamar seharian, tanpa bicara dengan siapa pun. Hanya dengan nongkrong, mengobrol, dan tertawa bersama mereka, semangatku langsung terangkat luar biasa.
Ini mengingatkanku betapa kuatnya interaksi manusia yang sederhana. Flu ini belum benar-benar hilang, tapi energiku jelas mulai kembali.
Semoga saja momentum ini membawaku menuju pemulihan penuh sebelum hari kepindahan!