← Cerita
Diary·Philippines·5 Juni 2026·2 menit baca

Berjalan dengan Cara yang Sulit: Mengapa Menarik Trailer 1000 Kali Lebih Berat daripada Bersepeda

Tingkat Kelelahan yang Sama Sekali Baru

Pagi hari di area perkemahan

Jumat, 5 Juni. Hari kedua perjalanan jalan kaki ini resmi selesai, dan aku sampai pada sebuah kesadaran yang pahit.

Ini seribu kali lebih berat dibandingkan perjalanan bersepeda.

Berjalan sambil menarik trailer benar-benar merupakan siksaan bagi seluruh tubuh. Berbeda dengan bersepeda, di mana sepeda menanggung sebagian besar beban fisik, di sini setiap sendi dan otot menjerit dengan cara yang sama sekali berbeda. Mulai dari mencari cara menghindari hujan deras yang tiba-tiba hingga mencari tempat berlindung, semuanya adalah pertarungan ketahanan yang terus-menerus dan melelahkan.

Perlengkapan yang Bisa Diandalkan dan Musuh Terbesarku

Bersama seorang staf di sebuah resor dekat area perkemahan

Untungnya, trailer kargo-ku bertahan dengan sangat baik. Aku perlahan mulai terbiasa mengendalikannya dan menariknya dengan efisien melewati jalan yang kasar dan berbatu.

Tapi kelegaan apa pun yang kurasakan dari perlengkapanku itu sepenuhnya tertutupi oleh musuh utama setiap pejalan jarak jauh: lecet akibat gesekan.

Rasanya benar-benar menyiksa. Setiap satu langkah, gesekan menyakitkan di bagian dalam paha itu terus mengikis tekad dan semangatku. Ini mengacaukan perkiraanku soal jarak dan membuatku dilanda kecemasan tentang seberapa jauh lagi aku sebenarnya bisa melangkah. Sekadar mencari motivasi untuk melangkahkan kaki satu demi satu kini menjadi tugas yang luar biasa berat.

Murni Soal Bertahan dan Kebahagiaan yang Sekejap

Makan siang di sebuah kedai carinderia lokal

Mencari tempat untuk berkemah adalah tantangan tersendiri yang sama sekali berbeda. Saat bersepeda, kamu punya keleluasaan untuk mengecek beberapa lokasi dan dengan santai berbalik arah jika salah satu tidak cocok. Saat berjalan kaki, pilihanmu jauh lebih terbatas. Kamu harus mengambil keputusan cepat dan pasti soal di mana akan tidur, karena berbalik arah sama sekali bukan pilihan.

Langit mendung yang mengancam akan turun hujan

Jujur saja, hampir seluruh pengalaman ini hanya soal bertahan menghadapi kesulitan fisik. Namun, justru itulah yang membuat momen-momen sekejap—seperti detik saat menyesap minuman atau akhirnya menemukan tempat aman untuk beristirahat—terasa begitu luar biasa membahagiakan. Kilasan-kilasan kebahagiaan singkat itulah satu-satunya hal yang membuatku terus melangkah.

Mata Tertuju pada Balamban

Sebuah keluarga lokal yang mengizinkanku berteduh di rumah mereka saat hujan mulai turun

Meski penuh penderitaan, aku berhasil menempuh sekitar 15 hingga 16 kilometer hari ini. Lebih baik lagi, aku akhirnya berhasil melewati sebagian besar tanjakan tanpa akhir itu.

Menginap semalam di halaman rumah sebuah keluarga lokal akibat hujan deras

Besok, jika lecet parahku mengizinkan, rencananya aku akan menuju kota Balamban. Satu langkah penuh rasa sakit namun penuh tujuan, demi satu langkah.

Bagikan