← Cerita
Diary·Indonesia·17 September 2026·2 menit baca

Merawat Para Leluhur: Sehari di Dalam Ritual Ma'nene Toraja, dari Kursi Ban Bekas hingga Ballo yang Difermentasi

Kecerdikan Kreatif dalam Kehidupan Sehari-hari

Terbangun oleh matahari terbit yang indah pada 17 September, aku bersiap untuk hari lain yang penuh dengan budaya lokal yang mendalam. Rencananya, aku akan menghadiri berbagai rangkaian acara Ma'nene, sebuah ritual leluhur yang unik.

Matahari terbit berwarna jingga keabuan di atas atap-atap rumah Toraja dan sawah

Setelah sarapan, aku mampir ke sebuah kafe di dekat sana. Yang langsung menarik perhatianku adalah kursi-kursi yang sangat orisinal, dibuat oleh sang pemilik dari ban-ban bekas. Mengandalkan apa yang sudah tersedia untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru—pendekatan penuh daya cipta terhadap kehidupan sehari-hari ini meninggalkan kesan mendalam bagiku.

Sebuah kursi buatan tangan yang dianyam dan dibentuk sepenuhnya dari ban karet bekas

Setelah menikmati kopi pagi, aku mengendarai motor menuju desa tempat upacara-upacara itu berlangsung.

Persembahan "Siri" dan Perawatan yang Penuh Ketelitian

Ini adalah hari ketigaku menghadiri ritual-ritual Ma'nene.

Lokasi ini memiliki tiga makam yang berbeda, dan aku memulai pengamatanku dari yang paling bawah. Di sini, para kerabat berkumpul untuk melakukan ritual persembahan yang dikenal sebagai "Siri". Mereka dengan telaten mempersembahkan pakaian baru, kain, daun sirih, kapur sirih, dan pinang kepada para leluhur mereka. Persembahan tradisional ini hanya dilakukan selama makam masih terbuka, sebagai penghormatan penting bagi yang telah tiada.

Sebuah tangan menata daun sirih, buah pinang, dan persembahan-persembahan kecil yang digelar di atas tanah

Bergerak sedikit ke atas menuju makam tengah, aku menyaksikan sebuah pemandangan yang sangat personal. Para pemuda telah mengeluarkan jenazah leluhur dari liang lahat dan tengah membersihkannya dengan hati-hati.

Keluarga dan warga desa berkumpul mengelilingi jenazah yang dibaringkan di atas terpal di depan makam batu

Memanjat ke titik-titik yang tinggi, mereka memperhatikan dengan cermat bahkan noda kotoran terkecil sekalipun, menunjukkan rasa hormat yang tak tergoyahkan kepada para pendahulu mereka.

Kerumunan besar warga desa dan anak-anak berkumpul di sekitar sebuah makam saat ritual pembersihan berlangsung

Seorang pria berdiri tinggi di atas makam batu berlumut, membersihkan permukaan batu di dekat pintu masuk

Ujian Penghormatan: "Ballo" yang Difermentasi

Di sela-sela pekerjaan mereka, warga setempat dengan murah hati menawarkan sebuah minuman beralkohol bernama "Ballo" kepadaku. Dituang langsung dari sebuah wadah bambu, minuman yang telah difermentasi kuat ini memiliki rasa yang sangat keras dan menantang.

Sebuah gelas plastik berisi Ballo, arak aren fermentasi berwarna putih keruh

Meski rasanya sangat keras dan sulit ditelan, aku meminumnya sampai habis untuk menghormati keramahan hangat mereka. Menyantap apa pun yang disuguhkan adalah sebuah prinsip pribadi yang selalu kupegang teguh saat bepergian.

Foto bersama warga desa setempat dan teman-teman yang tersenyum di dalam hutan setelah berbagi Ballo

Namun, fermentasi yang begitu kuat itu memberikan efeknya, dan aku pun jatuh sakit tak lama kemudian. Ketika aku terbaring lemas di dekat lokasi ritual, seorang wanita tua dengan penuh kebaikan menghampiriku dan mengajakku beristirahat di rumahnya.

Sawah yang Bagai Cermin Air dan Kebaikan Tanpa Batas

Perjalanan menuju rumah adatnya, sebuah Tongkonan, menyingkapkan pemandangan yang menakjubkan. Meski saat itu musim kemarau dan hujan sudah tak turun selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, sawah-sawah bertingkat di wilayah ini secara ajaib tetap dipenuhi air, memantulkan sekelilingnya bagai cermin kaca.

Sawah bertingkat yang dipenuhi air bagai cermin, memantulkan perbukitan di sekitarnya

Menemukan kedamaian di bawah atap rumahnya, aku sangat menghargai kehangatan keramahannya.

Duduk di atas tikar anyaman di dalam rumah adat Tongkonan, berbincang dengan seorang wanita tua setempat

Sebelum pergi, aku berjanji akan kembali keesokan harinya, bahkan mengatur untuk menginap semalam, memberiku kesempatan yang tak ternilai untuk menyelami lebih dalam lagi jalinan budaya mereka.

Sekembalinya ke penginapanku sendiri malam itu, aku mencari sebuah warung makan setempat dan menyantap sepiring besar sayuran untuk membantu memulihkan tubuhku.

Sepiring tempe goreng, kol rebus, timun, dan sambal di sebuah warung makan setempat

Ini adalah hari ketiga Ma'nene yang begitu memuaskan, yang terus-menerus membukakanku pada dunia-dunia yang belum pernah kulihat dan kebaikan tanpa batas dari masyarakat setempat.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan