← Cerita
Diary·Philippines·1 Juni 2026·2 menit baca

Bertahan atau Melangkah Pergi? Merangkul Ritme Slow Travel dan Cita Rasa Lokal di Cebu

Persimpangan di Cebu: Sebuah Undangan Istimewa

Pagi tanggal 1 Juni dimulai relatif pagi, sekitar pukul 6:30. Setelah merangkak bangun dari tempat tidur, aku menghabiskan beberapa jam pertama menyelesaikan pekerjaan meja. Meski sebagian diriku selalu gatal untuk berkemas dan melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, aku mendapati diriku terjebak dalam semacam dilema.

Minggu ini, aku punya kesempatan untuk menghadiri Binyag—sebuah pembaptisan tradisional Filipina. Acara ini untuk anak dari seorang teman Jepang dan istrinya yang orang Filipina. Ini adalah upacara sakral di mana pastor menuangkan air suci ke kepala bayi, secara resmi menyambutnya ke dalam iman Kristen dengan nama yang diberikan. Haruskah aku tinggal, atau haruskah aku terus melangkah? Jika aku melewatkan ini, jendela langka menuju budaya lokal yang otentik mungkin tidak akan pernah terbuka lagi. Traveling bukan hanya soal mencentang daftar destinasi; ini soal koneksi manusia yang mentah dan tulus semacam ini. Saat aku menimbang pilihanku, hatiku mulai condong kuat untuk tinggal di sini hingga minggu depan.

"Makan Sayurmu": Penyelamat dari Seorang Teman Seperjalanan

Sarapan pagi di Cebu

Memutuskan untuk melonggarkan jadwalku membawa rasa kebebasan yang mendadak dan menyenangkan ke hariku. Sekitar jam makan siang, aku pergi mencari makanan bersama teman seperjalananku—partner setia yang sama yang berjalan bersamaku sepanjang jalan dari Bandara Mactan. Di tengah jalan, dia menatapku dan memberi nasihat berharga: "Bro, kamu perlu makan lebih banyak sayur. Ayo kita perbanyak sayuran."

Kata-katanya benar-benar mengena. Jujur saja, perutku belum benar-benar baik sejak tiba di Cebu. Pola makan lokal di sini sangat bergantung pada daging, dan hampir semuanya dipenuhi rasa yang kuat dan asin. Kalau kamu tidak secara aktif mencari sayuran, tubuhmu akan cepat membayar harganya. Untuk menjaga perjalanan ini tetap berjalan, memprioritaskan kesehatan sama pentingnya dengan menikmati kuliner lokal. Dengan pemikiran itu, aku memilih sup kubis yang menghangatkan untuk makan siang. Merasakan kehangatan dan nutrisinya mengendap dalam tubuhku adalah persis yang aku butuhkan.

Berganti Suasana dan Mencicipi Sisig Otentik

Sisig yang masih mendesis dengan telur goreng di atas hot plate

Di sore hari, aku check-in ke hotel baru untuk mengubah suasana. Aku selalu kesulitan tinggal di satu tempat terlalu lama. Bagiku, mengganti pemandangan, merasakan suasana kamar baru, dan bekerja dari ruang yang segar adalah cara terbaik untuk menekan tombol reset mental.

Ketika malam tiba, aku keluar mencari Sisig yang otentik dan pas. Yang aku dapatkan adalah seporsi daging cincang yang masih mendesis, nasi putih, dan telur goreng di atasnya yang sangat tipis dan hampir hancur berkeping-keping. Bukan hidangan yang tampil sempurna, tapi begitu aku menggigitnya, penampilan jadi tidak penting lagi. Rasanya adalah ledakan cita rasa gurih yang kaya—benar-benar lezat.

Kopi drip dari minimarket 7-Eleven Filipina

Dalam perjalanan pulang, aku mampir ke 7-Eleven setempat dan mencoba kopi drip buatan mesin mereka. Sebelum menyesapnya, aku dengan sinis berasumsi rasanya paling banter biasa saja. Tapi ternyata benar-benar mengejutkanku. Rasanya kaya, kuat, dan benar-benar enak. Melangkah keluar dari zona nyaman, bahkan untuk hal sekecil kopi minimarket, bisa membawa kejutan yang menyenangkan. Ini pengingat lembut mengapa aku traveling sejak awal.

Bagikan