← Cerita
Diary·Philippines·31 Mei 2026·1 menit baca

Masuk ke Hutan: Menemukan Akar Kemanusiaan di Pegunungan Carcar, Cebu yang Masih Perawan

Melangkah Keluar dari Jalur Umum

Hiro di pagi hari sebelum berangkat

Pada 30 Mei, aku berangkat pagi-pagi sekali, menuju rumah adik perempuan dari istri temanku. Setelah bertemu di terminal bus setempat, kami naik bus menuju Carcar. Kota ini terletak sekitar 40 kilometer di selatan Cebu. Carcar sangat terkenal dengan lechon-nya, babi panggang lokal yang menggugah selera.

Terminal bus lokal dekat Cebu

Kami mengisi perut di sana sebelum melanjutkan perjalanan. Ditemani suami dari kakak perempuan—yang kebetulan menjalankan toko bunga—kami membelok ke utara dan menembus jauh ke dalam hutan pegunungan.

Suasana jalan pasar Carcar

Suami dari adik istri temanku sedang bekerja di pasar Carcar

Saat kami menerobos lebih dalam ke wilayah yang tak dikenal, sinyal Wi-Fi perlahan melemah lalu mati sepenuhnya. Tak lama kemudian, kami sepenuhnya ditelan oleh hutan yang masih perawan dan tak tersentuh. Lingkungan itu memukau, benar-benar lepas dari peradaban modern.

Kehidupan di Alam Liar

Tiba di destinasi hutan pegunungan yang rimbun

Apa yang aku temukan di sana adalah cara hidup yang penuh warna dan tak dibuat-buat. Anak-anak setempat sedang asyik bermain basket, dan seorang pemuda dengan mudahnya memanjat pohon kelapa setinggi 10 meter hanya untuk memetik kelapa segar untuk kami. Kemudian, kami semua berkumpul untuk menikmati makan malam buatan rumah yang benar-benar lezat bersama-sama.

Terbungkus dalam lanskap liar yang begitu menakjubkan ini membawa sebuah kesadaran yang mendalam. Aku merasakan dengan sungguh-sungguh bahwa akar sejati kemanusiaan ada di sini, di jantung alam.

Melangkah ke dunia asing ini tepat sebelum perjalanan sesungguhnya dimulai membuatku benar-benar dipenuhi semangat. Aku sangat berterima kasih kepada teman-temanku karena telah memberiku pengalaman mentah yang begitu berharga untuk memulai petualangan ini.

Bagikan