Berangkat dari Phnom Penh

Pada 7 September, aku akhirnya meninggalkan Phnom Penh setelah memperpanjang masa tinggalku jauh melebihi rencana awal. Awalnya, kupikir dua atau tiga hari akan cukup, tapi pada akhirnya aku tinggal lebih lama. Aku menyadari bahwa dibutuhkan setidaknya empat hari untuk benar-benar memahami bentuk dan suasana sebuah kota secara permukaan. Dan jika seseorang ingin memahami esensinya yang lebih dalam, hari-hari saja tidak akan pernah cukup—mungkin bertahun-tahun diperlukan.
Di kafe langgananku, aku mengucapkan salam perpisahan, lalu memulai perjalanan bersepeda. Cuacanya sempurna, dan kondisi jalannya sangat bagus. Tujuanku adalah Skun, sebuah kota yang kudengar mudah dicapai lewat jalan yang lebar dan lurus. Di sepanjang jalan, aku melewati rumah-rumah "Borei" yang belakangan populer—bangunan megah yang dikagumi oleh pasangan muda, tampilan mewahnya mencerminkan naiknya harga tanah di sekitar situ.
Pertemuan-Pertemuan Kecil di Sepanjang Jalan

Karena aku berangkat terlambat, panasnya matahari cepat menyergapku. Istirahat menjadi keharusan. Anak-anak berkumpul di tempat aku berhenti, dan aku membagikan stiker anime. Ibu mereka menawariku air sebagai balasan. Anak-anak lelaki itu keras kepala, hampir berlebihan, tapi aku merasa itu lucu dan menjanjikan untuk masa depan mereka. Adik perempuan mereka juga bersikeras ingin mendapat bagiannya, yang berujung pada pertengkaran kecil antar-saudara. Aku harus turun tangan membantu membagi stiker itu secara adil.
Aku tersenyum saat melihat stiker Tokyo Revengers dan Detective Conan ditempelkan di sepeda-sepeda mereka. Bahkan di sini, jauh dari Jepang, karakter-karakter ini memicu kegembiraan dan kreativitas.
Tiba di Skun

Akhirnya, aku tiba di kota itu. Guesthouse-ku begitu mencolok dengan satu warna dominan: merah muda. Seluruh bangunan, dalam dan luar, dicat merah muda—bahkan kamar yang kutempati. Anehnya, sepeda diperbolehkan masuk ke dalam ruangan sementara motor tidak. Aku tidak mengerti alasannya, tapi aku menerimanya begitu saja.
Sebelum beristirahat, aku mengunjungi "Spider Market" milik Skun yang terkenal. Jaraknya sebenarnya dekat untuk berjalan kaki, tapi sebuah keluarga setempat bersikeras agar aku naik motor anak lelaki mereka. Kebaikan hati mereka menghangatkan hatiku, meski sebenarnya tumpangan itu tidak terlalu diperlukan.
Di pasar itu, aku menggenggam seekor laba-laba di tanganku. Bentuknya nyaris lucu—seperti sepupu dari tarantula. Aku belajar bahwa laba-laba ini digali dari dalam tanah sebelum dimasak dan dijual.
Mencicipi Serangga

Aku membeli beberapa jenis serangga untuk makan malam. Jangkriknya ternyata cukup lezat, tak jauh berbeda dengan camilan biasa. Laba-labanya terasa seperti ayam, sementara serangga lain yang belum kukenal ternyata paling lezat dari semuanya. Aku terkejut karena makanan serangga ternyata jauh lebih enak dimakan—dan lebih menyenangkan—dari yang kubayangkan.
Bahkan pergi ke kamar mandi pun menjadi sebuah pelajaran. Aku harus membayar sejumlah kecil uang, yang awalnya terasa seperti dikenai biaya berlebihan. Tapi toiletnya bersih sekali, dan aku menyadari bahwa uang itu digunakan untuk menjaga standar kebersihan tersebut. Hal ini membuatku menghargai betapa bahkan layanan dasar pun membutuhkan perhatian dan usaha di banyak belahan dunia.
Mengakhiri Hari

Dalam perjalanan pulang, aku bertemu lagi dengan pemuda yang sama yang sebelumnya menawariku tumpangan. Kali ini juga, dia bersikeras membantuku. Tawarannya tegas namun berakar dari kebaikan hati, dan aku tidak merasa canggung untuk menerimanya.
Malam itu, aku kembali ke kamarku yang merah muda dan mulai makan. Setelah mandi dan menyelesaikan beberapa pekerjaan, aku bersiap untuk tidur—meski butuh waktu agak lama untuk menemukan sakelar lampu tersembunyi di belakang tempat tidur. Pengingat kecil lainnya: bahkan hal-hal sederhana dalam perjalanan bisa berubah menjadi petualangan kecil.
