← Cerita
Diary·Australia·25 Agustus 2025·2 menit baca

Melbourne Hari Kedua: Kopi, Sejarah, dan Semangkuk Ramen yang Menghangatkan

Pagi Bersama Kopi dan Kreativitas

Pada pagi keduaku di Melbourne, aku bangun dengan sisa kantuk yang masih menempel di mata. Di sakuku ada kartu myki yang baru saja kubeli sehari sebelumnya. Dengan kartu ini, akhirnya aku bisa naik trem dan bus, dan sedikit demi sedikit aku belajar cara berkeliling kota ini.

Pagi itu, seseorang yang pernah kutemui mengajakku minum kopi. Tempat pertemuan kami adalah sebuah tempat yang tenang dan hangat di dekat sebuah gereja. Di dalamnya, aku mendapati diriku dikelilingi oleh sutradara film, desainer, dan orang-orang dari berbagai bidang kreatif.

Udara dipenuhi percakapan dan gagasan, dan sesaat aku merasa seakan melangkah masuk ke dalam adegan sebuah film. Aroma kopi yang mengepul dari secangkir kopi menyentuh sesuatu yang dalam di diriku.

Meskipun aku ingin berlama-lama dan mengobrol lebih banyak, aku sudah punya jadwal pekerjaan, jadi setelah sekitar satu jam aku pun pamit dengan tenang.

Belajar Tentang Masa Lalu

Siang harinya, orang yang sama menghubungiku lagi. "Hari ini ada acara Aborigin. Kalau kamu tertarik, ikutlah."

Hari itu adalah National Sorry Day—hari ketika pemerintah dan masyarakat Australia menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Aborigin atas diskriminasi dan kebijakan asimilasi paksa di masa lalu.

Di acara itu, aku melihat serbet-serbet yang ditata dengan warna hitam, merah, dan kuning. Baru saat itu aku tahu bahwa warna-warna itu adalah warna simbolis masyarakat Aborigin.

Kata "Aborigin" selama ini hanya kukenal sepintas lalu. Namun di sini, tepat di hadapanku, kata itu dibawa oleh wajah-wajah, suara-suara, dan beban sejarah yang nyata. Bepergian bukan hanya soal melihat lanskap baru. Bepergian juga soal menyentuh sejarah, latar belakang, dan perasaan orang-orang yang tinggal di suatu tempat. Bagiku, ini adalah salah satu bentuk pembelajaran yang paling penting.

Aku bukan seorang jurnalis. Namun melalui perjalananku, aku ingin menghadapi dunia yang nyata dengan mataku dan hatiku sendiri.

Dituntun oleh Kebaikan Hati

Setelah acara itu, aku kembali ke hotel untuk berkemas. Tak lama kemudian, seseorang yang pernah terhubung denganku lewat media sosial menawarkan, "Menginaplah di tempatku."

Sekali lagi, kebaikan hati yang kutemui secara tak terduga di kota ini menuntun langkah berikutnya dalam perjalananku. Malam itu, aku ditraktir semangkuk ramen hangat. Setiap suapan membawa kehangatan yang menyentuh bukan hanya tubuhku, tetapi juga hatiku.

Kemudian, sambil berbaring di ranjang hotel, aku merenungkan hari itu. Rasanya seperti duniaku telah tumbuh sedikit lebih luas.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan