← Cerita
Diary·Indonesia·25 Agustus 2026·3 menit baca

Main Bola Plastik dan Terjun ke Festival Marawai Pertama di Indonesia!

Sepak Bola Pagi: Bola Plastik dan Semangat Tanpa Batas

Aku memulai hari ini dengan menepati janji yang kubuat kemarin—main sepak bola bersama anak-anak di lingkungan sekitar!

Aku bahkan belum tahu nama mereka, tapi menendang bola bersama adalah cara tercepat untuk berteman. Menariknya, kami tidak memakai bola kulit standar. Sebagai gantinya, kami main dengan bola plastik kuning cerah. Rupanya, begitulah cara banyak orang di sini biasa bermain santai!

Ini benar-benar mengingatkanku betapa besarnya cinta Indonesia terhadap sepak bola. Kamu bisa merasakan gairah itu ke mana pun kamu pergi, apalagi melihat betapa fanatiknya mereka terhadap tim nasional.

Bermain sepak bola bersama anak-anak lokal menggunakan bola plastik kuning cerah

Terjun ke "Festival Marawai" yang Pertama Kalinya Digelar

Siang harinya, aku berangkat ke sebuah acara bernama "Festival Marawai" yang digelar di Negeri Hatalai, Provinsi Maluku.

Coba bayangkan—ini ternyata kali pertama festival ini pernah digelar! Festival ini dirancang untuk merayakan musik lokal, budaya tradisional, dan seni. Mendengar bahwa para seniman lokal akan berkumpul di sana, aku jadi sangat bersemangat untuk melihatnya.

Tiket masuknya hanya berupa cap tinta di tangan, seharga 35.000 rupiah (sekitar $2.50 USD).

Cap tinta di tanganku sebagai tanda masuk festival

Begitu aku masuk, aku disambut oleh orang-orang yang memainkan Tifa, gendang tradisional Maluku. Bagian yang bikin heran: bentuknya besar dan terlihat berat, tapi ternyata benar-benar berongga di dalamnya. Beratnya bahkan lebih ringan dari botol air 500ml atau segulung tisu toilet! Bahkan stik pemukulnya terasa lebih ringan dari smartphone-ku. Jujur saja, aku sempat kaget.

Para musisi memainkan Tifa, gendang tradisional Maluku, di bawah tenda merah

Tarian Perang yang Garang dan Ketukan Bambu

Selanjutnya adalah Cakalele, tarian perang tradisional yang menampilkan keberanian dan keterampilan bertarung.

Para penari benar-benar membawa pedang panjang dan tombak sungguhan. Ketika bilah-bilah itu digesekkan ke tanah, terdengar bunyi logam yang tajam dan menusuk telinga. Jujur saja, kelihatannya cukup berbahaya—satu gerakan salah saja bisa membuatmu terluka—tapi energi mentah dan keahlian mereka benar-benar memukau.

Berpose bersama para penari perang Cakalele yang mengenakan cat tubuh hitam sambil memegang pedang dan tombak

Siang harinya, aku menyaksikan Tari Saureka-Reka (dikenal juga sebagai Tari Gaba-Gaba), tarian bambu tradisional khas Ambon. Para penari melompat dengan ritme di antara empat batang bambu yang terus bergerak. Aku pernah melihat ini di TV, jadi menyaksikannya langsung terasa seperti momen "tidak menyangka bisa lihat sendiri".

Para penari membawakan Tari Saureka-Reka, tarian bambu

Tapi penonton benar-benar paling heboh saat Tari Lenso ditampilkan. Kudengar pertunjukan yang satu ini hanya digelar sekali setiap 14 tahun! Para perempuan yang lebih tua, mengenakan busana putih formal bergaya pengantin, menari dengan anggun, dan penonton dibuat histeris. Setelah itu, seorang artis hip-hop naik panggung dan suasana pun makin memanas.

Berpose bersama para penari Tari Lenso yang mengenakan busana putih formal

Seorang penampil bernyanyi di atas panggung setelah Tari Lenso

Sup Kacang Merah, Polisi yang Baik Hati, dan Pantai Tersembunyi

Ini bagian paling menghangatkan hati hari itu: seorang polisi setempat ternyata sudah menemaniku berkeliling sejak pagi. Menjelang malam, dia mengajakku makan.

Kami makan hidangan bernama Sup Brenebon, sup kaya rasa yang dibuat dari Kacang Merah. Rasanya luar biasa enak!

Seporsi Sup Brenebon, nasi, dan daging dengan kacang merah

Setelah makan, dia berkata, "Ayo jalan-jalan," dan kami pun naik motornya. Kami berkendara sekitar 5-6 km ke selatan kota Ambon, menembus hutan lebat, lalu 4-5 km lagi ke arah tenggara melewati perbukitan yang lumayan ekstrem. Tujuannya? Pemandangan laut tersembunyi yang menakjubkan.

Berdiri di atas bebatuan vulkanik menghadap teluk laut tersembunyi dekat Ambon

Sambil bersantai di sana, aku bertemu beberapa warga lokal yang bercerita tentang Jalur Rempah abad ke-15, tentang bagaimana orang Spanyol dan Portugis dulu mengarungi perairan ini demi rempah-rempah. Berdiri di sana sambil meresapi sejarahnya benar-benar pengalaman yang romantis.

Buah pala segar dengan bunga pala merah yang masih menempel, kupegang di tanganku

Nilai Tak Terhingga dari Melangkah ke Luar

Kami kembali untuk acara utama malam itu, dan lokasinya benar-benar dipadati orang.

Kerumunan penonton yang padat menghadap panggung di acara malam Festival Marawai

Setelah menikmati suasananya selama sekitar tiga jam, sang polisi dengan baik hati mengantarku pulang sampai ke depan pintu—bahkan membungkuskan sup kacang merah dan ayam goreng yang enak itu untuk kubawa pulang! Serius, baik banget kan?

Ayam goreng dan nasi yang dibungkus sebagai oleh-oleh

Hari ini menjadi pengingat besar mengapa aku melakukan perjalanan. Memang, tinggal di rumah dan belajar bahasa itu penting, tapi melangkah keluar dari zona nyaman membuka pintu menuju pertemuan tak terduga dan dunia yang belum pernah kulihat.

Nilai dari sekadar keluar dan menjelajah itu benar-benar tak terhingga.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan