← Cerita
Diary·Malaysia·23 Agustus 2025·2 menit baca

🇲🇾 Meninggalkan Kuala Lumpur: Bersepeda ke Seremban

Bersiap Meninggalkan Kuala Lumpur

19 Desember. Setelah sepuluh hari di Kuala Lumpur, akhirnya tiba waktunya untuk pergi. Sehari sebelumnya, komputerku telah selesai diperbaiki, jadi tak ada lagi yang menghalangi. Aku menyetel sepedaku pada pagi hari, mengencangkan baut-baut terakhir dan memeriksa ban. Kota ini telah menahanku lebih lama dari yang kuduga, dan meskipun menawarkan begitu banyak energi, tinggal terlalu lama membuat sulit untuk melanjutkan perjalanan. Tiga atau empat hari biasanya sudah cukup; sepuluh hari sudah lebih dari cukup.

Saat aku mengayuh keluar, aku merasa lega. "Akhirnya, aku meninggalkan Kuala Lumpur." Jalanan yang sibuk, lalu lintas yang tak berujung, dan tanjakan-turunan yang curam sudah cukup sulit, apalagi dengan sepeda. Tapi mengucapkan selamat tinggal juga membangkitkan sedikit kesedihan. Bahkan kota-kota tersulit pun meninggalkan kenangan.

Pagi Buta di Jalan

Yang mengejutkanku, jalanan sepi. Sekitar pukul tujuh pagi, lalu lintas masih lengang, membuat perjalanan lebih mudah. Satu jam ke arah selatan kota, kebisingan itu memudar lebih jauh lagi. Rasanya seperti aku telah melintasi garis tak kasat mata—di baliknya, perjalanan menjadi lebih mulus, lebih tenang.

Di tengah perjalanan, aku singgah di sebuah kedai pinggir jalan yang diubah dari sebuah van. Aku butuh air. Penjualnya mengisi botol-botolku secara gratis, tersenyum seolah itu adalah hal paling wajar di dunia. Tindakan kecil itu mengingatkanku betapa perjalanan ini bergantung pada kebaikan orang lain.

Makan Bersama Sebuah Keluarga

Menjelang tengah hari, aku singgah lagi di sebuah warung makan. Aku memesan sesuatu yang sederhana—nasi, telur, dan daging domba. Pada hari-hari bersepeda, aku lebih suka tidak mengambil risiko dengan makanan. Sakit perut saat bersepeda adalah salah satu tantangan terburuk di jalan.

Setelah selesai makan, keluarga pemilik warung meminta untuk berfoto bersama. Kata-kata mereka menyentuhku: "Silakan datang lagi dan makan makanan kami." Di warung-warung makan, percakapan sering terasa tulus. Bukan yang dilatih atau mekanis, tapi yang muncul secara alami dari hati.

Kami berfoto, tertawa, dan berpamitan. Kebaikan mereka terus menyertaiku saat aku melanjutkan perjalanan menuju Seremban.

Tiba di Seremban

Jalan dari Kuala Lumpur menuju Seremban hampir sepenuhnya datar, dan itu membuat 72 km terasa lebih mudah dari yang kukhawatirkan. Tubuhku lelah—sudah cukup lama sejak perjalanan jauh terakhirku—tapi rasanya seperti latihan yang baik untuk perjalanan ke depan, terutama dengan Johor Bahru yang masih jauh di ufuk.

Akhirnya, aku tiba di Seremban. Sebuah wajah yang dikenal menyambutku. Aku akan menginap bersama seorang teman malam itu.

Malam yang Hangat

Begitu aku melangkah masuk, aku disambut bukan hanya oleh temanku, tapi juga oleh kucingnya—penasaran, ramah, tuan rumah yang sempurna.

Malam itu, aku duduk menikmati makan malam yang tak kuduga: masakan Jepang. Ikan makarel, acar, dan rasa-rasa yang mengingatkanku pada rumah. Tuan rumahku pernah mengunjungi Jepang sebelumnya dan sangat mencintainya. Bahkan, mereka berencana pindah ke sana dalam beberapa tahun mendatang. Berbagi hidangan semacam itu di Malaysia terasa hampir tak nyata. Rasanya lembut, menenangkan, dan memenuhiku dengan rasa syukur.

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Bagikan