Meninggalkan Langkawi: Perjalanan Penuh Waktu, Kesalahan, dan Rasa Syukur

Salam dari Langkawi, pada 18 November.
Hari ini adalah hari aku akhirnya meninggalkan pulau ini. Kemarin, saat berjalan-jalan dekat hotel, aku menemukan sebuah teras bergaya yang belum pernah kuperhatikan sebelumnya. Aku berjanji pada diriku sendiri akan menggunakannya lain kali aku kembali.
Dengan pikiran itu, aku berangkat menuju feri.
Awal yang Pagi

Keberangkatan feri dijadwalkan sekitar pukul 9:30 pagi, tapi aku meninggalkan hotel pukul 7:30. Ini kebiasaan yang tak bisa kuhilangkan—naluri sebagai orang Jepang untuk selalu datang lebih awal dan bersiap-siap sebelumnya.
Sepuluh menit kemudian, aku sudah tiba di terminal feri. Bersepeda mengelilingi pulau seperti Langkawi memungkinkan ritme yang jauh lebih santai, tapi kali ini, aku harus bergerak cepat. Saat berdiri di dermaga, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa jika suatu hari aku kembali, aku akan memberi diriku lebih banyak waktu untuk menjelajah dengan santai. Itulah satu-satunya cara untuk benar-benar menikmati dan memahami Langkawi.
Loket Tiket

Untuk bepergian ke Alor Setar, tiket harus dibeli di loket berlabel "Kuala Kedah." Paspor diperlukan untuk langkah ini, jadi aku menunjukkan pasporku dan membayar biayanya.
Setelah itu, aku bergerak menuju gerbang keberangkatan feri domestik. Dengan sisa waktu sebelum keberangkatan, aku membuka komputerku dan mulai bekerja. Tapi kemudian aku memperhatikan sesuatu yang mengganggu di kejauhan—sebuah tanda bertuliskan: No Bicycle.
Hatiku mencelos. Apakah ini berarti aku harus membongkar dan mengemas sepedaku ke dalam tas? Aku bergegas memastikan, dan benar, itu memang benar. Naik dengan sepeda mengharuskannya dikemas ke dalam tas bawaan.
Masalahnya? Keberangkatan hanya tinggal 15 menit lagi.
Balapan dengan Waktu
Dalam kepanikan, aku mulai membongkar sepeda dan menyiapkannya untuk diangkut. Tas perjalananku terlalu kecil, sebuah kesalahan yang membuat semuanya makin rumit. Aku menyadari kesalahanku: tas besar yang dulu kupunya, sudah kuberikan kepada seorang pesepeda muda yang kutemui saat perjalanan sepeda pertamaku di Vietnam.
Sungguh kesalahan pemula karena tidak mempersiapkan dengan baik. Meski begitu, aku tak punya pilihan selain beradaptasi. Dalam hitungan menit, aku berhasil menjejalkan sepeda itu ke dalam tas yang terlalu kecil, menahannya dengan tali dan tekad.
Aku begitu terburu-buru sampai kameraku pun tak bisa fokus dengan benar saat aku mencoba memotret. Entah bagaimana, aku berhasil tepat waktu.
Tapi ketika aku akhirnya naik ke feri, aku sadar sebenarnya tak perlu terburu-buru sama sekali—keberangkatan tertunda 20 menit. Kelegaan yang luar biasa.
Kebaikan-Kebaikan Kecil

Saat aku berdiri di sana, berkeringat dan kelelahan, para staf feri memperhatikan perjuanganku. "Itu kelihatan berat," kata salah satu dari mereka, dan mereka maju membantu membawakan barang bawaanku.
Momen-momen seperti ini tak ternilai harganya. Mereka mengingatkanku betapa berartinya kebaikan-kebaikan kecil saat bepergian sendirian. Aku merasa sangat berterima kasih atas bantuan mereka—itu mengubah apa yang bisa saja menjadi pengalaman penuh stres menjadi kenangan tentang kemurahan hati.
Tiba di Alor Setar

Setelah perjalanan feri, aku akhirnya tiba di Alor Setar. Tapi pekerjaanku belum selesai. Sepeda harus dirakit ulang.
Bagian ini selalu menjadi tantangan, tapi juga semacam kebahagiaan tersendiri yang aneh. Berbeda dengan naik pesawat, aku tak perlu khawatir mengempeskan ban atau mengikuti aturan ketat maskapai. Aku hanya fokus memasang kembali bagian-bagiannya, mengencangkan baut, dan memastikan semuanya berfungsi.
Lima belas menit kemudian, sepeda itu sudah berdiri lagi, lengkap. Sepuluh menit lagi, dan tas-tasku sudah dikemas, siap untuk perjalanan.
Dengan menarik napas dalam-dalam, aku berangkat sekali lagi—kali ini menuju jalanan Alor Setar, siap menemukan apa yang akan ditunjukkan kota ini kepadaku.
