← Cerita
Diary·Malaysia·23 Agustus 2025·2 menit baca

🇲🇾 Meninggalkan Jepang: Langkah Pertama Menuju Perjalanan Bersepeda Dunia Tujuh Tahun

Pagi Perpisahan di Jepang

Pada 7 Desember, aku akhirnya meninggalkan Jepang. Sebelum menuju bandara, aku membuka ranselku dan menemukan lauk yang diberikan ayahku sehari sebelumnya. Meski perutku sudah kenyang, aku memakannya sebagai cicipan terakhir rumah sebelum melangkah ke gerbang keberangkatan.

Saat berjalan melewati terminal, pusaran kejadian seminggu terakhir terus terputar berulang-ulang dalam benakku. Begitu banyak kenangan, begitu banyak energi yang terserap dan terkuras. Aku tahu aku tak bisa menyimpan momen-momen itu dalam bentuk paling murninya selamanya, tapi aku ingin membakarnya sedalam mungkin ke dalam ingatanku. Aku tak tahu kapan aku akan kembali lagi. Mungkin dalam beberapa tahun, mungkin baru setelah aku menyelesaikan perjalanan keliling dunia tujuh tahunku. Ketidakpastian itu membuat setiap percakapan, setiap momen di Jepang terasa berharga.

Hambatan Tak Terduga Saat Keberangkatan

Di konter check-in, keadaan tiba-tiba menjadi rumit. Staf memberiku selembar kertas yang menyatakan: "Ada kemungkinan Anda akan ditolak masuk ke Malaysia."

Alasannya sederhana: tanpa bukti perjalanan lanjutan ke negara ketiga, Malaysia bisa menolak masuk. Untuk menghindari tanggung jawab, maskapai mengharuskanku menandatangani surat pernyataan. Bahkan, mereka hampir tidak mengizinkanku naik pesawat tanpa tiket keluar dari Malaysia. Itu menjengkelkan, tapi akhirnya aku membeli tiket bus murah dari Kuala Lumpur ke Singapura—sekitar 1.000 yen—sebagai "tiket sekali buang." Dengan itu, aku akhirnya diizinkan naik pesawat.

Traveling penuh dengan rintangan tak terduga seperti ini. Namun, justru melalui momen-momen inilah kita mengasah kemampuan untuk beradaptasi. Dalam artian tertentu, fleksibilitas ini sama pentingnya dengan perjalanan itu sendiri.

Di Udara

Rute perjalananku sudah ditetapkan: Jepang ke Beijing, lalu lanjut ke Kuala Lumpur dengan China Eastern Airlines. Aku bersyukur makanan disediakan di setiap penerbangan, dan kali ini aku memesan bento babi—sesuatu yang tak akan kutemukan begitu memasuki dunia Muslim.

Tapi penerbangannya sendiri jauh dari tenang. Seorang pria berdiri di lorong selama berjam-jam karena nyeri kaki, anak-anak berlarian bebas, dan pada satu titik seseorang mencondongkan tubuh melewatiku dengan ponselnya untuk memotret pemandangan di luar jendela ketika aku sedang berusaha tidur.

Sebagian diriku kesal—perilaku yang begitu mementingkan diri sendiri itu bisa dengan mudah mengganggu orang lain. Tapi sebagian diriku yang lain tak bisa menahan diri untuk melihat semacam kejujuran mentah di dalamnya. Orang-orang ini hidup tanpa batasan, tanpa beban berat memikirkan pandangan orang lain. Di Jepang, kami sering menahan diri untuk menghindari merepotkan orang-orang di sekitar kami. Melihat orang-orang bertindak dengan begitu bebas, aku merasa tidak nyaman sekaligus, anehnya, iri dengan cara mereka menjalani hidup tanpa hambatan.

Tiba di Malaysia

Beberapa jam kemudian, aku mendarat di Kuala Lumpur. Penerbangan itu membuatku terkuras habis, baik secara mental maupun fisik. Tanpa energi tersisa, aku sekadar mencari tempat di bandara dan beristirahat sampai pagi.

Ini bukan awal yang paling mulus, tapi ini nyata. Dan dalam kelelahan itu, aku mengingatkan diriku: setiap perjalanan dimulai seperti ini—berantakan, tak terduga, tapi penuh pelajaran.

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Bagikan