← Cerita
Diary·Malaysia·25 Juli 2026·2 menit baca

Kejutan yang Menghangatkan Hati di Lawas: Pasar Akhir Pekan, Minuman Misterius, dan Kebaikan Warga Lokal

Awal yang Santai di Lawas

Hari ini tanggal 25 Juli 2026, dan aku sedang menjelajahi Lawas, Sarawak, Malaysia. Aku memutuskan untuk menginap satu malam lagi di sini. Niat awalnya aku mau bangun jam 7 pagi, tapi tubuhku punya rencana lain. Aku baru benar-benar bangun dari tempat tidur jam 9 pagi karena benar-benar kelelahan dan tubuh rasanya hancur. Aku pun pasrah dengan nasib dan memutuskan untuk jalan-jalan menjelajahi kota yang belum pernah kukunjungi ini.

Monumen Taman Payau Lawas dengan patung-patung rusa perunggunya

Gapura hias bertuliskan "I Love Lawas" di atas bundaran

Jajanan Kaki Lima dan Riuhnya Pasar Sabtu

Karena belum makan apa-apa, aku berburu sarapan yang agak telat. Aku menemukan makanan lokal bernama "Pantoran," yang bentuknya mirip sekali dengan bakso.

Menu warung jajanan yang menampilkan Pantolan dan camilan goreng lainnya

Dengan harga hanya 0,5 RM (sekitar $0.11 USD) per buah, aku membeli senilai 4 RM (sekitar $0.90 USD).

Sambil mengunyah makanan, aku menuju Pasar Sabtu. Suasananya hidup dan ramai, dengan pedagang yang menjual mulai dari ikan segar dan sayuran hingga warung makan dan suvenir lokal. Ada banyak warung makan yang menyediakan tempat untuk langsung menyantap belanjaan di tempat.

Lapak-lapak dipenuhi keranjang dan barang dagangan di dalam Pasar Sabtu yang beratap

Menghadapi Minuman Misterius "TEBU"

Karena merasa haus, aku melihat minuman berlabel "TEBU" dan memutuskan untuk mencobanya. Harganya 4 RM (sekitar $0.90 USD).

Botol-botol minuman lokal Air Tebu yang didinginkan di atas es di sebuah lapak pasar

Jujur saja, tampilannya sama sekali tidak menggugah selera. Warnanya keruh, kecoklatan, hampir seperti lumpur. Aku mencicipinya dengan hati-hati, dan rasanya ternyata sangat dalam dan sangat mirip buah pir. Ini jelas bukan minuman yang bisa langsung kutenggak habis; aku hanya sekali seruput lalu harus meletakkannya kembali.

Memegang botol minuman TEBU yang keruh kecoklatan

Di Tepi Sungai

Setelah itu, aku berjalan menuju laut. Bandara ada di dekat situ, jadi aku berhasil memotret momen yang pas dengan pesawat yang sedang terbang tepat di atasku.

Promenade tepi sungai Lawas dengan siluet kota sebagai latar belakang

Malam Penuh Santapan dan Kejutan Indah

Kembali ke penginapan, maraton makan pun berlanjut. Aku menyantap udang goreng yang disebut "Udang,"

Sepotong udang goreng, yang di sini dikenal sebagai Udang

dan hidangan lokal bernama Nasi Katok.

Nasi Katok: nasi dengan lauk ayam goreng dan sambal

Menjelang malam, aku makan Fish Cake, yang memang jadi favoritku, dilanjutkan dengan Nasi Katok lagi. Tapi entah bagaimana, aku masih saja lapar.

Sayap ayam dan fish cake yang mendesis di atas panggangan arang

Akhirnya aku pergi ke sebuah restoran Tionghoa di dekat situ untuk benar-benar memuaskan rasa laparku.

Bir Anchor dan gelas kosong di restoran Tionghoa tersebut

Aku menikmati makanan yang luar biasa, tapi momen paling berkesan justru datang saat waktunya membayar. Pemilik restoran, seorang perempuan Malaysia-Tionghoa, berbicara dalam bahasa Mandarin. Ketika aku mulai berbicara dengannya dalam bahasa Mandarin, dia benar-benar terkejut dan sangat senang. Yang membuatku sangat terkejut, dia bilang makananku gratis sepenuhnya! Merasakan keramahan setulus itu benar-benar menyentuh hati. Ini jadi penutup hari yang sempurna dengan hati yang penuh rasa syukur.

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Bagikan