Selamat Tinggal Brunei, Halo Jalanan
Hari ini (24 Juli) adalah hari aku akhirnya meninggalkan Brunei dan menyeberangi perbatasan menuju Malaysia. Saatnya berpamitan dengan Stoneville Hotel, yang selama dua hari terakhir jadi rumah kecilku yang nyaman.
Belakangan ini aku kesulitan mengatur cara mengemas sepedaku. Bagian belakang sepeda terus mengeluarkan bunyi berisik saat dikendarai. Entah karena jumlah barang bawaan atau soal keseimbangan, aku tidak yakin. Tapi sebelum berangkat hari ini, aku dengan hati-hati menata ulang semuanya.

Setelah perlengkapanku akhirnya aman terikat, aku pun berangkat meninggalkan distrik Temburong!

Pertemuan Tak Terduga
Sekitar dua jam setelah mulai mengayuh, aku mendengar suara klakson beep beep! dari mobil di belakangku.
Aku menoleh ke belakang, dan tiba-tiba saja, ternyata itu seorang pria yang baru saja kutemui dua hari sebelumnya di sebuah festival di Bangar! Dia menawarkan tumpangan, dan aku dengan senang hati menerimanya. Kami mampir dulu ke sebuah kafe untuk mengisi tenaga dengan makanan,

dan setelah itu dia dengan baik hati mengantarku sampai tepat dekat perbatasan.
Makna Sejati dari Sebuah Perjalanan
Karena perjalanan ini seharusnya dilakukan dengan berjalan kaki dan bersepeda, terkadang aku jadi berhenti sejenak dan berpikir ketika mendapati diriku duduk di kursi depan sebuah mobil, "Tunggu, sebenarnya perjalanan macam apa ini?"
Tapi kalau dipikir-pikir lagi soal hidup dan hubungan antarmanusia, aku sadar bahwa dunia ini berjalan karena orang saling membantu. Kita bertahan hidup berkat dukungan orang lain. Kalau aku punya anak atau teman dalam situasi yang sama, aku pasti ingin mereka menerima bantuan yang sama juga.
Berkomunikasi dengan warga lokal dan menerima kebaikan mereka dengan penuh rasa syukur, tanpa diragukan lagi, adalah bagian inti dari perjalanan ini sendiri. Aku sungguh menghargai orang-orang yang meluangkan waktu mereka—bahkan hanya semenit atau dua menit—untuk terhubung denganku.
Sebelum berpisah, aku berjanji pada Amin (sopirku yang keren!) bahwa kami akan bertemu lagi saat Raja Brunei berkunjung lain kali.
Menyeberangi Perbatasan
Menyeberangi perbatasan kali ini berjalan sangat lancar—mungkin yang paling mudah sejauh ini!


Berawal dari Filipina, rute perjalananku sedikit berbelit-belit: dari Brunei ke Malaysia, kembali lagi ke Brunei, dan sekarang ke Malaysia lagi. Rasanya seperti aku akhirnya mencapai satu tonggak pencapaian yang nyata.

Halo Malaysia, dan Tumpangan Lagi!

Hampir segera setelah memasuki Malaysia, sebuah keluarga menepikan mobilnya. "Jalannya berbahaya, ayo naik!" kata mereka padaku.

Mereka sedang menuju pernikahan salah satu kerabat. Meski mereka hanya mengantarku sekitar 4 atau 5 kilometer, interaksi singkat semenit itu sangat berarti bagiku.
Bertahan di Jalanan Malaysia
Dari situ, jaraknya sekitar 20 kilometer lagi menuju tujuanku, Lawas. Dan sungguh, perjalanannya benar-benar berat.
Kondisi jalan di Malaysia benar-benar mengujiku hari ini. Jalannya sangat sempit, jadi setiap kali ada mobil mendekat, aku harus menepi keluar jalan ke rerumputan. Masalahnya? Rumputnya sangat tebal dan lebat. Bergerak maju melewatinya adalah mimpi buruk.
Menepi, terjebak di rumput tebal, mendorong kembali ke jalan, berulang terus. Sangat melelahkan secara fisik.
Akhirnya Sampai di Lawas: Fish Cake Penyelamat
Dengan sisa sekitar 4 kilometer lagi menuju Lawas, aku akhirnya melihat sebuah restoran. Aku hampir-hampir merangkak masuk dan membeli sebotol Coke. Minuman. Terenak. Sepanjang. Masa.
Sambil beristirahat, beberapa pria di restoran itu menawarkan tumpangan untuk sisa perjalanan terakhir menuju Lawas. Sungguh, kebaikan orang asing hari ini luar biasa banget!

Aku akan menginap di Lawas selama dua hari ke depan. Untuk makan malam, aku membeli Fish Cake dan Fish Balls.

Aku sangat merekomendasikan makanan ini—kalau kalian pernah berkunjung ke Lawas, kalian wajib banget mencobanya! Ini jadi penutup yang sempurna dan lezat untuk hari yang gila sekaligus menghangatkan hati.
