Perpisahan di Pagi Hari dan Tuan Rumah yang Luar Biasa
Akhirnya tiba waktunya untuk kembali ke jalan dan meninggalkan Limbang.
Kemarin, aku menginap semalam di sebuah tempat bernama "Mini Smart." Aku bahkan tidak bisa mengungkapkan betapa bersyukurnya aku bertemu orang-orang luar biasa dan berbagi obrolan mendalam selama masa tinggalku yang singkat di sana.
Sebelum berangkat, tuan rumahku dengan baik hati menawarkan untuk mengantarku berkeliling melihat beberapa tempat tradisional setempat. Biasanya, aku memang tipe orang yang keras kepala soal "jalan kaki saja," tapi kalau warga lokal menawarkan untuk menunjukkan dunia mereka, kamu bilang ya dan nikmati perjalanannya! Oh, dan tentu saja, aku harus berpamitan sebentar dengan anak-anak kucing yang baru lahir di rumah itu sebelum kami berangkat. (Suara gemas mulai terdengar).
Arsitektur Unik: Longhouse Tradisional
Setelah perjalanan singkat sekitar 10 menit, kami tiba di sebuah longhouse tradisional.

Arsitekturnya luar biasa! Lantai pertama sepenuhnya kosong, pada dasarnya berupa struktur pilotis yang ditopang tiang-tiang kayu, sementara ruang hunian utamanya sepenuhnya berada di lantai dua. Berbeda dengan longhouse lain yang pernah kulihat, di mana rumah-rumah individu hanya berjajar bersebelahan, yang ini terasa seperti satu ruang hunian besar yang menyatu. Nuansanya benar-benar unik.
Dalam perjalanan menuju tempat berikutnya, aku melihat papan peringatan "Beware of Crocodiles" atau "Hati-Hati Buaya". Yap, peringatan buaya sungguhan. Catatan untuk diri sendiri: jangan macam-macam dengan satwa liar Borneo!

Perkampungan Air yang Luas dan Makanan Lokal Level Dewa
Selanjutnya, kami akhirnya memasuki pusat kota Limbang.

Pikiran pertamaku? "Wah, tempat ini luas banget!" Di seberang sungai, ada perkampungan air tradisional yang luas, dibangun tepat di atas air.

Ini benar-benar membawaku teringat pada rumah-rumah panggung yang pernah kulihat di Visayas, Filipina. Brunei mungkin terkenal karena memiliki perkampungan air terbesar di dunia, tapi melihat permukiman besar seperti ini di Sarawak tetap saja membuatku terpukau.
Untuk makan siang, kami mampir ke sebuah tempat makan lokal di kota. Kami menyantap daging, ekor ayam, dan beberapa jenis ikan.

Sumpah, hidangan ikan yang paling kiri itu levelnya beda banget. Jujur, itu salah satu hidangan ikan jenis itu paling enak yang pernah kumakan seumur hidupku. Enak banget.
Realita Pahit-Manis dari Backpacking
Ketika malam tiba, aku bertemu lagi dengan orang-orang baik yang mengantarku berkeliling tadi. Kami makan malam bersama, mengobrol, dan menikmati suasana yang santai dan tenang.

Tapi di tengah suasana santai itu, aku tiba-tiba tersadar—momen ini sifatnya sementara. Bagian tersulit dari sebuah perjalanan adalah, sedekat apa pun kamu dengan orang-orang, kamu tetap harus berkemas dan pindah ke kota berikutnya. Rasanya kesepian saat harus berpamitan.
Namun, merasakan kesedihan seperti itu justru menjadi bukti bahwa aku benar-benar mengambil langkah untuk melakukan perjalanan ini. Ini bagian dari keindahan sebuah perjalanan. Perasaan ini justru membuatku semakin ingin terus melakukan perjalanan dan menemukan lebih banyak lagi hal yang ditawarkan dunia.
