Langit Mendung dan Awal yang Sempurna
22 Juli. Hari ini adalah hari untuk berkemas, meninggalkan Limbang, dan menyeberangi perbatasan menuju Bangar, Brunei.

Aku menengadah ke langit pagi ini dan terlihat cukup mendung. Kebanyakan orang mungkin akan kecewa, tapi jujur saja? Itu justru kabar baik bagiku. Tanpa terik matahari berarti tidak terlalu panas untuk berjalan kaki. Awal yang sempurna untuk hari perjalanan yang panjang.
Sambutan Tak Terduga: Klub Lari Lokal
Baru sekitar 100 meter berjalan, aku bertemu dengan sebuah klub lari lokal. Sebelum sempat sadar, aku sudah dipanggil-panggil untuk foto bersama di depan monumen bison. Sambutan hangat dari warga lokal banget!

Kebaikan di Setiap Sudut
Beberapa ratus meter kemudian, aku melihat warung teh kecil yang dijalankan oleh seorang bibi dan anaknya. Aku berhenti untuk membeli teh lemon, tapi saat merogoh dompet, aku sadar hanya punya uang pecahan 50 Ringgit Malaysia (sekitar $11 USD)—yang ternyata cukup sulit ditukar di warung kaki lima kecil.

Ketika aku bertanya apakah dia punya uang kembalian, dia hanya tersenyum dan berkata, "Ini gratis, dari kami!" Bukan hanya memberikan tehnya secara cuma-cuma, dia bahkan menambahkan isi ulang untukku. Kemurahan hati orang-orang tidak pernah berhenti membuatku takjub.
Masalah Gerobak dan Bantuan di Pinggir Jalan
Tapi tidak semuanya berjalan mulus. Aku segera sadar bahwa cara aku mengemas gerobak tarik yang kuseret di belakangku benar-benar berantakan. Gerobaknya berisik, tidak seimbang, dan sama sekali tidak mau bekerja sama. Wah, ini bakal jadi hari yang panjang, pikirku dalam hati.
Aku menemukan warung makan kecil lainnya, meminta air, dan mencoba membetulkan gerobak sambil mengobrol dengan para ibu yang bekerja di sana. Kami sempat berfoto bersama dengan seru, dan meski aku berhasil mengikat muatan sedikit lebih baik, gerobaknya masih saja berisik di belakangku.


Tumpangan Menuju Perbatasan
Dengan sisa sekitar 4 kilometer lagi menuju perbatasan Brunei, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di sampingku. Sepasang suami istri paruh baya menurunkan kaca jendela. "Mau tumpangan ke perbatasan?"
Biasanya, aku selalu berusaha berjalan kaki di setiap langkah rute perjalananku, tapi hari ini? Dengan gerobak yang bermasalah, aku menelan gengsiku dan langsung naik. Kami mengobrol seru soal rencanaku yang mungkin akan mengunjungi ibu kota Brunei nanti. Perjalanan dengan berjalan kaki memang menyenangkan, tapi kadang kamu harus mengatakan ya pada semesta (dan AC gratis).

Menyeberang ke Brunei
Begitu saja, paspor aku pun distempel keluar dari Malaysia dan resmi menyeberang ke Brunei!

Saat sedang mengambil napas di sisi Brunei, seorang orang asing lain tiba-tiba datang menghampiri dan memberiku air soda.

Sungguh, kupikir hari ini akan jadi hari yang berat karena masalah gerobakku, tapi kebaikan luar biasa dari semua orang yang kutemui mengubahnya menjadi salah satu hari terbaik sejauh ini.
Akhirnya Sampai Bangar: Pemandangan dan Jajanan Kaki Lima
Akhirnya, aku sampai di Bangar.

Pemandangan di sini benar-benar memukau. Ada nuansa tradisional yang begitu kuat, yang benar-benar menarik hatimu masuk ke dalamnya.
Untuk makan malam, aku mendatangi warung-warung makan lokal. Aku mulai dengan camilan pisang manis,

dilanjutkan dengan fish cake yang luar biasa enak (mirip seperti kamaboko dari Jepang),

dan menutupnya dengan hidangan mi yang lezat. Aku benar-benar lupa nama minya, tapi percayalah, rasanya 10/10.

Aku menghabiskan sisa malam itu mengobrol dengan pemilik warung, mengambil foto, dan belajar tentang daerah setempat serta pertunjukan komunitas mereka. Inilah momen-momen yang membuatku ingin terus melakukan perjalanan.
Aku benar-benar kelelahan, tapi hatiku terasa begitu penuh.
Malam ini, aku memanjakan diri dengan kamar hotel sungguhan. Setelah hari yang panjang dan indah tak terduga seperti ini, rasanya aku pantas mendapatkannya. Saatnya mengisi ulang tenaga dan melihat apa yang dibawa hari esok!