← Cerita
Diary·Brunei·17 Juli 2026·2 menit baca

Hari Brunei Terhenti Sejenak: Salat Jumat & Pertemuan Lokal yang Tak Terlupakan 🇧🇳

Melewati Bentangan Kota demi Menuju Perbatasan

Jalanan kota di Gadong, Brunei, dipenuhi pusat perbelanjaan dan mobil yang terparkir

Hari ini hari pindah. Aku menuju hotel baru yang jauh lebih dekat ke perbatasan.

Kenapa melewati bentangan jalan ini? Jujur saja, pusat kota terasa terlalu urban untuk seleraku. Berjalan kaki sejauh 20 kilometer melintasi lanskap yang sepenuhnya berpusat pada kendaraan bermotor tidak benar-benar mendukung tujuan utamaku: terhubung dengan penduduk lokal. Jadi aku memutuskan untuk melanggar aturanku sendiri, naik kendaraan, dan langsung menuju tempat yang lebih otentik dan lokal.

Aku menggunakan aplikasi bernama Dart—pada dasarnya jawaban Brunei untuk Uber. Kamu masukkan tujuan, lalu langsung muncul tarifnya di muka. Sederhana dan tanpa ribet.

Bertemu Yazdi: Jendela Menuju Kehidupan Lokal

Berpose bersama Yazdi, seorang pengemudi lokal Brunei, di depan sebuah hotel

Pengemudiku, Yazdi, ternyata sosok yang luar biasa.

Dialah orang pertama yang benar-benar kuajak berbincang mendalam sejak aku tiba di Brunei. Dia mendengarkan cerita-cerita perjalananku yang aneh-aneh dengan senyum lebar, dan kehangatannya langsung membuatku merasa nyaman.

Dia menjelaskan seluk-beluk adat lokal—apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, aturan alkohol yang ketat, semua pengetahuan orang dalam yang tidak akan kamu temukan di buku panduan wisata. Lalu, tepat menjelang tengah hari, sesuatu yang tak terduga terjadi. Toko-toko di sekitar kami tiba-tiba mulai menurunkan roller door mereka, satu demi satu.

Tunggu—ada apa ini?

Saat Seluruh Negeri Berhenti untuk Beribadah

Yazdi menjelaskan: dari pukul 12 siang hingga 2 siang setiap hari Jumat, hampir semua hal di Brunei tutup untuk salat Jumat.

Dan yang dia maksud benar-benar semua. Selain situasi darurat hidup-mati di rumah sakit dan operasional penting di bandara, semua bisnis begitu saja menutup pintunya. Iman menjadi prioritas mutlak di atas urusan dagang. Menyaksikan seluruh masyarakat secara serentak menghentikan aktivitas hariannya demi ibadah benar-benar menyentuh.

Aku secara fisik telah menyeberang ke Brunei dua hari lalu. Tapi jujur? Baru hari ini—berbincang dengan Yazdi dan merasakan keheningan penuh khidmat saat salat Jumat—aku merasa benar-benar telah tiba di negeri ini.

Menimbun Perbekalan untuk Perjalanan ke Depan

Setelah check-in di hotel, aku pergi ke supermarket di sebelah untuk menimbun perbekalan.

Makanan selalu menjadi faktor paling tak menentu di jalan, jadi aku membeli banyak oatmeal. Aku juga membeli beberapa tablet vitamin C effervescent—jenis yang dilarutkan ke dalam air. Harus menjaga sistem imun tetap prima!

Mungkin aku akan tinggal di sini satu hari lagi. Ini tempat yang tepat untuk menyiapkan perlengkapanku—dan kepalaku—sepenuhnya sebelum perjalanan sesungguhnya berlanjut.

Bagikan