Ulang Tahun Kerajaan... dan Festival yang Terlewat
Aku bangun sekitar pukul 8 pagi hari ini, 15 Juli. Ini hari besar di sini—ulang tahun Sultan Brunei! Aku dengar ada perayaan besar-besaran di ibu kota, Bandar Seri Begawan, jadi aku sangat bersemangat untuk melihatnya langsung.
Aku berjalan sekitar 4 sampai 5 kilometer, memakan waktu hampir satu jam, hanya untuk sampai dan sadar... tunggu, sudah selesai? Ternyata benar. Perayaannya rupanya dimulai sejak subuh, dan begitu aku tiba, semuanya sudah hampir bubar. Benar-benar kecewa! (tertawa)
Menyusuri Jalan untuk Persiapan Perjalanan Kaki

Karena ini kesempatan pertamaku benar-benar keluar berkeliling di Brunei, aku memutuskan memanfaatkan waktu ini untuk mengecek kondisi jalan demi perjalanan kaki panjangku selanjutnya.
Hasilnya? Jalanannya sudah teraspal dengan baik, tapi hampir tidak ada bahu jalan. Lalu lintasnya cukup padat, tapi untungnya para pengemudi di sini tidak ugal-ugalan seperti di Kuala Lumpur, Malaysia. Aku berencana mulai berjalan kaki secara resmi pada tanggal 18 dan menyeberangi perbatasan Malaysia, jadi mengingat kondisi jalan ini sangat penting.
Pesona Tenang Bandar Seri Begawan

Sambil berjalan-jalan, aku tak bisa tidak memperhatikan betapa rapi dan bersihnya kota ini. Bahkan dengan semua bendera nasional yang berkibar bangga untuk ulang tahun Sultan, tidak ada kesan riuh sama sekali.
Tidak banyak papan reklame besar atau iklan yang mencolok, hanya suasana tenang yang hampir terasa agung. Sebenarnya cukup surreal. Pusat perbelanjaan dan restoran penuh sesak, tapi jalan-jalan dan area bekas lokasi festival terasa benar-benar sepi. Kontras yang menarik.
Melangkah Masuk ke Masjid yang Megah

Selanjutnya, aku mengunjungi Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien. Tempat ini benar-benar besar sekali!
Karena aku memakai kaos dan celana pendek, aku harus mengenakan jubah yang disediakan di pintu masuk. Non-Muslim hanya diperbolehkan masuk sekitar 5 meter saja, tapi bahkan dari jarak itu, suasananya sudah luar biasa membekas. Sangat berbeda dari ketenangan hening sebuah kuil Jepang—ada kekhidmatan yang begitu kuat dan mengagumkan, yang langsung terasa saat kau melangkah masuk.
Kuliner Lokal & Kebahagiaan dalam Perjalanan

Dalam perjalanan kembali, aku baru sadar betapa sedikitnya restoran di sekitar sini. Aku sampai bingung harus makan di mana. Akhirnya, aku menemukan sebuah tempat yang tampak seperti perpaduan antara warung kaki lima dan rumah makan lokal.
Aku sedang ingin makanan yang bergizi, jadi aku memesan seporsi besar nasi, sayur, dan ayam. Totalnya sekitar 3 USD.
Mencicipi hidangan lokal baru dan menyelami budaya yang berbeda memang bagian paling menyenangkan dari traveling. Rasanya seperti mengisi halaman-halaman kosong di peta duniaku sendiri. Hari yang begitu seru dan memuaskan!