← Cerita
Diary·Australia·25 Agustus 2025·2 menit baca

🇦🇺 Dari Mercusuar Portland hingga Malam Badai: Perjalanan di Bawah Bintang-Bintang

Hari yang Dimulai di Mercusuar

Pagi di Portland dimulai dengan aroma kopi yang baru diseduh, menunggu di dapur.

Satu tegukan saja sudah cukup untuk mengusir dingin dari tubuhku. Aku mengucap syukur dan berangkat, melewati kota yang masih terlelap.

Pemberhentian pertamaku adalah mercusuar yang berdiri tegak di tanjung, menghadap ke laut. Menara putih itu telah menyelesaikan tugasnya memandu kapal-kapal sepanjang malam dan kini berdiri tenang, diselimuti cahaya lembut matahari pagi. Dindingnya yang terkikis garam membawa beban sejarah, teksturnya menyiratkan lebih dari satu abad badai dan ketenangan.

Cahaya keemasan berkilauan di atas gelombang, memantul ke atas dan mewarnai mercusuar itu dengan warna-warna lembut.

[Portland|ポートランド] Terletak di barat daya Victoria, Portland adalah permukiman Eropa tertua di negara bagian ini. Dengan sejarah yang berakar pada perburuan paus, kota ini masih aktif dalam industri perikanan dan kelautan. Kawasan sekitarnya menawarkan cagar alam dan titik pandang yang indah, dan pada musim dingin, paus yang bermigrasi sering terlihat di sepanjang pesisir.

Sore yang Diterpa Badai

Dari mercusuar, aku menyusuri jalan pesisir kecil yang sepi. Berbeda dari rute wisata utama, jalur ini membawa kesunyian dan kebebasan yang hanya bisa ditemukan oleh para pelancong. Konon, lumba-lumba dan bahkan paus terkadang muncul di sini.

Namun cuaca berubah tiba-tiba. Awan gelap dan tebal menyebar dengan cepat, disusul hujan deras. Tetesan air dingin menghantam tubuhku tanpa ampun. Berhenti hanya akan membuatku semakin basah, jadi aku terus mengayuh. Pandanganku mengabur, dan jari-jariku mulai kebas.

Lebih dari 10 kilometer aku menembus badai sebelum menemukan tempat berteduh kecil. Aku mengeringkan apa yang bisa kukeringkan, tapi meski sudah memakai penutup hujan, air tetap menemukan jalannya masuk ke dalam perlengkapanku.

Berkemah di Semak Belukar

Aku memutuskan lebih baik tidak memaksakan diri lebih jauh dan mendirikan kemah di sebidang lahan terbuka kecil di tengah semak belukar.

Saat ini, mendirikan tenda sudah menjadi kebiasaan kedua, sebuah keterampilan yang terasah lewat lebih dari seratus kali percobaan di jalan.

Saat malam tiba, angin bertiup semakin kencang, menggetarkan kain tenda dengan suara-suara tajam yang berulang. Setiap embusan mencuri sepotong tidurku, tapi itu masih bisa kutangani. Setelah berbulan-bulan di jalan, cuaca semacam ini terasa seperti "sekadar tantangan lain."

Malam yang Terbungkus Bintang

Menjelang tengah malam, aku mengintip keluar. Badai telah berlalu, dan awan pun telah lenyap.

Di atasku terbentang kanopi bintang yang menakjubkan, begitu jelas hingga terasa seolah alam semesta itu sendiri turun mendekat. Ingatan tentang hujan dingin dan angin yang menusuk memudar di bawah gemerlap langit malam.

Di saat-saat seperti ini, aku teringat kata-kata yang sering kubawa dalam hatiku:

— Semua baik jika berakhir baik.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan