← Cerita
Diary·Australia·25 Agustus 2025·2 menit baca

🇦🇺 Dari Mt. Richmond ke Portland: Paus, Garis Pantai, dan Kehangatan Orang-Orang Asing

Dinginnya Perkemahan di Hutan

Pagi di Victoria tak mengenal ampun.

Tenda yang kudirikan di hutan-hutan Mt. Richmond diselimuti kabut putih dan embusan napas berembun saat fajar. Suhu telah turun di bawah sepuluh derajat, membuat tubuhku kaku seperti es.

Namun demikian, uap yang mengepul dari secangkir kopi panas perlahan melonggarkan pikiran dan tubuhku. Meski dingin, pikiran untuk tiba di Portland hari itu memberiku kekuatan untuk terus melangkah.

Jalan Menuju Portland

Setelah semua barang dikemas, aku berangkat dengan sepedaku. Jalannya ramah, dipenuhi turunan-turunan lembut yang menghapus rasa sakit dari tanjakan tanpa akhir kemarin.

Tak lama kemudian, pemandangan kota Portland muncul di bawah langit kelabu, membawa kelembutan yang aneh.

Dikenal sebagai permukiman Eropa pertama di Victoria, Portland adalah kota pelabuhan kecil dengan sekitar 10.000 penduduk, sejarahnya masih ditandai oleh perburuan paus dan penangkapan ikan. Bagi seorang pengelana, ini adalah tempat di mana aroma laut dan jejak budaya masih membekas kuat di udara.

Burung Putih dan Pertemuan Kebetulan

Saat sedang makan siang, seekor burung putih bersih muncul di hadapanku, matanya tajam dan terpaku pada rotiku. Aku tak bisa menahan tawa sambil menjaga makananku. Bahkan momen kecil seperti itu berubah menjadi kenangan di jalan.

Kemudian, aku mengunjungi museum untuk mengisi waktu sebelum bertemu tuan rumahku pada malam hari. Di pintu masuk, sambil mengobrol dengan staf, sebuah kebetulan luar biasa terungkap:

"Tuan rumah tempatmu menginap malam ini… kurasa itu rekan kerjaku."

Itu adalah salah satu kebetulan mustahil yang hanya bisa terjadi lewat perjalanan. Rasa takjub yang tenang namun kuat menyebar dalam diriku.

Tulang Paus dan Sejarah Samudra

Di dalam museum berdiri kerangka paus yang sangat besar. Ukurannya begitu mengesankan, memaksaku mendongakkan kepala hanya untuk melihatnya secara utuh.

Pameran itu menceritakan kisah era perburuan paus di Portland dan orang-orang yang telah hidup berdampingan dengan lautan.

Bagiku, itu bukan sekadar pengetahuan—itu adalah hubungan yang lebih dalam dengan tanah tempatku berpijak, pengingat bahwa setiap tempat menyimpan lapisan-lapisan sejarah yang belum terceritakan.

Seni di Sepanjang Pesisir

Setelah meninggalkan museum, aku berjalan menuju pesisir.

Di sana, samudra luas terbentang di hadapanku. Deburan ombak, angin asin, permukaan yang berkilauan—semuanya terasa hidup.

Semua itu bagaikan "seni yang hidup," dan yang bisa kulakukan hanyalah berdiri diam dan menyerapnya.

Tidak ada tanda "Dilarang Masuk" di sini. Semuanya bergantung padaku, dan hanya padaku, untuk menghadapi alam secara langsung—dengan kebebasan sekaligus tanggung jawab.

Kehangatan Rumah Tuan Rumah

Malam itu, aku disambut ke dalam rumah tuan rumahku. Senyum cerah anak-anak dan kehangatan makan malam buatan rumah memenuhi ruangan.

Meja itu tersaji dengan hidangan yang penuh ketulusan dan makanan penutup manis untuk mengakhiri santapan.

Betapa pun dinginnya hari itu, kebaikan orang-oranglah yang membuat perjalanan ini mungkin terwujud. Dan sekali lagi, dipeluk oleh kehangatan, satu hari lagi berakhir dengan tenang.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan