← Cerita
Diary·Thailand·22 Agustus 2025·4 menit baca

🇹🇭 Dari Kebaikan Hati hingga Pertemuan Tak Terduga: Hari Seorang Traveler di Bangkok

Pindah ke Guesthouse Baru di Bangkok

14 Oktober. Halo lagi dari Bangkok. Hari ini adalah hari untuk meninggalkan guesthouse tempat aku menginap dan pindah ke guesthouse lain di kota ini.

Aku memulai pagi dengan merapikan kamarku. Aku terkejut, ternyata hanya butuh sekitar sepuluh menit untuk selesai berkemas. Bepergian dengan barang seminimal mungkin punya kelebihannya sendiri—kalau aku membawa lebih banyak barang, aku pasti butuh setidaknya tiga puluh menit. Dengan beberapa barangku yang tertata rapi, aku kembali merasa bersyukur atas kebebasan yang diberikan gaya hidup minimalis.

Kembali ke Long Luck

Sebelum menuju tempat baru, aku singgah di sebuah guesthouse tempat aku pernah menginap sebelumnya. Sekitar sembilan puluh persen barang bawaanku masih tersimpan di sana, aman selama hampir lima hari. Kebaikan hati staf Long Luck menyentuhku begitu dalam. Membiarkanku meninggalkan begitu banyak barang tanpa perlu khawatir—itu lebih dari yang bisa kuminta. Aku diam-diam berkata, terima kasih, Long Luck, sambil membawa tasku pergi.

Mengamati Kota Lewat Kereta

Aku naik kereta dan tiba di Ratchathewi Station hanya dalam sepuluh menit. Aku suka membandingkan desain kereta, struktur stasiun, dan gaya keseluruhannya dengan apa yang kutahu dari negaraku sendiri.

"Mengapa mereka membangunnya seperti ini?" "Apa yang menginspirasi desain ini?" Aku sering mendapati diriku bertanya-tanya seperti itu. Kreativitas sebuah kota terlihat di mana-mana—di jalanan, di bangunan, di papan-papan tanda. Detail-detail ini berubah tergantung pada lingkungan tempat orang-orang dibesarkan. Dengan lebih dari 190 negara di dunia, keragaman ide dan kreativitas ini tak ada habisnya. Inilah salah satu hal yang paling membuatku bersemangat dalam bepergian.

Pertemuan Tak Terduga

Saat aku melangkah keluar dari stasiun, aku mendengar seseorang memanggil, "Hei! Hei!"

Aku terkejut, ternyata dia adalah seorang pelancong asal Korea yang pernah kutemui beberapa bulan lalu di sebuah guesthouse di Shimonoseki, Jepang. Sesaat, aku salah mengira dia mungkin seseorang yang meminta uang, dan aku merasa bersalah karenanya. Tapi kemudian aku mengenalinya—dan aku bersyukur waktu itu sempat mengambil foto bersamanya.

Ia terlihat lebih kurus dari sebelumnya, dan melihatnya di sini, di Bangkok dari sekian banyak tempat, membuatku sadar betapa kecilnya dunia ini. Perjalanan penuh dengan pertemuan tak terduga seperti ini, dan itulah yang membuatnya begitu memesona. Meski aku tidak punya banyak waktu hari itu, kami berjanji untuk bertemu lagi besok.

Melepaskan Barang-Barang Berat

Kembali di guesthouse, aku memilah-milah barangku lagi dan menemukan tenda one-touch lama serta kantong tidur. Keduanya mahal saat kubeli, tapi sudah menjadi terlalu berat untuk terus dibawa.

Dalam sebuah perjalanan, nilai suatu barang bukan terletak pada harganya, melainkan pada seberapa besar ia membantu kita untuk terus melangkah maju. Kedua barang ini, meski dulu berguna, telah berubah menjadi beban. Mereka memperlambatku alih-alih membantuku. Jadi aku memutuskan untuk meninggalkannya.

Melepaskannya terasa membebaskan. Jalan di depan terasa lebih ringan, lebih mudah.

Bersepeda Menembus Bangkok

Staf Long Luck dengan baik hati mengantarku pergi saat aku berangkat menuju guesthouse baru. Aku mengendarai sepedaku menyusuri jalanan kota, dan setelah beberapa saat, aku bisa merasakan lagi ketegangan pada tubuhku. Anehnya, kehadiran truk-truk besar di sampingku terkadang memberiku rasa aman, meski muatannya bergemeretak dengan berbahaya setiap kali mereka berhenti.

Akhirnya, aku mencapai jalan utama yang lebar. Dengan lebih sedikit mobil di sekitar, bersepeda menjadi lancar dan menyegarkan. Saat aku tiba di guesthouse, rasa lega menyelimutiku. Sekali lagi, aku bersyukur mereka mengizinkanku memarkir sepedaku—hal yang begitu sederhana, tapi begitu penting bagi orang sepertiku.

Kafe Penuh Kucing

Tidak lama setelah tiba, aku menuju sebuah kafe terdekat untuk menyelesaikan sedikit pekerjaan. Aku terkejut, ternyata itu adalah kafe kucing. Para pelajar lokal memenuhi ruangan dengan tawa, membuat konsentrasi nyaris mustahil.

Tapi ada hadiah tak terduga—seorang pria Thailand yang pernah kuliah di Jepang dan bisa berbahasa Jepang. Ia menatapku dan berkata, "Kalau kamu butuh apa pun selama di Thailand, beri tahu saja." Satu kalimat itu memberiku rasa nyaman.

Dan tentu saja, kucing-kucingnya menggemaskan.

Makanan, Pasar, dan Jalan-Jalan Malam

Setelah menikmati kebersamaan dengan kucing-kucing itu, aku sadar sedang lapar dan pergi ke sebuah lapak makanan. Menunya ditulis dalam aksara Tionghoa, jadi aku mengira mungkin ini makanan bergaya Tionghoa. Tapi hidangannya sama seperti biasa—makanan jalanan khas Thailand yang sederhana. Nasi dengan lauk-pauk berharga 70 baht (sekitar 313 yen). Porsinya kecil, tapi cukup untuk mengenyangkan.

Kemudian, aku berkeliling pasar terdekat. Aku suka suasana pasar—keberagaman barang yang dijual, sebagian di antaranya begitu tidak biasa hingga membuatmu bertanya-tanya mengapa itu bisa dijual. Pasar memiliki daya tarik yang tak pernah pudar bagiku.

Menjelang malam, sambil berjalan menyusuri jalanan lagi, aku menemukan sebuah restoran seafood. Nasinya disajikan dalam bentuk hati. Aku sudah beberapa kali melihat ini sebelumnya—mungkin ini hal yang umum di sini?

Dengan hidangan ikan mengisi perutku dan energi tempat baru menyelimutiku, hari itu pun berakhir.

Memories of the Road — Thailand

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Thailand

Bagikan