Mencari Sepeda di Bangkok

11 Oktober, salam dari Ekkamai, salah satu distrik sibuk di pusat Bangkok. Misi hari ini sederhana tapi penting: mencari sepeda untuk orang yang baru saja memutuskan bergabung dalam perjalanan ini. Tanpa sepeda yang layak, kami berdua tidak bisa memulai petualangan bersama.
Kami menuju toko olahraga DECATHLON yang sangat besar, terletak sekitar 25 menit berjalan kaki dari Stasiun Thong Lo. Tokonya luar biasa besar—jauh lebih besar dari toko olahraga mana pun yang pernah kubayangkan.
Di dalamnya, semuanya ada. Perlengkapan hiking, alat berkemah, klub golf. Bukan hanya olahraga-olahraga umum saja—ada juga barang-barang untuk bola tangan, panah darts, dan berbagai aktivitas lainnya yang tak terhitung jumlahnya. Keberagamannya saja sudah membuat kewalahan. Tapi fokus kami hari ini adalah sepeda dan perlengkapan yang diperlukan untuk memulai kehidupan di jalan.
Memilih Sepeda yang Tepat

Di bagian sepeda, kami disambut oleh seorang pria berjanggut lebat dengan penampilan liar dan garang. Di Asia Tenggara, di mana rambut wajah tidak selalu umum, ia sangat menonjol. Aku menyesal tidak meminta berfoto dengannya—kehadirannya begitu berkesan, meski aku hanya mengabadikannya dalam ingatan.
Ia dengan baik hati memandu kami melalui berbagai model, menunjukkan fitur masing-masing. Setelah beberapa diskusi, kami memutuskan sebuah sepeda seharga 5.000 baht (sekitar 22.000 yen). Sepeda itu memiliki sistem quick-release, memudahkan pemula melepas roda jika terjadi ban kempes. Bagi seseorang yang baru memulai, keseimbangan antara kesederhanaan dan harga terjangkau itu membuat keputusan menjadi jelas.
Kami juga mengambil beberapa barang lain—perlengkapan berkemah, peralatan, dan kebutuhan kecil lainnya. Ketika semuanya dijumlahkan di kasir, totalnya mengejutkan kami: 19.340 baht, hampir 87.000 yen. Aku tiba-tiba menyadari betapa mahalnya memulai perjalanan bersepeda. Bukan hanya sepedanya saja—melainkan segala hal lain yang membuat perjalanan itu mungkin terwujud.
Kembali Menembus Kemacetan Bangkok
Ketika kami selesai, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 4 sore, puncak kemacetan malam Bangkok. Jalanan kacau, mobil-mobil berdesakan rapat, sepeda motor menyelip ke segala arah. Bagi seseorang yang belum pernah bersepeda di kota besar sebelumnya, ini bisa berbahaya.
Jadi aku memutuskan membawa sepeda baru itu sendiri kembali ke guesthouse, sementara teman perjalananku pulang lewat jalan lain. Rasanya lebih aman dengan cara ini. Perjalanan pertama seharusnya tidak langsung masuk ke tengah badai lalu lintas, sesemangat apa pun kita. Beberapa pelajaran di jalan harus menunggu waktu yang tepat.
Makan Malam di Warung Pinggir Jalan

Kembali di guesthouse, sedikit rasa lapar mendorongku keluar lagi. Tidak jauh dari sana, aku menemukan warung mi—warung yang sama yang pernah kukunjungi sebelumnya.
Keindahan warung ini adalah kebebasan memilih jenis mi yang berbeda setiap kali. Malam ini, aku memilih sesuatu yang baru, dan sekali lagi, sederhana namun lezat. Mangkuk-mangkuk sup kecil ini, dibuat segar dan mengepul di udara malam, membawa kenyamanan yang terasa jauh lebih besar daripada harganya.
Pertemuan yang Tak Terduga
Dalam perjalanan pulang, seseorang menghentikanku dengan sebuah pertanyaan: "Apakah kamu orang Jepang?"
Aku menjawab, dan tak lama kami pun mengobrol. Ia orang Thailand, tapi fasih berbahasa Jepang. Terkejut, aku bertanya bagaimana ia belajar. Jawabannya langsung: "Aku suka anime Jepang." Ia telah mempelajari bahasa itu hanya untuk lebih memahaminya.
Momen-momen seperti ini mengingatkanku akan jembatan-jembatan tak kasat mata yang menghubungkan budaya-budaya. Anime Jepang telah menjangkaunya di Thailand, dan pada gilirannya, itu memberi kami kesamaan untuk mengobrol seperti sahabat lama. Ini juga mengingatkanku akan salah satu kekuatan diamku—kemampuan untuk terhubung dengan orang lain, siapa pun mereka atau dari mana pun mereka berasal.
