← Cerita
Diary·Thailand·22 Agustus 2025·3 menit baca

🇹🇭 Melawan Lemas dan Hujan: Sehari Bersepeda dan Menemukan Hal Baru

Sehari di Antara Kelemahan dan Penemuan

Dari guesthouse tempatku menginap, aku menyambut pagi itu dengan semangat yang tipis. Tubuhku masih terasa berat, dan energiku jauh dari penuh. Namun aku tahu satu hal: jika aku tidak makan sesuatu, aku tidak akan punya kekuatan untuk melanjutkan perjalanan. Jadi, aku memaksakan diri pergi ke supermarket terdekat.

Di dalam, lampu-lampu terang dan rak-rak yang tertata rapi hampir terasa membuat kewalahan. Barang pertama yang teringat kubutuhkan adalah pasta gigi—persediaanku habis. Meletakkannya di keranjang, aku merasakan sedikit kelegaan, seolah aku baru saja menyelesaikan satu masalah hari itu.

Bagian buah-buahan sungguh mencolok mata. Rak-raknya penuh dengan pilihan warna-warni, beberapa familiar, yang lain asing dan baru. Di antaranya ada sesuatu yang tampak seperti telur, tapi kata orang, bagian dalamnya lembut seperti jeli. Aku belum pernah mencobanya sebelumnya. Untuk saat ini, nafsu makanku sedang hilang, tapi aku berjanji pada diri sendiri akan mencicipinya suatu hari nanti.

Kafe yang Tak Terduga

Di luar supermarket berdiri sebuah kafe kecil dengan papan nama yang menarik perhatianku: "MAJIME Café."

Namanya bukan OISHI atau ARIGATO, kata-kata semacam itu yang sering diharapkan orang asing dari tempat-tempat bernuansa Jepang. Sebaliknya, kafe ini membawa kata MAJIME, yang berarti serius atau sungguh-sungguh. Aku menyukai kejujuran di dalamnya. Alih-alih berteriak "enak," tempat ini seperti menyatakan, "kami serius dengan apa yang kami kerjakan." Kebanggaan akan pekerjaan semacam itu membuat tempat ini semakin menarik.

Aku memesan kopi sederhana—hanya 25 baht. Harganya murah, rasanya lembut, dan benar-benar memuaskan. Untuk momen itu, aku merasa terhibur. Aku akan merekomendasikan tempat ini kepada siapa pun yang kebetulan lewat.

Kembali ke Jalan

Sisa hari itu, aku tidak bisa berbuat banyak. Tubuhku menuntut istirahat, dan aku menyerah padanya. Namun keesokan paginya, meski rasa lemas masih tersisa, aku berkemas dan berangkat menuju tujuan baru.

Laut mulai terlihat di sepanjang jalan. Meski tubuhku jauh dari kondisi prima, pemandangan air itu mengangkat semangatku. Bersepeda di samping laut terasa tepat—selalu begitu. Cakrawala yang luas, angin yang segar—semua itu mengingatkanku mengapa aku memilih cara bepergian seperti ini.

Namun, awan di atas lebih gelap dan lebih berat daripada yang kuharapkan. Awan-awan itu tampak gelisah, seolah memperingatkanku tentang apa yang akan datang. Meski begitu, aku terus maju, satu kayuhan demi satu kayuhan, percaya bahwa terus bergerak lurus ke depan akan membawaku ke tempat yang seharusnya kutuju.

Hidangan yang Dibuat dengan Penuh Perhatian

Setelah menempuh beberapa jarak, aku tiba di sebuah warung kecil di pinggir jalan dan berhenti untuk makan. Warung ini berbeda. Biasanya, makanan di tempat semacam ini datang dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Tapi di sini, perempuan yang memasak—mungkin ibu dari keluarga itu—membutuhkan hampir dua puluh menit, menyiapkan setiap detail dengan cermat.

Aku menunggu dengan sabar, dan ketika makanan itu akhirnya datang, semuanya sepadan. Rasanya kaya, menghangatkan, dan penuh perasaan. Aku berpikir dalam hati: inilah artinya menyantap sesuatu yang dibuat dengan penuh perhatian.

Langit Berubah

Ketika aku selesai makan dan melangkah keluar, langit telah berubah. Awan tebal menutupi cakrawala, sebuah peringatan yang diam namun pasti: hujan akan datang.

Aku mengeluarkan kameraku dan memaksakan senyum untuk sebuah foto. Kadang, bahkan dalam keadaan lemah, aku merasa perlu mengabadikan momen itu—untuk membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku ada di sana, masih terus melangkah maju, masih hidup dalam perjalanan ini.

Tiba di Tengah Badai

Menjelang malam, aku akhirnya tiba di guesthouse untuk bermalam. Namun hujan sudah datang lebih dulu dariku. Air turun begitu deras hingga merembes ke dalam bangunan, meninggalkan noda menghitam di sepanjang dinding. Bahkan kamar itu sendiri membawa bekas dari badai.

Aku kelelahan, baik karena demam yang masih tersisa maupun karena perjalanan bersepeda. Namun, di balik semua itu, aku merasa bersyukur. Aku berhasil terus melangkah, membawa diriku melewati satu hari lagi di jalan.

Di dalam kamar, berbaring di atas tempat tidur, aku memberi tepuk tangan pelan untuk diriku sendiri. Meski sakit, meski diterjang badai, aku tetap bergerak maju. Besok, aku berharap kekuatanku akan kembali. Tapi malam ini, aku beristirahat, bersyukur telah sampai sejauh ini.

Memories of the Road — Thailand

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Thailand

Bagikan