Perjalanan Panjang Berakhir, tapi Petualangan Berlanjut
Setelah 27 jam perjalanan dari Jepang ke Ho Chi Minh City, akhirnya aku tiba—atau begitulah yang kukira. Tantangan sesungguhnya baru saja dimulai: merakit sepedaku.
Semua bagasiku ada bersamaku, tumpukan perlengkapan yang mungkin bisa menyaingi barang bawaan atlet Jepang saat pulang dari kompetisi internasional. Meski beratnya luar biasa, total biaya termasuk penerbangan kurang dari 50.000 yen, yang terasa seperti tawaran murah.
Pekerjaan dimulai pukul 2 pagi.
Membongkar dan Merakit Trailer Sepeda

Aku mulai dengan menurunkan semua bagasi, dimulai dari trailer yang kubeli di Amazon dengan harga kurang dari 20.000 yen. Aku sempat khawatir trailer ini akan langsung rusak, tapi ternyata jauh lebih stabil dari dugaanku.
Memasang roda trailer hampir tidak butuh usaha sama sekali—bahkan untuk pemula sepertiku, itu hanya memakan waktu kurang dari lima menit.
Menghadapi Perakitan Sepeda

Selanjutnya adalah sepedanya sendiri—tantangan paling berat. Fakta bahwa semua bagiannya tiba di Ho Chi Minh City dalam kondisi baik saja sudah menjadi alasan untuk benar-benar bersyukur. Aku pernah mendengar kisah wisatawan yang sepedanya tiba dalam keadaan rusak, jadi aku merasa sangat berterima kasih.
Aku mulai dari roda depan, yang terpasang dengan lancar. Sambil bekerja, seorang pejalan kaki yang baik hati memperhatikan bawaanku yang banyak dan menawariku beberapa buah anggur. Setelah hampir 29 jam tanpa istirahat, kebaikan kecil seperti ini terasa sangat menyentuh.
Kemudian giliran roda belakang, yang sering kali menakutkan bagi pemula. Ada sedikit kendala dengan rantainya, tapi dalam waktu sekitar sepuluh menit, perakitannya pun selesai.
Akhirnya, sepedanya siap. Seluruh proses perakitan, termasuk jeda-jeda singkat, memakan waktu sekitar satu jam.
Di jalanan Ho Chi Minh City yang ramai, aku sangat mencolok dengan sepeda dan trailerku. Sekitar satu dari sepuluh orang yang lewat mengambil foto. Pesepeda memang jarang di sini, dan yang membawa trailer jauh lebih jarang lagi.
Perjalanan Pertama Menyusuri Ho Chi Minh City

Kelelahan dan tanpa tidur, aku berhenti sejenak di sebuah kafe untuk minum air putih dan air lemon. Stafnya dengan baik hati menyarankan agar aku membeli dari toko sebelah untuk menghindari harga yang terlalu tinggi, meski minumannya sendiri kurang sesuai dengan seleraku.
Setelah cukup terhidrasi, aku mulai mengayuh sepeda sejauh sekitar 10 kilometer menuju Usagiya Guesthouse, sebuah penginapan bergaya Jepang.
Perjalanan bersepeda pertama di luar negeri ini terasa mendebarkan sekaligus sedikit menegangkan. Jalanan dipenuhi terutama oleh sepeda motor, tapi melihat beberapa pesepeda lain memberikan rasa kebersamaan.
Menjelajah dan Belajar dari Jalanan

Lalu lintasnya sangat membingungkan, dan selama sekitar tiga puluh menit aku kesulitan berbelok ke kiri di tengah kemacetan. Seorang pria lokal yang ramah, yang pernah tinggal di Amerika Serikat atau Kanada, menyadari kesulitanku. Dia membimbingku dan membantu menavigasi lautan sepeda motor itu—sebuah kebaikan yang sangat kuhargai.
Perlahan-lahan, aku mulai terbiasa dengan arus lalu lintas dan akhirnya tiba di penginapan.
