Malam yang Gelisah di Fukuoka

Saat itu pukul 1 pagi pada tanggal 24 Agustus di JAM Hostel, Fukuoka. Aku terlalu bersemangat untuk tidur—hanya sekitar satu jam total. Alasan aku bangun sepagi itu cukup istimewa: Koshiro, sesama pengelana yang menjalankan sebuah guesthouse tempat berkumpulnya para petualang sepertiku, telah menempuh hampir 100 kilometer dengan motornya dari Shimonoseki hanya untuk mengantarku pergi. Dia mengajakku menikmati semangkuk ramen terakhir sebelum aku meninggalkan Jepang. Aku merasa sangat berterima kasih saat kami bertemu dan berkendara bersama menuju Nagahama Ramen.
Ramen Terakhir Sebelum Keberangkatan

Aku ingin menikmati semangkuk terakhir ini—rasa terakhir dari rumah sebelum melangkah menuju hal yang tak diketahui. Bahkan di jam-jam sunyi sebelum fajar, kedai itu penuh energi. Perpaduan staf lokal dan asing bergerak cepat dan lancar, membuat proses pemesanan jadi mudah.
Saat ramen itu tiba, rasanya seperti hadiah kecil setelah penantian. Rasanya ringan dan menenangkan, mudah disantap, namun tetap penuh kehangatan. Setiap suapan mengingatkanku pada tak terhitung hari-hari biasa di Jepang yang diam-diam telah membentuk hidupku. Setelah menghabiskan semangkuk itu, aku merasakan sedikit kesedihan. Ini benar-benar ramen terakhir yang akan kunikmati di tanah airku.
Berangkat Menuju Bandara Fukuoka

Setelah sarapan, aku memuat sepeda dan trailer-ku lalu berangkat menuju bandara. Tiba jauh lebih awal dari yang dibutuhkan terasa melegakan. Aku pernah mendengar bahwa beberapa konter bisa ramai, jadi datang lebih awal tampak bijak. Sekitar pukul 6 pagi, terminal hampir kosong. Langitnya cerah, udaranya segar—hari yang sempurna untuk memulai perjalanan mengelilingi dunia.
Membawa trailer ke lantai dua tampak sulit pada awalnya, tapi lift membuatnya memungkinkan. Membongkar sepeda memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Cukup sederhana. Tantangan berikutnya adalah konter check-in.
Kemudahan Tak Terduga di Konter Check-In

Dengan semua bagasiku siap, aku menghampiri konter dengan perasaan sedikit tegang. Kekhawatiran utamaku adalah berat bagasi. Bagasi yang oversize bisa berujung pada biaya tambahan yang tinggi, tapi di luar dugaan, tidak ada biaya tambahan kali ini. Aku beruntung.
Karena banyaknya bagasiku, aku menempati satu konter selama hampir dua puluh menit. Mungkin stafnya lelah karena usaha itu, atau mungkin memang begitulah caranya semua berjalan. Bagaimanapun, semuanya berjalan lancar.
Tugas terakhir adalah mengambil perangkat Wi-Fi portabel dari Global WiFi. Dalam perjalanan panjang mengelilingi dunia, memiliki internet yang bisa diandalkan bukan sekadar kenyamanan—itu sebuah keharusan. Aku merasa bersyukur mengetahui bahwa dukungan kecil ini akan membuatku tetap terhubung dengan dunia dan orang-orang yang kusayangi.
Perpisahan dan Awal yang Baru

Berpisah dengan Koshiro terasa pahit sekaligus manis. Dia telah berada di sisiku sejak dini hari. Kami berjanji untuk bertemu lagi di sebuah pantai di Brasil, dan aku membawa janji itu sebagai motivasi untuk perjalanan yang akan datang.
Dengan semangat dan rasa keberanian, aku melangkah ke dunia. Setiap kayuhan pedal membawa perasaan kebebasan, rasa ingin tahu, dan tekad yang tenang untuk menjelajahi kehidupan di luar jalan-jalan yang familiar. Ini adalah awal dari sesuatu yang besar.
