← Cerita
Diary·Vietnam·21 Agustus 2025·2 menit baca

Pertemuan yang Membuatku Benar-Benar Bersyukur atas Perjalanan Ini

Kawan Baru di Perjalanan

Pada 28 Agustus, hanya beberapa hari sejak perjalananku dimulai, segalanya berubah. Malam sebelumnya, aku sempat mengobrol dengan sekelompok mahasiswa, berbagi cerita tentang perjalanan bersepeda. Salah satu dari mereka berbisik hampir seperti kepada dirinya sendiri, "Aku juga ingin mencoba bersepeda…"

Aku menjawab santai, "Kalau kamu serius, aku akan memberitahumu di mana harus menemuiku." Di luar dugaan, ia tidak ragu sedikit pun. Ia hanya berkata, "Aku akan datang."

Kukira itu hanya semangat sesaat. Bagaimanapun, membeli sepeda tidak seperti membeli camilan—butuh komitmen. Tapi keesokan harinya, ia benar-benar datang.

Belajar Lewat Perjuangan

Ia sudah memilih sebuah sepeda, dan kini saatnya mempersiapkannya untuk perjalanan. Itu berarti berlatih cara mengemasnya ke dalam tas untuk pesawat. Bagi seorang pemula, ini tantangan sungguhan—setiap bagian terasa rumit, mulai dari memasang rantai hingga memasang roda.

Aku berdiri di sampingnya, menahan keinginan untuk terlalu banyak membantu. Aku ingin ia menemukan iramanya sendiri. Dan ia berhasil—hanya dalam lima menit, ia sudah memasang ban dengan benar. Tekad dan kecepatannya belajar membuatku kagum.

Yang tersisa hanyalah memasukkan sepeda ke dalam tas. Ia berhasil melakukannya dengan mudah. Aku senang telah memberikan tas cadanganku kepadanya—itu bukan sekadar alat; itu menjadi jembatan menuju petualangan barunya.

Yang paling menyentuh hatiku adalah ketika ia menengadah dan berkata, "Kalau aku pulang nanti, aku akan terus bersepeda." Aku bukan seorang profesional, tapi bisa menginspirasi seseorang seperti itu—membuatnya ingin terus melangkah lebih jauh—adalah hadiah yang tak kuduga.

Kegembiraan dalam Penemuan-Penemuan Kecil

Dengan sepeda yang sudah siap, kami berjalan-jalan ke sebuah warung makan hanya semenit jaraknya. Apa yang kami temukan tak terlupakan—hidangan terenak yang pernah kunikmati di Vietnam sejauh ini. Rasanya kaya, suasananya hangat, dan pemiliknya menyambut kami dengan keramahan yang begitu hidup hingga segalanya terasa sempurna selaras pada saat itu.

Kemudian, ia mengambil sepedanya dengan mata yang berbinar penuh semangat. Melihatnya bersepeda untuk pertama kalinya, aku tak bisa menahan senyum. Ia tampak seolah sudah bersepeda bertahun-tahun. Entah kelak ia menjadi pesepeda serius atau tidak, aku berharap kegembiraan ini akan terus menyertainya sebagai gairah seumur hidup.

Momen Penutup Hari Itu

Dalam perjalanan pulang, hujan deras turun, membuat kami basah kuyup sepenuhnya. Sandal kayu tuaku tak bertahan, tapi aku tetap menyimpannya, berharap masih bisa diperbaiki.

Malam itu, aku singgah di sebuah kafe kecil yang dikelola oleh orang-orang Eropa. Ho Chi Minh City dipenuhi tempat-tempat semacam ini—tersembunyi di gang-gang sempit, masing-masing dengan pesonanya sendiri. Aku suka betapa mudahnya melangkah masuk ke sana, betapa mereka menyambut siapa saja.

Itulah hari penuh awal baru, tawa yang dibagikan bersama, dan kesadaran tenang bahwa perjalanan bukan hanya soal jarak tempuh, melainkan tentang ikatan yang tercipta di sepanjang jalan.

Memories of the Road — Vietnam & Cambodia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Vietnam & Cambodia

Bagikan