Perpisahan di Mildurah

Pada tanggal 28 Februari, aku mengucapkan selamat tinggal pada Mildurah, tempat aku menghabiskan dua hari yang tenang. Rumah tempatku menginap dipenuhi lukisan-lukisan unik dan barang-barang yang dipilih dengan cermat, menjadikannya tempat yang hangat dan menginspirasi.
Ketika waktunya tiba untuk pergi, tuan rumahku keluar untuk mengantarku dengan layak. Tindakan sederhana itu berarti sangat banyak—selalu menyentuh hati ketika seseorang menunjukkan bahwa mereka sungguh-sungguh peduli pada perjalananmu.
Menyusuri Garis Pantai

Sejak awal, kayuhan hari itu menyusuri laut. Jalurnya dikelilingi kawasan konservasi pesisir, tempat pepohonan dan lanskap dilindungi. Ini menjadi pengingat lain betapa dalamnya konservasi alam berakar dalam budaya Australia.
Pemandangannya memukau, udara segar dari laut memenuhi paru-paruku di setiap tarikan napas. Tentu saja, bersepeda menyusuri pantai juga berarti melawan angin samping. Anginnya kencang, tapi tidak sampai membuat kewalahan—cukup untuk membuatku merasakan tantangannya.
Jalan-jalan panjang dan lurus dengan laut di satu sisi terasa tak berujung. Meski begitu, jalan-jalan itu memiliki pesonanya sendiri. Australia terus-menerus menampakkan tempat-tempat di mana orang bisa hidup dengan rasa tenang dan berkecukupan. Mungkin itulah sebabnya begitu banyak orang berkata mereka ingin tinggal di sini suatu hari nanti.
Di sepanjang jalan, aku melihat sebuah rambu yang memperingatkan pengendara untuk waspada terhadap bebek yang menyeberang jalan. Detail kecil, tapi membuatku tersenyum—rambu semacam itu jarang ditemukan di Jepang.
Titik Tengah di Tepi Laut

Di titik tengah perjalanan, aku tiba di sebuah kota tepi laut. Angin di sini tidak lagi lembut—melainkan ganas, membawa energi mentah dari lautan.
Yang paling membuatku terkesan adalah bagaimana kota itu sendiri terhubung langsung dengan laut. Jalur air memanjang ke daratan, dipenuhi kapal-kapal pribadi, menunjukkan sisi lain dari gaya hidup masyarakat setempat—yang memadukan kepraktisan dengan kemewahan.
Bahkan di sini, jalur sepeda membentang di sepanjang jalan, menjaga perjalanan tetap lancar dan aman. Tapi semakin jauh aku pergi, semakin kencang pula anginnya.
Patung Kayu Raksasa dan Sebuah Kecelakaan

Tidak lama kemudian, aku menjumpai patung kayu raksasa keduaku—sosok besar yang menghadap ke laut. Untuk melihat wajahnya secara penuh, aku harus turun ke air, yang membuatnya terasa seperti tantangan tersembunyi yang ditinggalkan untuk para musafir.
Tapi kemudian, masalah datang. Hembusan angin tiba-tiba menjatuhkan sepedaku, dan dengan beban berat 60kg, jatuhnya sepeda itu mematahkan salah satu kabel pengisi dayaku. Itu menjadi pengingat yang menjengkelkan bahwa aku perlu mengurangi beban sebelum melanjutkan perjalanan.
Etape Terakhir Menuju Preston Beach

Setelah melewati bagian lain jalan tanah—sebagian mulus, sebagian lagi cukup kasar untuk mengguncangku—akhirnya aku tiba di Preston Beach.
Persis seperti yang pernah diceritakan padaku: sebuah lokasi berkemah gratis di tepi laut. Tanah berpasirnya membuatnya nyaman untuk berbaring, cukup lembut untuk mengistirahatkan punggungku setelah perjalanan panjang.
Anginnya masih kencang, jadi aku merebahkan sepedaku rata di tanah dan mengamankan perlengkapanku sebelum beristirahat. Saat matahari terbenam, keindahan pantai itu menampakkan dirinya. Rasanya seperti cara alam memberi hadiah atas usahaku hari itu.
Dan ketika malam tiba, langit terbuka lebar. Bintang-bintang di atas Australia begitu luas dan tak berujung, sebuah pertunjukan keagungan alam yang memukau.
