Malam yang Gelisah dan Pagi yang Membeku

Sejak sekitar pukul dua pagi, kantuk meninggalkanku begitu saja. Setiap kali aku memejamkan mata, ide-ide baru untuk bukuku berputar tanpa henti di kepalaku. Aku berbaring di sana, tubuh diam namun pikiran berpacu, hingga cahaya samar fajar muncul.
Pukul enam, aku menyerah untuk beristirahat lebih lama dan memaksa diri bangun. Udara di dalam tenda begitu dingin hingga membuat bahuku menegang. Aku menyalakan kompor kecil, merebus air, dan menyiapkan oatmeal serta makanan instan rasa kari. Terakhir, aku menuangkan secangkir teh panas. Saat kehangatannya meresap ke tubuhku yang membeku, aku merasa bersyukur atas hal sesederhana datangnya pagi.
Hadiah Perpisahan Sebelum Melanjutkan Perjalanan

Alan, tetangga kemahku, memanggil, "Minum kopi dulu sebelum berangkat." Aku menerimanya dengan senang hati, menggenggam cangkir yang masih mengepul dengan kedua tangan. Pengelana lain yang tinggal di dalam karavannya mengajakku sarapan bersama. Di atas meja ada roti, telur orak-arik, irisan ham, bahkan kue.
Sebelum aku pergi, mereka menyelipkan sebuah jeruk dan apel ke tanganku. "Untuk di jalan," kata mereka sambil tersenyum. Kebaikan orang-orang asing itu kembali mengisiku dengan kekuatan yang tenang. Saat semua barang selesai kukemas, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Di depan menanti tujuh puluh kilometer tanjakan dan turunan curam menuju Eden—hari yang panjang sedang menunggu.
Melintasi Perbatasan Negara Bagian

Tidak lama setelah memuat trailer dan berangkat, sebuah bukit besar menjulang di hadapanku bagai tembok. Paruku terasa terbakar, dan kakiku terasa berat. Sejak awal aku sudah tahu ini bukan hari yang mudah.
Setelah sepuluh kilometer, aku tiba di perbatasan. Akhirnya, aku memasuki New South Wales. Entah mengapa udaranya terasa berbeda, segar dan baru, dan sejenak dadaku dipenuhi energi. Namun jalan segera berubah menjadi kerikil. Ban meluncur dan sedikit tenggelam setiap kali pedal kukayuh, membuat setiap meter terasa lebih berat dari seharusnya.
Aku berhenti sejenak, menggigit kue yang diberikan kepadaku pagi itu. Manisnya menyebar ke seluruh tubuhku, memulihkan cukup energi untuk melanjutkan perjalanan.
Momen-Momen yang Menggetarkan Hati

Sepuluh kilometer terakhir tidak lain hanyalah perbukitan. Berulang kali, Google Maps menjanjikan "turunan di depan," tetapi setiap turunan selalu diikuti tanjakan lain. Aku menggerutu "pembohong" pelan-pelan, merasa frustrasi pada jalan itu dan kemudian pada diriku sendiri karena mulai tidak sabar.
Tepat saat aku tenggelam dalam suasana hati yang suram itu, seorang follower yang mengenaliku berseru, "Terus semangat, kamu hebat! Hati-hati ada serangga di depan." Semangat dari mereka meringankan hatiku.
Tidak lama kemudian, aku bertemu tiga pesepeda yang menuju Melbourne. Mereka nyaris tidak membawa apa-apa dan berencana menyelesaikan perjalanan hanya dalam enam hari. Kecepatan dan keringanan mereka membangkitkan sedikit rasa iri dalam diriku, tetapi juga mengingatkanku bahwa perjalananku memiliki maknanya sendiri. Trailerku yang berat, tanaman-tanamanku, langkahku yang lebih lambat—semuanya adalah bagian dari jalan yang kupilih sendiri.
Tiba di Eden dan Sebuah Kisah dari Masa Lalu

Menjelang malam, aku memasuki Eden. Kakiku terasa seperti timah, dan tanjakan terakhir hampir saja mematahkan semangatku, tetapi tiba di kota itu membawa kelegaan yang mendalam.
Rumah tuan rumah adalah bekas pabrik tua yang telah dialihfungsikan, dipenuhi aroma kayu dan dinding-dinding yang dipenuhi perkakas. Malam itu, aku diberi tempat aman untuk tidur di dalam sebuah karavan—kenyamanan yang menyenangkan setelah hari yang panjang.
Saat kami duduk bersama, tuan rumahku menceritakan sebuah kisah: tentang Francis Birtles, seorang pria yang pada awal 1900-an bersepeda melintasi Australia di masa ketika mobil nyaris tidak dikenal. Itu adalah tindakan yang nekat, bahkan berbahaya, tetapi juga penuh keberanian dan rasa ingin tahu. Mendengarkannya, aku merasakan percikan semangat dalam diriku. Mungkin aku pun bisa membawa sedikit dari semangat itu ke depan, selalu penasaran, selalu bersedia mencoba, tidak peduli seberapa berat jalan yang harus dilalui.
