Menyeberang ke Malaysia: Babak Baru di Pulau Langkawi

Halo, ini Hiro, yang sedang bersepeda mengelilingi dunia.
16 November dimulai dengan campuran rasa bersemangat dan sedikit kesedihan. Garis belang kulitku akibat sengatan matahari sudah begitu tajam hingga hampir memalukan, tetapi yang lebih dari itu, hari ini menandai berakhirnya masa tinggalku di Thailand dan dimulainya perjalananku di Malaysia.
Perpisahan dengan Thailand

Pergi berarti mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga angkat yang telah kuhabiskan begitu banyak hari berharga bersama mereka. Dari pagi hingga malam, kami berbagi tawa, makanan, dan kehidupan sehari-hari yang sederhana. Momen-momen seperti inilah yang menjadi harta abadi dalam ingatan. Perpisahan ini tidak mudah. Hatiku dipenuhi rasa syukur—atas kehangatan, kemurahan hati, dan rasa kekeluargaan yang mereka berikan kepadaku bahkan jauh dari rumah.
Aku berangkat menuju Teluk Tammalang, tempat aku akan menaiki feri. Jalan dari Satun menuju Tammalang dikelilingi oleh alam yang masih alami. Sambil mengayuh sepedaku, aku menghirup dalam-dalam untuk terakhir kalinya pemandangan hijau Thailand. Hutan bakau membentang di sepanjang air, dan jika diperhatikan dengan saksama, sesekali terlihat kera-kera bergerak di antara dahan-dahan.
Hanya dalam satu jam, aku tiba di terminal feri, tempat Thailand akan resmi melepas kepergianku.
Bersiap untuk Berangkat

Proses meninggalkan sebuah negara selalu datang dengan tugas-tugas kecil. Pertama adalah membeli tiket feri. Kemudian aku mengisi formulir keberangkatan yang diperlukan secara daring, yang memakan waktu sekitar sepuluh menit. Sepedaku diparkir di samping loket imigrasi, menunggu dengan sabar seperti teman perjalanan yang diam.
Berikutnya adalah ritual menghabiskan sisa uang baht Thailand-ku. Aku menemukan kedai smoothie di dekat sana dan memesan satu smoothie Thailand terakhir. Manis, menyegarkan, dan penuh nostalgia. Ketika kuhitung koin yang tersisa di tanganku setelahnya, tersisa sekitar lima belas baht. Entah bagaimana, rasanya pas—seolah aku telah menutup masa di Thailand dengan rapi, tanpa sisa yang terbuang.
Akhirnya, aku menukar yen dengan ringgit Malaysia—senilai sekitar 10.000 yen. Wisatawan yang membawa sepeda ke atas feri diwajibkan membayar 15 ringgit saat tiba, jadi penting untuk bersiap.
Tepat saat itu, muncul wajah yang familier—pria yang kutemui kemarin di museum. Dengan senyuman, ia menyerahkan jeruk mandarin hijau kepadaku. Rasanya sedikit asam, cita rasa yang menyegarkan untuk menandai berakhirnya perjalananku di Thailand. Kami mengobrol sekitar satu jam hingga waktu keberangkatan tiba.
Penyeberangan

Ketika waktunya naik, aku memuat sepedaku ke atas feri, mengamankannya di bagian belakang, lalu mengambil tempat dudukku. Hatiku berat oleh perpisahan, tetapi juga dipenuhi kegembiraan. Thailand, terima kasih—untuk setiap pertemuan, setiap rasa, setiap jalan.
Perjalanan feri memakan waktu sekitar sembilan puluh menit. Saat kami mendekati Langkawi, bendera Malaysia mulai terlihat, cerah dan gagah dengan latar laut. Pada saat itu, aku merasakan debar menginjakkan kaki di negara baru—negara keempat sejak aku memulai perjalanan ini.
Proses imigrasi memakan waktu lebih lama dari yang kuduga, sebagian besar karena tumpukan bawaanku yang menggunung. Namun akhirnya, aku menginjakkan kaki di tanah Malaysia. Babak baru pun dimulai.
Kesan Pertama tentang Langkawi

Karena waktu sudah larut, berkemah tidak memungkinkan malam itu. Aku pun menuju sebuah hotel, memastikan memilih yang memiliki Wi-Fi yang bisa diandalkan. Saat check-in, aku diingatkan akan sesuatu yang sempat kulupakan: di Malaysia, orang asing harus membayar pajak tambahan saat menginap di hotel. Ini pengeluaran kecil, tetapi bagi pelancong jangka panjang, jumlahnya cepat bertambah. Pada akhirnya, aku tahu ini berarti aku akan lebih sering berkemah selama tinggal di sini—sebuah pikiran yang anehnya membuatku bersemangat.
Ketika aku menjelajahi area di sekitarnya, aku langsung merasakan karakter tropis Langkawi. Pulau ini membawa nuansa selatan yang kental—lebat, lembap, dan hidup. Kera ada di mana-mana, lebih umum daripada anjing, melintas cepat di jalanan dan memanjat pepohonan. Hutan bakau membentang tanpa henti, rimbun dan penuh warna. Bersepeda menembus pemandangan seperti itu adalah kegembiraan murni.
Malam di Warung Kaki Lima

Saat malam tiba, aku menemukan deretan warung kaki lima yang belum kusadari sebelumnya. Aroma makanan panggang memenuhi udara. Aku memesan sate ayam, harum asap dan empuk, diikuti dengan hidangan yang belum pernah kulihat sebelumnya—daging sapi berukuran besar yang dibungkus telur. Cita rasanya kaya, berbeda dari Thailand, namun sama-sama memuaskan.
Malam itu, duduk di warung dengan sepiring cita rasa baru, aku menyadari betapa menyenangkannya berada di negara yang sepenuhnya baru. Kegiatan makan yang sederhana pun berubah menjadi petualangan ketika setiap hidangan terasa asing.
Besok, aku harus memutuskan—apakah akan bermalam lagi di sini di Langkawi, atau menuju Alor Setar di daratan utama? Untuk saat ini, kubiarkan pertanyaan itu mengendap, menikmati irama kehidupan pulau di bawah langit malam.
