Keberangkatan Pagi Ditemani Sahabat

26 Desember, Johor Bahru. Hari ini bukan perjalanan solo. Aku ditemani seorang musafir asal Singapura yang kutemui beberapa minggu sebelumnya di Alor Setar, di utara Malaysia. Bersama-sama, kami akan melintasi perbatasan menuju Singapura.
Sebelum berangkat, ia mengusulkan agar kami menikmati sarapan. Kami berjalan menuju sebuah warung kaki lima khas Tionghoa yang ramai, sudah dipadati warga setempat. Aku memilih bahan-bahanku, yang direbus bersama dan disajikan dengan mi. Rasanya pedas, mengenyangkan, dan lezat. Aku menghabiskan semangkuk itu dalam waktu kurang dari lima menit.
Tapi ia belum selesai. "Ada satu tempat lagi yang harus kamu coba," katanya. Tak lama, kami tiba di sebuah toko susu kecil. Pemiliknya menyerahkan sebotol penuh susu segar dan creamy. Rasanya kaya dan lembut—sesuatu yang sudah lama tak kunikmati di pagi hari.
Mengucap Selamat Tinggal pada Malaysia
Dari sana, kami mengayuh menuju perbatasan. Menyeberangi jembatan, aku bisa melihat Singapura tepat di seberang air.
Saat itulah aku tersadar: aku sudah menghabiskan hampir dua bulan di Malaysia. Sebelum tiba, aku tak punya gambaran jelas tentang seperti apa negara ini. Rasanya seperti melangkah ke dalam sesuatu yang tak diketahui. Kini, negara itu penuh dengan kenangan dan wajah-wajah yang takkan pernah kulupakan.
Malaysia adalah negara mayoritas Muslim pertama dalam perjalananku ini. Sebagai pesepeda asal Jepang yang berjenggot, aku sering kali menonjol. Tapi alih-alih dipandang aneh, aku disambut dengan hangat. Kebaikan itulah yang menjadi esensi Malaysia bagiku.
Aku membisikkan terima kasih dalam hati sebelum meninggalkan gerbang imigrasi, berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu hari aku akan kembali.
Pelajaran di Perbatasan
Namun penyeberangan itu tidak berjalan semulus itu. Di pintu masuk Singapura, aku sadar aku lupa mengisi kartu kedatangan daring. Dengan lebih dari seratus sepeda motor mengantre di belakangku, aku tak punya pilihan selain berhenti dan buru-buru mengisi formulir itu.
Butuh sekitar sepuluh menit, dan aku merasa bersalah karena menahan semua orang. Untungnya, tak ada yang marah. Tapi aku tahu ini bisa saja berubah tegang di negara lain, atau dengan orang lain. Pelajarannya jelas: selalu periksa persyaratan imigrasi terlebih dahulu.
Tak lama, prosesnya selesai, dan aku melangkah masuk ke negara kelimaku: Singapura.
Kesan Pertama tentang Singapura

Perbedaannya sangat mencolok. Antrean truk dan mobil yang menunggu masuk ke Malaysia terbentang hampir sepanjang dua kilometer. Namun di atas sepeda, kami melenggang melewati semuanya. Di saat-saat seperti ini, bersepeda terasa tak tertandingi.
Tak lama kami bertemu salah satu temannya, mengenakan kaos dari Tasmania, Australia. Secara alami, aku bertanya apakah ia pernah bersepeda di sana. Ia tersenyum dan menceritakan tentang komunitas bersepeda yang hidup di Tasmania, mendorongku untuk berkunjung ke sana. Karena Australia akan menjadi negara tujuanku setelah Indonesia dalam perjalanan ini, kata-katanya membuatku bersemangat.
Kemudian, kami bersepeda menyusuri bekas jalur kereta api tua, yang kini telah berubah menjadi jalur yang tenang untuk pelari dan pesepeda. Ia memperingatkanku bahwa lalu lintas di Singapura bisa berbahaya bagi pesepeda—para pengemudi jarang memperhatikan sekitarnya. Tapi di sini, jauh dari mobil-mobil, aku bisa bernapas lega.
Kota Bagaikan Taman Hiburan

Tiba di jantung Singapura, aku merasa seolah melangkah ke dalam taman hiburan yang dirancang dengan cermat. Bukan hanya satu gedung atau satu distrik saja—seluruh blok kota membawa suasana yang menyatu, dari kehijauannya hingga cakrawala futuristiknya.
Kemudian muncullah Marina Bay Sands yang terkenal itu. Dari kejauhan, aku melihat Merlion, dikelilingi kerumunan orang yang luar biasa banyaknya. Aku memilih untuk mengaguminya dari jauh, lalu berjalan-jalan di sekitarnya sebelum mengakhiri perjalanan bersepeda hari itu.
Keramahan Tak Terduga

Kejutan belum berakhir. Teman-teman baruku bahkan sudah memesankan penginapan untukku. Tindakan kebaikan sederhana itu membuatku dipenuhi rasa syukur.
Setelah beristirahat sejenak, aku bertemu seorang warga Singapura lain yang pernah kutemui sebelumnya di Alor Setar. Ia mengajakku makan malam di sebuah tempat makan Tionghoa yang direkomendasikan. Hidangan datang silih berganti, hampir terlalu banyak untuk selera makan satu hari. Bir pun disajikan.
Aku belajar sesuatu yang menarik: para perempuan yang menjual bir masing-masing mengenakan seragam dengan nama merek tertentu. Jika pelanggan memesan bir yang tertera di kaos mereka, mereka mendapat komisi kecil—persis seperti beer girl di stadion bisbol Jepang.
Kami pindah ke lokasi kedua, kali ini bergaya izakaya Jepang. Yang mengejutkanku, mereka bahkan menyajikan Premium Malts. Meski sudah kenyang, aku memesan shishamo, menikmati rasa yang familier itu.
Renungan di Penghujung Hari
Satu hari di Singapura sudah cukup untuk merasakan keselarasan uniknya. Berbeda dengan beberapa kota besar lain di mana gedung-gedung pencakar langit terasa menekan, di sini bangunan-bangunannya membentuk lanskap yang menyatu dan bahkan terasa menenangkan.
Tentu saja, satu hari tak pernah cukup untuk benar-benar memahami sebuah kota. Tapi bagi seorang musafir sepertiku, bahkan sekilas karakternya saja sudah berharga. Esok, aku akan memulai babak baru—negara keenam: Indonesia.
