Awal yang Santai

Tanggal 24 Desember dimulai di Kulai. Johor Bahru hanya berjarak sekitar 50 kilometer, jadi aku mengizinkan diriku untuk memulai lebih santai. Aku bangun sekitar pukul 8 pagi, lebih siang dari biasanya, karena tahu aku bisa menjalani hari itu dengan tenang.
Pria yang dengan baik hati mentraktirku makan malam sehari sebelumnya juga mengajakku sarapan. Dia memilihkan hidangan yang ringan bagi tubuh dan penuh nutrisi, sambil berkata, "Kamu akan membutuhkan ini untuk perjalanan nanti." Berbagi sarapan hangat itu memberiku kekuatan yang tenang sebelum berangkat.
Masalah di Jalan

Cuaca sempurna untuk bersepeda—sinar matahari lembut, tidak terlalu panas, dan belum ada tanda-tanda hujan. Aku merasa percaya diri. Namun, setelah hanya sekitar satu jam, aku menemui masalah. Bannya kempes.
Hal seperti ini selalu terjadi pada hari-hari ketika aku berpikir, "Hari ini jaraknya pendek, tidak masalah." Saat aku mulai memperbaikinya, seorang pemuda dengan sepeda motor berhenti dan menghampiri dengan semangat seolah berkata, "Serahkan padaku!"
Dalam hati, aku berasumsi dia nantinya akan meminta uang. Dia mencoba memperbaikinya, tetapi perbaikan itu tidak berhasil. Kemudian dia menyuruhku menunggu dan menghilang.
Tiga puluh menit kemudian, dia kembali—membawa ban dalam baru yang dia beli dari sebuah toko. Ketika aku mencoba membayarnya, dia hanya tersenyum dan berkata, "Ini malam Natal, jadi ini hadiahku untukmu." Lalu dia pergi dengan motornya.
Aku berdiri di sana, terpana dan sangat tersentuh. Aku malu karena sempat meragukannya di awal. Tindakan kebaikan kecil itu akan terus kuingat untuk waktu yang lama.
Kebaikan Lain di Sepanjang Jalan

Pemilik kedai makanan yang mengizinkanku menggunakan tempatnya untuk memperbaiki ban juga menunjukkan kebaikan. Setelah semuanya selesai diperbaiki, dia mengajakku bergabung dalam pertandingan sepak bola nanti sore. Sayangnya, aku sudah punya rencana di malam hari, jadi aku harus menolak, tetapi kehangatannya menambah satu lapis rasa syukur lagi dalam perjalanan ini.
Kembali di jalan, awan semakin gelap, tetapi aku berhasil mencapai Johor Bahru sebelum hujan turun. Rasanya lega bisa menyelesaikan 56 kilometer dengan waktu tersisa.
Menginap dengan Nyaman

Hotel tempat aku check-in kecil, tenang, dan ramah—persis jenis tempat yang membuatku merasa nyaman setelah bersepeda. Staf menyambutku dengan senyuman, dan kamarnya bahkan dilengkapi air purifier, sesuatu yang belum pernah aku lihat di hostel atau guesthouse mana pun sebelumnya. Rasanya hampir mewah.
Malam yang Tak Terlupakan

Menjelang pukul 7 malam, aku berangkat untuk menemui seseorang yang dikenalkan oleh seorang teman yang aku temui di Kamboja. Tempat kami bertemu jauh lebih elegan dari yang aku bayangkan—salah satu restoran yang biasanya disimpan orang-orang untuk momen istimewa.
Dia berkata padaku, "Pesan apa saja yang kamu mau," tetapi karena aku terbiasa berkata "apa saja tidak masalah," aku membiarkan dia yang memilih. Hidangan datang satu demi satu: ayam, sayuran, daging domba, dan anggur. Bagi seseorang yang biasanya makan di kedai pinggir jalan, ini benar-benar sebuah pesta.
Aku tidak pernah membayangkan malam Natalku akan dipenuhi dengan kemurahan hati dan kebahagiaan seperti ini.
