← Cerita
Diary·Thailand·23 Agustus 2025·4 menit baca

🇹🇭 Berkemah di Tepi Laut: Semalam di Taman Nasional Sam Phraya

Perpisahan Pagi di Guesthouse

26 Oktober. Aku melambaikan tangan berpamitan dari ambang pintu guesthouse. Hari ini adalah hari aku akhirnya akan berkemah di dalam taman nasional. Langit cerah, dan diam-diam aku berharap cuacanya akan bertahan. Hatiku berdebar penuh penasaran—seberapa besarkah tenda baru itu setelah didirikan?

Sebelum berangkat, sang pemilik keluar dan mengusulkan agar kami berfoto bersama. Sejak pertama kali kami bertemu, semangat cerianya selaras dengan diriku. Ia membuat seluruh masa menginapku tak terlupakan. "Terima kasih, bro," kataku sambil tersenyum lebar. "Ini adalah guesthouse terbaik."

Seolah tak mau ketinggalan, anjing Labradornya pun berlari kecil ikut mengantar kepergianku. Ekor yang mengibas, mata yang berbinar—itu adalah kegembiraan murni. Anjing punya cara tersendiri untuk membuat perpisahan terasa lebih lembut.

Dengan rasa syukur menghangatkan hatiku, aku berangkat sekali lagi.

Jalan Panjang yang Lurus

Perjalanan hari itu sebagian besar menyusuri Highway 4, garis lurus yang seolah tak berujung. Pemandangannya nyaris tak berubah, dan kemonotonan itu menekan pikiranku. Aku tahu ini salah satu hari di mana kekuatan mental lebih penting daripada fisik.

Tak lama kemudian, aku sadar telah melewatkan sarapan. Perutku keroncongan saat aku berhenti di sebuah warung pinggir jalan. Tepat saat aku hampir selesai, aku melihat pesepeda lain datang. Secara refleks, aku berseru: "Hei!"

Mengejutkan, ia menghampiri dengan senyum. Ia berasal dari Australia, menuju Phuket. Yang paling mengejutkanku adalah perlengkapannya yang minim—ia hanya memakai celana pendek bersepeda berbantalan, tanpa lapisan tambahan apa pun. Sekilas, ia tampak nyaris terlalu terbuka, tapi alasannya jelas: memangkas setiap gram beban yang mungkin.

Aku memahaminya. Sejak tiba di Thailand, aku telah membuang hampir 10 kilogram beban yang tak perlu. Di jalan, bahkan beban terkecil pun terasa berlipat ganda. Setiap barang yang kau buang membuat perjalanan lebih ringan, lebih mudah. Tekadnya mencerminkan diriku sendiri. Setelah bertukar cerita, kami berpisah jalan, sama-sama mengayuh menuju tujuan masing-masing.

Berbelok Menuju Kuil

Saat semakin dekat dengan taman nasional, seseorang di pinggir jalan menyarankan sebuah kuil lokal yang layak dikunjungi. Aku diberi tahu ada sebuah gua tersembunyi di baliknya. Penasaran, aku membelokkan setangku dan mengikuti jalan berkelok menanjak.

Tapi tepat sebelum puncak, aku terpaku. Tujuh atau delapan anjing berdiri menghalangi jalan, tubuh mereka tegang, mata mereka tajam. Gonggongan mereka bergema di antara pepohonan, dan seketika aku tahu: "Kalau aku terus maju, aku akan digigit."

Aku menghela napas dan berbalik. Pertemuan dengan anjing adalah salah satu bagian paling tak terduga dari bersepeda di pedesaan Thailand. Terutama di dekat kuil, tempat anjing-anjing liar sering ditampung, mereka berkumpul dalam kawanan. Tidak hari ini, pikirku. Ada gua-gua yang lebih baik dibiarkan tak terjelajahi.

Beristirahat di Antara Para Biksu

Saat itu, aku telah menempuh hampir 60 kilometer, dan kelelahan mulai menyerang. Kakiku terasa berat, kelopak mataku lebih berat lagi. Ketika aku menyebutkan hal ini pada seseorang di dekat situ, mereka dengan baik hati mengundangku untuk beristirahat di kuil.

Halaman kuil itu bersih sempurna, bersinar di bawah matahari sore. Seorang biksu menawariku air dan bahkan meminjamkanku bantal. Aku berbaring di bawah atap terbuka, dikelilingi keheningan. Selama satu jam, aku tertidur lelap, bagai anak kecil. Terbangun, aku merasakan kekuatan baru kembali ke tubuhku.

Ada sesuatu yang menumbuhkan kerendahan hati saat dirawat oleh orang asing. Kebaikan orang-orang biasa sering kali terasa seperti berkah sejati dari sebuah perjalanan.

Tiba di Taman Nasional Sam Phraya

Dengan sisa sepuluh kilometer, aku terus mengayuh maju. Akhirnya, aku tiba di Taman Nasional Sam Phraya. Pintu masuknya membuka ke hamparan luas pasir putih, ombak yang lembut menyapu pantai. Sebuah lukisan lumba-lumba tergambar di papan tanda di dekat situ—apakah lumba-lumba benar-benar berenang di sini? Misteri itu membuatku tersenyum.

Aku memilih tempat untuk tendaku di mana irama ombak menjadi nina bobo bagiku. Namun, saat mendirikannya, muncul sebuah masalah: tendanya kecil. Kecil sampai bikin geli. Aku nyaris tak bisa merentangkan tubuh di dalamnya. Bahkan seorang anak kecil mungkin akan menyebutnya sempit. Ini akan memerlukan pemikiran ulang yang serius untuk perkemahan-perkemahan berikutnya.

Meski begitu, lokasinya sempurna. Pantai yang tenang, ombak yang stabil—semuanya seperti yang kuharapkan.

Tamu-Tamu Sore Hari

Setelah mendirikan tenda, aku berkeliling taman itu. Aku melihat segerombolan kecil orang sedang berfoto, jadi aku ikut bergabung, meski tak ada yang tampak istimewa. Terkadang, sekadar memperhatikan saja sudah cukup.

Dalam perjalanan kembali, aku bertemu sekawanan monyet. Mereka mengamatiku dengan penasaran tapi tak menunjukkan agresi. Energi bermain mereka, kedekatan mereka dengan manusia tanpa rasa takut—rasanya seperti keseimbangan hidup berdampingan yang rapuh. Aku tersenyum, bersyukur atas pertemuan itu.

Saat malam tiba, aku menyelinap masuk ke tenda. Dan kemudian datanglah kenyataan: kakiku tak bisa terentang sepenuhnya. Ruangnya terlalu sempit untuk berbaring dengan nyaman. Aku tertawa tak percaya tapi juga menghela napas—tenda ini tak akan cocok untuk perjalanan panjang.

Renungan Malam

Malam itu, aku mendengarkan ombak di luar, iramanya stabil, nyanyiannya abadi. Tendanya sempit, punggungku pegal, tapi jiwaku ringan.

Hari itu dipenuhi dengan pertemuan dan perpisahan: seorang pemilik guesthouse yang ceria, seorang pesepeda pemberani, anjing-anjing penjaga kuil, para biksu yang menawarkan kebaikan, monyet-monyet yang berbagi sore hari. Setiap momen menjadi benang dalam kain perjalanan ini.

Bepergian bukan hanya soal tujuan—melainkan soal kebenaran-kebenaran kecil dan manusiawi ini. Rasa syukur, tawa, kelelahan, bahkan frustrasi. Di jalan, semuanya menyatu menjadi sebuah kisah yang layak dikenang.

Memories of the Road — Thailand

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Thailand

Bagikan