Kembali ke Kuala Lumpur
Pada 8 Desember, aku kembali ke Kuala Lumpur, Malaysia. Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, rombongan turis Tionghoa di pesawat membuatku sulit tidur nyenyak, jadi tugas pertamaku adalah mengejar waktu istirahat sebelum menuju hotel hari ini.
Tiba di sini kembali mengingatkanku mengapa bepergian begitu menggairahkan bagiku. Setiap sudut negeri asing dipenuhi momen-momen yang membuatku berpikir: "Apa ini? Bagaimana cara kerjanya? Bagaimana rasanya?" Itu membuatku tetap penasaran dan hidup.
Di Jepang, begitu banyak hal yang bisa ditebak—"rasanya seperti ini," "cara kerjanya seperti itu." Tapi di luar negeri, bahkan sesuatu yang sekecil Dunkin' Donuts membuatku penasaran bagaimana perbandingannya dengan Mister Donut di Jepang. Karena rasa penasaran itu, aku membeli satu. Rasa manisnya lebih kuat dari yang kuduga—penemuan kecil namun menyenangkan.
Bahkan token kereta pun terasa menarik. Kau menempelkannya ke panel saat masuk, dan saat keluar, kau menjatuhkannya ke celah koin untuk bisa keluar. Detail-detail kecil seperti ini mengingatkanku bahwa dunia adalah harta karun pengalaman baru yang tak pernah habis.
Belajar dari Kehidupan Sehari-hari di Negeri Orang
Naik kereta menuju pusat kota, tujuan utamaku adalah memperbaiki laptopku. Laptop itu sudah sepenuhnya berhenti berfungsi selama masa tinggalku di Jepang, dan tanpanya, aku tak bisa melanjutkan pekerjaanku. Di toko reparasi, mereka bilang akan memakan waktu sekitar seminggu.
Itu berarti aku akan tinggal di Kuala Lumpur setidaknya seminggu lagi. Biasanya, aku berusaha tidak tinggal di satu tempat lebih dari empat hari, karena semakin aku merasa betah di suatu tempat, semakin sulit pula mengumpulkan tenaga untuk pergi lagi. Meski begitu, kali ini aku memutuskan untuk melihatnya secara positif.
Bagiku, bepergian bukan hanya soal kecepatan dan jarak. Itu soal mengenal—memahami sebuah tempat, sekalipun hanya sedikit. Dan untuk mengenalnya, aku harus tinggal lebih lama, untuk melihat lebih dari sekadar permukaan. Itulah sebabnya jeda selama seminggu ini terasa seperti bagian penting dari perjalananku, bukan sebuah kemunduran.
Menjelajahi Jalanan Kuala Lumpur
Ketika tiba di hotelku, kudapati tempat itu mungil namun nyaman—persis jenis tempat yang kusukai. Setelah menaruh bagasiku, aku keluar untuk menjelajahi jalanan.
Tidak jauh dari situ ada sebuah KTV terkenal, dikenal karena kehidupan malamnya. Berjalan melewatinya di siang hari memberiku satu kesan, tetapi di malam hari suasananya berubah sepenuhnya. Menjelajahi kedua sisi kota ini—dunia siang yang terang dan dunia malam yang tersembunyi—terasa seperti mengupas lapisan demi lapisan sebuah kisah yang hidup.
Di sisi kanan jalan, dulu ada sebuah kafe yang tampak seperti tempat untuk pertemuan dan perjumpaan santai. Namun karena pandemi, kafe itu sudah tutup. Itu menjadi pengingat yang sunyi betapa rapuh namun terus berubahnya kehidupan sebuah kota.
Rasa Syukur karena Kembali ke Negeri Orang
Setelah berminggu-minggu berada kembali di Jepang, aku kembali berjalan menyusuri jalanan negeri asing. Aku merasa bersyukur atas kesempatan untuk kembali menemui dunia-dunia baru. Setiap kepulangan, setiap kedatangan, bukanlah sesuatu yang bisa kuanggap remeh.
