← Cerita
Diary·Indonesia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇮🇩 Kopi, Percakapan, dan Kebaikan: Satu Hari di Banyuwangi

Pada 14 Februari, di sebuah hostel yang tenang di Banyuwangi, aku bangun pagi-pagi untuk menyelesaikan tulisan blogku.

Sebagian orang bertanya, "Untuk apa repot-repot menulis blog di zaman video seperti ini?" Tapi bagiku, tujuan utama dari perjalanan ini adalah untuk menulis sebuah buku. Menuliskan segala sesuatu, bahkan dalam blog sederhana sekalipun, membantuku menjaga jejak perasaan, perjumpaan, dan momen-momen yang tidak boleh terlupakan. Setelah aku menyelesaikan tulisan-tulisanku yang tertunda, aku berencana untuk mulai mendokumentasikan perjalanan ini dalam bentuk video.

Meninggalkan Hostel, Memasuki Sebuah Rumah

Di kemudian hari itu, aku meninggalkan hostel bersama seseorang yang kutemui beberapa hari sebelumnya. Dengan baik hati, ia mengundangku untuk menginap di rumahnya. Dalam perjalanan, kami berdua punya beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi kami singgah di sebuah kafe. Sambil makan, kami berdua beralih ke "mode kerja," mengetik dan fokus berdampingan selama dua jam.

Setelah pekerjaan itu selesai, kami akhirnya tiba di rumahnya.

Ia telah menyiapkan kamar yang sangat luas dan nyaman untukku. Selain itu, ia memberiku sekitar dua puluh botol air minum dan bahkan membagikan semua camilan yang baru saja ia terima. Sekali lagi, aku diingatkan betapa dalamnya kemurahan hati banyak orang Indonesia. Rasa keramahan mereka bukan sekadar kebaikan—melainkan sebuah pengabdian.

Ajakan Menjelang Malam

Sebelum tidur, tuan rumahku, Devin, tiba-tiba berkata, "Ayo kita pergi ke kafe!" Aku setuju, bersyukur atas kesempatan itu.

Kopi di sana sangat enak—biji Arabika yang kaya rasa. Namun di Indonesia, kopi sering disajikan tanpa saringan, yang berarti jika langsung diminum, ampasnya akan tertinggal di mulut. Triknya adalah menunggu sejenak sebelum menyesap, membiarkan ampasnya mengendap di dasar gelas.

Di kafe itu, aku juga memperhatikan kucing-kucing. Indonesia sepertinya penuh dengan mereka, dan banyak di antaranya ternyata sangat ramah kepada manusia.

Percakapan yang Bermakna

Sambil menyesap kopi, percakapan kami merambat ke mana-mana. Kami berbicara tentang perjalanan, politik, bahasa, imigrasi, bahkan topik berat seperti bunuh diri, hingga hal-hal yang lebih ringan seperti hobi.

Aku kembali tersadar bahwa nilai terbesar dari sebuah perjalanan terletak di sini—dalam percakapan-percakapan yang membuka pintu-pintu pemahaman baru. Momen-momen berbagi cerita dan sudut pandang inilah yang tetap membekas jauh setelah jalanan dan jarak tempuh berlalu.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan