← Cerita
Diary·Cambodia·21 Agustus 2025·2 menit baca

🇰🇭 Menutup Perjalananku di Phnom Penh dengan Tawa dan Gin

Menemukan Perspektif Baru di Jalan

Pada tanggal 6 September di Phnom Penh, aku memutuskan untuk memperpanjang masa tinggalku. Kondisi kesehatanku sedang tidak prima, dan terkadang tubuh meminta kita untuk melambat. Teman seperjalananku, seorang mahasiswa, harus berangkat lebih dulu karena urusan kuliahnya. Di sinilah jalan kami berpisah.

Aku berutang budi padanya lebih dari yang bisa kuungkapkan. Bepergian bersama mengubah caraku memandang apa arti sebuah perjalanan. Sebelumnya, aku percaya bahwa perjalanan adalah sesuatu yang bisa sepenuhnya kunikmati sendirian. Tapi berbagi jalan dengan seseorang mengungkap jenis kegembiraan yang berbeda—tawa di tengah perjuangan kecil, semangat di sepanjang jarak yang panjang, dan percakapan yang membuka pintu-pintu baru dalam pikiranku.

Ia bilang bahwa ia berterima kasih padaku, tapi sejujurnya, aku merasa rasa syukur itu adalah milikku. Berkat dia, aku menyadari bahwa aku ingin terus berbagi perjalanan dengan orang lain.

Mencoba sesuatu sekali sebelum memutuskan itu "bukan untukku" itu penting. Terkadang pengalaman pertama bisa menyapu bersih keraguan dan membangkitkan cara hidup yang baru. Mulai sekarang, aku ingin berpegang pada semangat "coba saja dulu" itu.

Sehari Bekerja di Tengah Perjalanan

Dengan tambahan satu hari di Phnom Penh, aku memutuskan untuk fokus bekerja. Saat bepergian, jika aku tidak menyelesaikan urusan saat itu juga, biasanya semuanya akan menumpuk nanti, dan bebannya hanya akan semakin berat.

Aku menghabiskan sekitar delapan jam bekerja dengan tenang di kamarku. Ada semacam kedamaian dalam mengalihkan fokus ke dalam diri, bahkan ketika dunia di luar sedang ramai dengan kehidupan.

Berbagi Makanan, Berbagi Budaya

Malam itu, seorang teman asal Jepang yang tinggal di Phnom Penh kembali mengajakku keluar. Ia selalu membawaku ke tempat-tempat yang sepertinya hanya diketahui oleh penduduk lokal, dan untuk itu aku merasa bersyukur.

Kali ini, aku menikmati masakan Jepang yang sudah lama tidak kurasakan. Rasanya membawa kenyamanan sekaligus kepuasan, seolah hatiku diingatkan kembali pada rumah.

Setelah makan, ia menyiapkan satu hidangan lagi—tuna yang dibakar di atas api jerami, dengan gaya yang sama seperti yang digunakan di Hirome Market, Kōchi. Aroma asapnya, kehangatan apinya—semuanya begitu khas Jepang, dan menyentuh sudut memori yang dalam dalam diriku.

Sentuhan Keterampilan dan Kebersamaan

Kami kemudian mengunjungi sebuah bar yang dikelola oleh salah satu kenalannya. Di sana, aku mengetahui bahwa bahkan di Kamboja, ada pembuat bir asal Jepang yang meracik bir mereka sendiri. Brewery itu, bernama Flower Nanobrewery, menawarkan berbagai bir yang segar dan mudah diminum.

Orang yang duduk di sampingku bahkan berbagi kacang mete—dengan rasa merica, manis, dan pedas, setiap rasa mengundangku untuk mencicipi yang berikutnya.

Di penghujung malam, aku ditawari gin pemenang penghargaan. Setiap tegukan membawaku perlahan menuju penutup, menandai malam terakhirku di Phnom Penh dengan kedamaian dan kegembiraan yang tenang.

Perjalanan tidak hanya soal pemandangan. Perjalanan juga soal orang-orang, cita rasa, dan kebaikan-kebaikan tak terduga yang menerangi sebuah hari.

Memories of the Road — Vietnam & Cambodia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Vietnam & Cambodia

Bagikan