โ† Cerita
DiaryยทIndonesiaยท15 Agustus 2026ยท2 menit baca

Dari Manado ke Bitung: Menjelajahi Kota Cakalang & Desa Nelayan yang Meriah ๐ŸŸ

Naik Angkutan Umum Menuju Bitung

Aku berangkat dari Manado menuju terminal lokal untuk naik bus ke Bitung! Aku memutuskan untuk sepenuhnya mengandalkan transportasi umum lokal untuk etape perjalanan ini.

Terminal bus lokal di Manado tempat aku naik kendaraan menuju Bitung

  • Bus Antarkota: Menempuh jarak sekitar 24 hingga 25 kilometer, dengan ongkos hanya 20.000 Rupiah (sekitar 200 JPY). Bisa menempuh jarak sejauh itu dengan harga semurah itu sangat membantu.
  • Taksi Bersama (Mikrolet): Bus menurunkanku di lokasi yang agak kurang strategis, sekitar 5 kilometer dari pusat kota, jadi aku naik mikrolet biru yang lewat. Ongkosnya hanya 7.000 Rupiah (sekitar 70 JPY) dan mengantarku dengan selamat ke pusat kota.

Terminal Paal Dua, tempat aku berpindah ke mikrolet

Kota Bitung membentang cukup luas secara horizontal, dan ternyata jauh lebih besar, lebih ramai, dan lebih menarik daripada yang kubayangkan.

Monumen menara jam Kota Bitung yang menyambut para pengunjung

Untuk makan siang, aku pergi ke warung makan tepat di depan hotelku. Aku menikmati waktu mengobrol dengan staf dan warga setempat, meskipun kami sama-sama tidak benar-benar mengerti apa yang satu sama lain katakan!

Makan siang di warung lokal tepat di depan hotelku

Gunung Tangkoko dan Desa Nelayan yang Ramah

Saat berjalan-jalan mengelilingi kota, aku memperhatikan sebuah gunung besar dalam radius 10 kilometer.

Ini adalah Gunung Tangkoko, gunung berapi aktif yang berjarak sekitar 10,3 kilometer. Ini adalah tempat wisata utama di wilayah ini, dan aku ingin sekali mengunjunginya kalau ada waktu.

Kemudian, aku berjalan ke arah timur dan tidak sengaja menemukan sebuah desa nelayan lokal. Aku mengambil beberapa foto dan berinteraksi dengan warga desa. Semua orang sangat ramah, positif, dan benar-benar baik hati.

Gerbang masuk Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung

Kapal-kapal nelayan yang bersandar di pelabuhan Bitung yang ramai

Kota Cakalang dan "Tongkol"

Bitung terkenal sebagai "Kota Cakalang". Kamu bisa melihat monumen tuna dan cakalang tersebar di seluruh penjuru kota.

Di desa nelayan, warga setempat dengan baik hati menunjukkan hasil tangkapan segar hari itu.

Hasil tangkapan Tongkol segar para nelayan yang dikemas dengan es

  • Tongkol: Ikan kecil sejenis tuna/makarel dengan panjang sekitar 40 sentimeter.
  • Kehidupan Lokal: Aku belajar bahwa para nelayan melaut setiap pagi. Tongkol adalah bahan pokok yang sering digunakan dalam masakan rumahan lokal.

Hidangan Laut yang Lezat dan Malam Tanpa Tidur

Untuk makan malam, aku kembali ke warung di depan hotelku untuk menikmati hidangan ikan lokal. Kawasan itu penuh dengan energi, dan ikannya benar-benar luar biasa lezat!

Tampilan ikan segar berwarna-warni di atas es di warung seafood

Ikan bakar yang disajikan di atas daun pisang untuk makan malam

Namun, untuk bisa tidur ternyata cukup menantang. Karena malam itu adalah malam Jumat atau Sabtu, sebuah klub di dekatnya memutar musik dengan sangat keras. Bass-nya begitu kencang sampai kamar hotelku terasa seperti berada di dalam venue konser langsung! Kurasa itu memang bagian dari pengalaman akhir pekan yang otentik dan penuh semangat di Asia Tenggara.

Jalanan pasar malam Bitung yang tetap ramai hingga larut malam

Memories of the Road โ€” Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road โ€” Indonesia

Bagikan