Naik Angkutan Umum Menuju Bitung
Aku berangkat dari Manado menuju terminal lokal untuk naik bus ke Bitung! Aku memutuskan untuk sepenuhnya mengandalkan transportasi umum lokal untuk etape perjalanan ini.

- Bus Antarkota: Menempuh jarak sekitar 24 hingga 25 kilometer, dengan ongkos hanya 20.000 Rupiah (sekitar 200 JPY). Bisa menempuh jarak sejauh itu dengan harga semurah itu sangat membantu.
- Taksi Bersama (Mikrolet): Bus menurunkanku di lokasi yang agak kurang strategis, sekitar 5 kilometer dari pusat kota, jadi aku naik mikrolet biru yang lewat. Ongkosnya hanya 7.000 Rupiah (sekitar 70 JPY) dan mengantarku dengan selamat ke pusat kota.

Kota Bitung membentang cukup luas secara horizontal, dan ternyata jauh lebih besar, lebih ramai, dan lebih menarik daripada yang kubayangkan.

Untuk makan siang, aku pergi ke warung makan tepat di depan hotelku. Aku menikmati waktu mengobrol dengan staf dan warga setempat, meskipun kami sama-sama tidak benar-benar mengerti apa yang satu sama lain katakan!

Gunung Tangkoko dan Desa Nelayan yang Ramah
Saat berjalan-jalan mengelilingi kota, aku memperhatikan sebuah gunung besar dalam radius 10 kilometer.
Ini adalah Gunung Tangkoko, gunung berapi aktif yang berjarak sekitar 10,3 kilometer. Ini adalah tempat wisata utama di wilayah ini, dan aku ingin sekali mengunjunginya kalau ada waktu.
Kemudian, aku berjalan ke arah timur dan tidak sengaja menemukan sebuah desa nelayan lokal. Aku mengambil beberapa foto dan berinteraksi dengan warga desa. Semua orang sangat ramah, positif, dan benar-benar baik hati.


Kota Cakalang dan "Tongkol"
Bitung terkenal sebagai "Kota Cakalang". Kamu bisa melihat monumen tuna dan cakalang tersebar di seluruh penjuru kota.
Di desa nelayan, warga setempat dengan baik hati menunjukkan hasil tangkapan segar hari itu.

- Tongkol: Ikan kecil sejenis tuna/makarel dengan panjang sekitar 40 sentimeter.
- Kehidupan Lokal: Aku belajar bahwa para nelayan melaut setiap pagi. Tongkol adalah bahan pokok yang sering digunakan dalam masakan rumahan lokal.
Hidangan Laut yang Lezat dan Malam Tanpa Tidur
Untuk makan malam, aku kembali ke warung di depan hotelku untuk menikmati hidangan ikan lokal. Kawasan itu penuh dengan energi, dan ikannya benar-benar luar biasa lezat!


Namun, untuk bisa tidur ternyata cukup menantang. Karena malam itu adalah malam Jumat atau Sabtu, sebuah klub di dekatnya memutar musik dengan sangat keras. Bass-nya begitu kencang sampai kamar hotelku terasa seperti berada di dalam venue konser langsung! Kurasa itu memang bagian dari pengalaman akhir pekan yang otentik dan penuh semangat di Asia Tenggara.

